Adikku Bukan Adikku

Adikku Bukan Adikku
Episode 89


__ADS_3

Rey berjalan dengan lunglai, seolah dia kehilangan selera hidup. kemudian Ia tersadar dan segera mengusap wajahnya, Ia berfikir harus menemukan cara untuk mengatasi ini.


Rey segera keruangan mamah. Setelah itu Ia akan memikirkan japan keluar nya.


"Pagi semua. ini Aku bawakan sarapan yang dibuatkan kak Nisa." kata Rey menyapa


"Pagi nak, terima kasih ya." jawab papah, Rey hanya tersenyum. Namun bukan Rehan nama nya jika tak bisa membaca situasi. Rehan sadar ada yang Rey disembunyikan.


"Pah, Rey gak bisa lama-lama, Emh.. Rey harus ke kantor segera." kata Rey


"Pergilah. kerja yang baik yah."


"Rey pelan-pelan aja yah. semua pasti akan baik." kata Rehan dengan tatapan penuh arti. dan Rey sadar bahwa kalimat itu mengarah pada sesuatu, dan paham arah kalimat itu.


Rey mengangguk tanda mengerti. Yah Rey mengerti bahwa Rehan tau kegelisahan yang Ia rasakan. Rey pun pergi meninggalkan semuanya. namun Rey bukan pergi dari rumah sakit melainkan pergi keruang dokter yang menangani Tiara.


Belum sampai Rey diruangan dokter tersebut, Rey sudah melihat dokter dikoridor rumah sakit.


"Permisi.. selamat pagi dokter." sapa Rey


"Iyah pagi. Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya dokter itu dengan ramah.

__ADS_1


"Iya dokter saya ingin bicara penting dengan anda." ucap Rey sedikit ragu


"Baiklah, kita bicara diruangan saya saja.


"Boleh dok, mari.!"


"Mari, silahkan." ajak dokter. dan mereka pun bersama jalan keruang dokter tersebut.


Jujur saja, Rey mash bingung dengan tujuannya menemui dokter tersebut, namun Ia merasa bisa menemukan solusi untuk kegelisahannya.


Mereka sudah sampai diruangan dokter tersebut. dan dokter langsung mempersilahkan Rey untuk masuk.


"Silahkan duduk tuan." kata dokter


"Jadi tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya dokter


"Jadi begini dok, saya tidak akan basa basi. saya tau ini tidak baik dan maaf jika saya lancang kepada dokter." kata Rey


"Iya tuan, ada apa? coba katakan mungkin saya bisa membantu.


"ini masalah Tiara dokter." mendadak nada Rey menjadi tegas.

__ADS_1


"Tiara? maksud an...


"Saya yakin dokter mengerti apa yang saya coba bicarakan." kata Rey memotong kalimat dokter.


"Mohon maaf tuan, itu diluar kuasa saya.dan maaf ini sudah waktunya saya berkunjung ke pasien saya." ucap dokter. kemudian dokter mengambil beberapa alat dan pergi. saat hendak membuka pintu tiba-tiba saya Rey menahan pintu itu.


"Masalahnya hal yang dokter sembunyikan itu membahayakan adik saya." kata Rey penuh penekanan membuat dokter tersebut terkejut.


"Tiara itu adik saya dok, dan dia akan mendonorkan ginjalnya ke mamah. apa tidak ada cara lain dok?" seketika air mata Rey menetes.


Dokter menyerah dan menghela napas,


"Satu-satu nya cara anda harus mencari pendonor lain. mengingat kondiri ibu anda semakin menurun." dojter kemudian berlalu meninggalkan Rey.


Rey semakin frustasi, Ia benar-benar merasa gagal menjadi kakak untuk Tiara. Ia bahkan tidak bisa mencegah Tiara melakukan hal itu. Ia bungung harus melakukan apa, antara mamah dan Tiara. membuat Rey putus asa.


Rehan yang sudah menyelesaikan sarapannya mendadak teringat Rey. Rehan coba menghubungi resepsionis kantor


"Ia selamat pagi, sayaau menanyakan apakah tuan Rey sudah sampai dikantor?


"Oh baiklah kalau begitu. terima kasih."

__ADS_1


Rehan yakin ada yang tidak beres.


__ADS_2