
"Apaa!!!! " Rey syok mendengar penjelasan Tiara.
"Kak, aku mohon ini sudah keputusanku."
"tapi Tiara, rumah sakit itu dikembangkan dan disiapkan untukmu. bagaimana bisa??" Rey mulai frustasi
"Kak, aku mohon mengerti demi mamah." Tiara memelas memohon.
Rey terdiam, Ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kenapa Tiara, kenapa kamu memiliki hati yang begitu lembut. bahkan saat kamu kehilangan segalanya karena mamah, kamu masih bisa memikirkan kebahagian mamah." batin Rey
"Kak.. kenapa diam." Tiara membuyarkan lamunan Rey.
"Kakak Tidak akan menghalangimh Tiara, tapi satu syarat." ucap Rey
"Iya kak, Tiara akan sanggupi syarat dari kakak."
"Jangan menghilang lagi, jangan pernah berfikir kalau kamu bisa hidup sendiri." tegas Rey
"Astaga, kanapa harus seperti ini syarat nya." batin Tiara kebingungan
"Tiara.. "
"Eh iya kak. Tiara akan selalu mengabari kakak." Tiara terpaksa menyetujui syarat Rey
__ADS_1
"Bagus. ingat Tiara banyak mata yang mengawasimu mulai sekarang." Rey memperingati
Hari-hari berlalu, Kini Tiara sudah praktek dirumah sakit. dan tentu saja Tiara mendapat tugas praktek dirumah sakit yang akan menjadi miliknya, sudah pasti ini diatur oleh Anisa.
"Hai Icha, bagaimana?" sapa Tiara saat bertemu Icha disalah satu koridor rumah sakit.
"Yaah menyenangkan, sayang kita beda ruangan." jawab Icha sedikit lesu.
"Icha, kita kan dirumah sakit yang sama. kita masuh bisa makan siang bersama."
"Iyah. lagipula aku beruntung, bisa dinas dirumah sakit megah ini."
"Icha, kamu bisa aja sih."
Sore Hari,
Seluruh keluarga Pratama sedang berkumpul diruang keluarga bersama Rendy junior. sangat hangat keluarga tersebut. namum tiba-tiba,
"Begitu bahagia nya keluarga kita karena anak nya kak Rendy, andai Tiara juga ada disini." celetuk Rey membuat semua terdiam.
"Tiara, Tiara, dan Tiara. anak itu sudah jauh dari kehidupan kita, bisa kah kita hidup tanpa bayang-bayang Tiara." ucap mamah dengan nada tinggi.
"Mah, apa salahnya jika mereka merindukan Tiara." balas papah.
"Mah, mau sampai kapan mamah hidup dengan rasa dendam mamah ke Tiara." ucap Nisa berusaha meredam amarah mamah.
__ADS_1
"Apa yang kamu tau, kamu menantu dirumah ini Nisa." mamah mulai hilang kendali lagi
"MAMAAAHH." teriak Rendy
"Hem. Lihat dirimu Ren, sekarang bahkan kamu sudah berani bentak mamah." sahut mamah
"Cukup mah, Rey ga suka mamah bersikap begitu ke kak Nisa. lagipula kak Nisa sudah bersama kita begitu lama mah." Rey coba menengahi
"Aah sudahlah, mamah sudah muak. kalian semua sama aja." kemudian mamah hendak berlalu meninggalkan anggota keluarga nya, tapu tiba-tiba saja.
"Aduuhhh...!!" rintih mamah sambil memegang perutnya.
"MAMAH...!!" teriak mereka bersama. Rey lebih dulu mencapai mamah dan menopang tubuh mamah.
"Mamah kenapa? mah bertahan." Rey coba membawa mamah ke kamar diikati papah, sementara itu Rendy segera menghubungi dokter dan memberi isyarat pada Nisa agar membawa anak mereka ke kamar.
"Aduh pah, sakit sekali." rintih mamah
"Sabar ya mah, Rendy sedang memanggil dokter." bujuk papah
"Ga kuat pah, ini sangat sakit." suara mamah bergetar dan wajah mamah kini sangat pucat dan berkeringat.
"Pah, Rendy sudah memanggil dokter. sebentar lagi dokter akan datang."
"Mah bertahan sebentar lagi ya, dokter akan segera datang." ucap papah
__ADS_1