
Pagi cerah, matahari menyinari seluruh kediaman, menghangatkan setiap sudut rumah tersebut. namun tidak pada hati setiap penghuni.
Tok.. tok..
"Mah, boleh Rey masuk." ucap Rey sambil mengetuk pintu kamar mamah nya.
"Iya Rey, masuk aja nak." sahut mamah.
Rey perlahan membuka pintu dan melihat keadaan papah masih sangat lemah.
"Pagi mah, pagi pah. bagaimana keadaan papah." sapa Rey
"Papah baik kok Rey, mungkin hanya lelah saja. maaf ya merepotkan kalian semua." jawab papah
Rey kemudian duduk dekat papah, sementara mamah merapikan sarapan suaminya yang sudah habis.
"Pah, semalam Tiara menelpon dan menanyakan keadaan kita." sambung Rey
"Apa kamu bilang kalau papah sakit."
"Iya pah, dan Tiara sepertinya marah karena kita tidak memberitahu lebih awal."
"Apa Tiara baik-baik disana Rey."
"Tiara baik disana pah, kan ada Nisa juga yang selalu bertemu dengannya dikampus." sambung Rendy yang baru saja masuk bersama Nisa
"Pagi pah." sapa Nisa
__ADS_1
"Pagi nak, kalian sudah mau berangkat." ucap Papah
"Iya pah, hari ini mungkin Nisa akan pulang sedikit terlambat."
"Rendy juga hari ini pulang terlambat karwna harus menyelesaikan urusan yang tertunda kemarin." timpal Rendy
"Pergilah nak, ada mamah dirumah. Lagian kn Rey juga akan pulang siang nanti." kata mamah
"Baiklah, kami berangkat ya pah, mah."
Mereka bertiga pun pamit dan pergi meninggalkan papah dikamarnya. Seperti biasa Rendy akan mengantar Anisa terlebih dahulu. sementara Rey akan berangkat dengan mobilnya sendiri.
Dalam perjalanan, Nisa bertanya pada suaminya
"Mas, kenapa mas bisa yakin kalau Tiara baik-baik aja."
"Iya mas, kamu benar. papah pasti akan semakin terluka mendengar kabar Tiara saat ini.
Rendy sangat tau keadaan Tiara, karena mata-mata yang diutusnya bekerja dengan sangat baik. setiap gerak Tiara tidak lepas dari pengawasannya. bahkan mengenai caffe, ada campur tangan Rendy juga. dan yang pasti tidak ada yang Rendy tutupi dari Istrinya.
Dikampus.
Tiara dan Icha mengikuti pelajaran pagi seperti biasanya. Tiara sedikit tenang sekarang, Icha pun menjadi lega melihat Tiara yang fokus pada pelajaran. Sementara itu, Tiara berfikir harus kuat untuk segalanya. Rencana yang telah Ia buat bahkan sudah separuh jalan harus Ia tuntaskan. Dia harus menjadi pribadi yang kuat, jangan sampai hatinya menjadi lemah.
Disela-sela pelajaran, Tiara sempat berbisik pada Icha.
"Setelah jam kuliah berakhir, bisa kah kita pergi ke caffe sebentar." ucap Tiara
__ADS_1
"Mau ngapain kesana?"
"Mau melihat, sudah sejauh mana pengerjaan caffe nya."
"Baiklah." Icha mengakhiri obrolan mereka.
Di Kediaman.
Tuan Erwin tampak pucat, Ia bersandar pada sandaran tempat tidurnya sambil memandang keluar jendela.
"Apa aku harus melakukannya sekarang." batin papah
"Pah, minun obatnya dulu yah." ucap mamah. papah pun meminum obat yang diberikan mamah. setelah meminum obat, papah kembali terdiam dalam pandangan kosongnya.
"Pah, lagi mikirin apa sih? kenapa paoah melamun terus dari pagi?"
"Papah hanya berfikir, mungkin sudah waktunya paoah mengurus warisan untuk anak-anak kita."
"Tapi pah, apa tidak terlalu cepat."
"Gak mah, papah harus mengurusnya sejak sekarang. selama papah masih sehat mah."
"Yang mana menurut papah baik aja, yang penting papah sembuh dulu yah."
"Minggu depan papah akan memanggil Rendy, Rey, dan juga Tiara. papah harus bertemu mereka dan membicarakan ini semua."
"Apa pah, Tiara??"
__ADS_1