
"TIARRAAAAA..!!!" Rey teriak kencang sekali.seketika tubuhnya terbangun. Dey menarik napas dan mengusap wajahnya,
"Astaga, tadi aku cuma mimpi? tapi kenapa rasanya seperti nyata." batin Rey
Saat tengah menenangkan diri tiba-tiba ponsel Rey berdering.
"Halo kak, ada apa?" sapa Rey yang ternyata Rendy yang telpon.
"Rey, Kakak hanya mau memberitahu kalau kita sudah dapat donor ginjal untuk mamah."
"Benar kah?"
"Iya, tapi kata dokter kita perlu lihat kondisi mamah selama dua atau tiga hari.apakah tubuh mamah siap melakukan pendonoran ini atau tidak?" jelas Rendy
"Semoga semua baik kak."
"Iyah, Kakak juga berharap seperti itu. Oh iya tolong lihat keadaan Anisa yah, jaga mereka selama kamu dirumah."
"Iya kak, baiklah." Rey mengakhiri sambungan telpon.
Rey merasa sedikit lega mendengar kabar dari kakaknya, namun Ia belum bisa melupakan mimpi nya.
"Aku harus mencari Icha. Aku yakin Icha pasti tau sesuatu." batin Rey
Icha melihat sekitar memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia masuk disalah satu ruang rawat secara diam-diam.
"Tiara, maaf aku sedikit terlambat kemari. bagaimana keadaanmu?" kata Icha.
__ADS_1
"Aku yang harusnya minta maaf karena merepotkanmu terus." jawab Tiara
"Malam ini aku akan tidur disini menemani mu."
"Gak usah, nanti kamu lelah."
"Aku sudah menyiapkan keperluanku kok, jadi besok gak repot lagi."
"Terima kasih ya Cha."
"Iyah. lagipula orang tua aku tau keadaanmu sekarang. mereka memintaku untuk gak meninggalkanmu."
Sebenarnya Icha sedikit kesal dengan sahabatnya. Namun Ia juga tak bisa melakukan apapun.
-Flash Back-
"Tiara, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Dok, kepala saya sedikit sakit. dan kaki saya... "
"Tiara, saya jelaskan sedikit yah. kepala mu sakit karena kena benturan keras. sementara kakimu, patah dibagian paha dan pergelangan. sementara kamu harus istirahat total yah."
Tiara mengingat kejadian dimana Ia dikejar Rey kemudian terjatuh ditangga umum.
"Dokter, boleh saya minta tolong?" ucap Tiara dengab lemah
"Katakan nak, apa yang bisa saya lakukan."
__ADS_1
"Dokter, saya ingin pindah dari ruangan ini segera. tapi saya ingin jangan sampai keluarga pratama tau dimana saya."
Dokter terdiam sesaat. Ia berfikir ada apa dengan Tiara, padahal saat dia krisis anak-anak Pratama yang setia didepan UDG. namun akhirnya dokter menyetujui permintaan Tiara.
"Baiklah, saya akan suruh seseorang menyiapkan kamar untukmu."
"masih ada satu lagi dok."
"Apa itu Tiara?" sedikit ragu namun dokter berusaha tenang.
"Bisa kah dokter cek ginjal saya, saya dengan nyonya Pratama membutuhkan donor Ginjal."
"Tiara, kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?"
"Iya dok, saya sudah memikirkan segalanya." ucap Tiara penuh keyakinan
Dokter hanya bisa pasrah, dan menerima permintaan Tiara.
"Kamu sudah gila Tiara?" tiba-tiba suara Icha memecah ketegangan.
"Aku ga akan pernah setuju Tiara, ga akan aku biarkan. doktet jangan lakukan apapun." Icha begitu panik dan marah atas aoa yang sahabatnya putuskan.
"Icha, tolong tenanglah. aku mohon." Toara ciba menenangkan sahabatnya.
"Saya akan meninggalkan kalian berdua bicara. sementara itu saya akan siapkan kamar untuk Tiara." kata Dokter kemudian berlalu.
Icha masih dalam keadaan marah, Ia tak mengerti mengapa sahabatnya begitu mudahnya memutuskan hal sebesar itu. Ia sangat marah namun Ia tak bisa mencegah Tiara. Icha merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi sahabatnya.
__ADS_1