Adikku Bukan Adikku

Adikku Bukan Adikku
Episode 88


__ADS_3

Pagi yang begitu sejuk menenangkan setiap jiwa, namun tidak untuk Rey. sepanjang malam Rey diselimuti perasaan khawatir yang tak bisa Ia jelaskan.


"Rey, sudah bangun belum? kakak bikin sarapan nih, ayo kita makan." suara Anisa dari depan pintu kamwr Rey


"Iya kak, sebentar aku turun." jawab Rey. Rey pun bangkit dari tempat tidurnya.


Beberapa saat Rey sudah rapi dan turun untuk sarapan. Rey berusaha menutupi kegelisahannya agar Anisa tak ikut khawatir.


"Hari ini ke kantor Rey?" tanya Anisa


"Iya kak, ada beberapa kerjaan sedikit. tapi aku kerumah sakit dulu sekalian bawa sarapan untuk papah dan kakak." jawab Rey


"Oh kalau begitu kakak siapkan aja, kamu tinggal bawa yah. daripada mampir-mampir lagi." kata Anisa


"Baiklah. itu lebih baik."


Rey mulai sarapan, sementara Anisa menyiapkan beberapa menu makanan untuk dibawa Rey.


Dirumah Sakit.


"Icha, kenapa masih santai sih? ini sudah jam berapa?" kata Tiara


"Santai dong Tiara, aku dinas sore makanya aku belum siap-siap."

__ADS_1


"Pantas ada niat tidur disini, ternyata dinas sore hehee."


Pintu kamar Tiara terbuka,


"selamat pagi. permisi saya mengantar sarapan untuk pasien." kata petugas


"Oh silahkan mbak, buat aku ada gak ya?" kata Icha


"Icha, ada-ada sih." sahut Tiara.


"Bercanda kali. Terima kasih ya mbak." ucap Icha


Icha pun membantu Tiara untuk sarapan. Icha dengan sabar menunggu Tiara makan hingga selesai kemudian memberikan obat dan merapikan peralatan makan Tiara.


"Iyah, terima kasih ya." jawab Tiara.


Icha pun keluar meninggalkan Tiara dan pergi ke gsrbang rumah sakit untuk bertemu kurir yang mengantar makanannya. bersamaan itu, mobil Rey juga tiba dirumah sakit. Rey melihat Icha, namun mobil Rey tak bisa berhenti disitu karena akan menghalangi jalan.


Rey berusaha memanggil Icha, namun Icha tak mendengar. Icha terus saja berjalan tanpa ragu, sementara itu Ia tak sadar sedang diikuti Rey.


Rey melihat Icha masuk disalah satu ruang rawat.


"Apa itu ruangan Tiara ya?" batin Rey

__ADS_1


"Haii Icha, cepat sekali." sapa Tiara


"Iyah, untuk apa berlama-lama. aku sudah lapar." jawab Icha


"Hehee iya juga yah. ya sudah sarapan gih cepat." katq Tiara. Icha oun membuka bungkusan makanannya kemudian melahapnya. disela-sela makannya Icha menanyakan sesuatu pada Tiara.


"Tiara, aku mau tanya sesuatu deh." kata Icha


"Kamu mau tanya apa?"


"Kenapa kamu mau mendonorkan ginjal kamu untuk nyonya Dewi?" tanya Icha sedikit takut


"Aku sayang banget sama mamah Cha, aku ga bisa lihat mamah seperti itu."


"Tapi Cha, dia orang yang sudah membuatmu jadi yatim piatu." ucap Icha begitu santai


"Icha, aku tau ini keputusan sangat besar. tapi aku sudah pernah kehilangan orang tua. aku gak mau kehilangan untuk kedua kalinya." jelas Tiara sambil matanya berkaca-kaca


"Tiara, kenapa sih kamu punya hati seperti malaikat."


"Cha, aku mohon rahasiakan masalah ini dari siapa pun ya."


"Aku janji Ara, akan menjaga rahasia ini. kamu tenang aja yah." ucap Icha sambil memeluk Tiara.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ternyata Rey mendengar semua percakapan mereka didepan pintu. Rey begitu syok,Ia sudah kehilangan kendali.Ia tak menyangka bahwa nasib benar-benar mempermainkan Tiara.


__ADS_2