
Waktu menunjukkan jam makan siang, Tiara begitu ingin tahu keadaan nyonya Dewi. namun Ia ragu apakah dia bisa menjenguk nyonya Dewi.
Ponsel Rey berbunyi, ternyata Sarah yang menelpon. Rey memutuskan untuk keluar ruangan agar tidak menganggu istirahat papah yang sedang tertidur.
"Halo Sarah, ada apa?"
"Maaf pak, apakah hari ini bapak tidak bisa kekantor. karena hari ini jadwal pertemuan anda demgan klien yang sudah kami tunda terus pak?" ucap Sarah
"Astaga Iyah, maaf ya aku sampai lupa. begini saja, tunggu sebentar karena kak Rendy hari ini akan ke kantor."
"Baik pak, maaf menganggu dan salam untuk nyonya semoga lekas sembuh."
"Terima kasih ya Sarah."
Rey mematikan ponselnya dan kembali keruangan. Saat mendekati pintu ruangan langkah Rey tiba-tiba terhenti karena Ia melihat seseorang didepan pintu ruangan Mamah. Rey terus memperhatikan hingga Ia yakin siapa orang itu, Akhirnya..
"TIARAA... "
__ADS_1
Seketika Tiara menoleh dan melihat Rey berjalan kearahnya. Tiara coba menghindar dengan pergi dari secepat mungkin, Rey pun terus mengejar Tiara. Tiara begitu takut untuk bertemu dengan Rey. sambil berlari Tiara terus menegok kebelakang untuk memastikan Ia sudah pergi jauh dari jangkauan Rey.
"AAAAKKHHHHHHH........!!" Gedubraakkkkkk Tiara terjun begitu saja ditangga dua tingkat
"TIARAAAAAA.....!!! " rey berlari sekencang-kecangnya menuruni tangga. Rey merasa sudah hancur hidupnya karena Ia mendapati Tiara sudar terkapar dengan darah bercucuran dikepalanya.
Beberapa pengujung rumah sakit sudah mengerumuni Tiara, saat itu pun ada Icha yang melintas disana katena ingin mencari Tiara.
"Astaga Tiara...!!!" Icha teriak histeris melihat sahabatnya sudah tak berdaya lagi.
"Perawat.. segera bawa dokter Tiara ke UGD." Icha panik dan begitu frustasi. kemudian Ia melihat Rey yang sudah menangis.
"Kenapa belum ada yang membawa Tiara, apa yang kalian lihat? " Icha marah tak karuan sangking paniknya.
Kemudian tanoa berfikir panjang, Rey menghindari Icha dan segera mengangkat Tiara.
"Katakan dimana UGD nya Cha?" ucap Rey sambil menggendong Tiara
__ADS_1
Icha tak mampu berucap lagi, Ia memberi isyarat agar Rey mengikutinya. sampai di UGD, Icha langaung memberitahu dokter senior dan mereka dengan sigap menangani Tiara. Rey diminta keluar oleh Icha namun Rey ingin tetap ingin didalam sampai Icha hatus kehilangan kendali.
"SUDAH CUKUP HIDUP TIARA MENDERITA, JADI TOLONG ANDA KELUAR AGAR KAMI BISA MENYELAMATKAN NYAWA TIARA." bentak Icha yang membuat Rey terkejut bahkan seketika Rey langsung manggut.
Rey merasa hancur mengingat kondisi Tiara. sementara itu Icha bersama dokter berusaha menangani Tiara. Icha yang begitu sayang pada Tiara sampai menitihkan airmata sambil membersihkan darah diwajah Tiara.
"Aku mohon Tiara buka matamu, aku mohon Tiara. jangan tinggalkan aku seperti ini."
Orang-orang yang mwndengar rintihan Tiara menjadi iba dan ikut berkaca-kaca, ditambah lagi mereka mengenal Tiara anak yang cerdas dan santun.
"Icha, tenanglah. kita sama-sama berjuang untuk Tiara." ucap dokter senior
"Terima kasih dok." jawab Tiara sambil menyeka airmata nya. Akhirnya mereka menyupayakan yang terbaik untuk Tiara.
Rey yang menunggu diluar begitu khawatir hingga tak bisa berfikir dengan baik. Ia coba menghubungi Rendy yang sedang di kantor.
Rendy yang baru saja selesai bertemu dengan klien tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat itu Rey
__ADS_1
"Yah, ada apa Rey?"
"Kak... "