Adikku Bukan Adikku

Adikku Bukan Adikku
Episode 51


__ADS_3

Tiara dan Icha akhirnya pergi menelusuri setiap sudut kota sambil sesekali mencicipi jajanan pinggir jalan. Mereka benar-benar menikmati waktu libur mereka, Icha yang semula tak semangat menjadi seorang yang paling semangat.


"Kalau aja aku punya pabrik makanan, pasti aku makan enak terus." celetuk Icha


Tiara yang mendengar pun tersenyum sambil menatap Icha, dan Icha yang menyadari itu menjadi bingung.


"Heh Tiara, kenapa senyum -senyum begitu?"


"Icha, kamu tau ga? barusan kamu kasih aku ode yang bagus banget."


"Apaan? " Icha semakin bingung


"Mau mau buka usaha caffe." tutur Tiara sambil menaikkan alisnya


"Serius kami mau buka caffe?"


"Iyah. tapi aku harus tempat yang bagus dan ramai."

__ADS_1


"Kenapa ga coba buka dekat kampus aja Tiara."


"Disana kan sudah ada caffe, masa aku juga buka caffe disana."


"Aduh Tiara, banyak kok caffe yang berdampingan."


"Tapi mau dimana Icha, aku mulai lemah rasanya. daritadi kita ga menemukan tempat bagus."


"Lebih baik sekarang kita pulang dulu, ini mulai sore kita harus persiapkan untuk kuliah besok kan.


Tiara mengehla nafas panjang dan menyetujui saran Icha. mereka pun menelusuri jalan kota untuk pulang. karena dekat dengan kampus mereka memutuskan untuk berjalan kaki sambil berbincang. Namun langkah Tiara terhenti saat melintas dicaffe tempat biasa Ia dan Icha menghabiskan waktu sore dekat kampus.


"Ada apa Tiara, kenapa? "


"Itu Icha coba kamu perhatikan baik-baik."


Icha pun memperhatikan arah yang ditunjukkan Tiara, dan saat memahami apa yang Tiara tunjuk mata Icha langsung membulat tak percaya.

__ADS_1


"Astaga Tiara, itu tulisan DIJUAL. serius caffe itu mau dijual." ucap Icha dengan senang sekaligus tak menyangka


"Ya ampun Icha, tuhan sudah membantu kita."


"Ya sudah tunggu apalagi, catat nomor ponselnya."


Akhirnya Tiara dan Icha mendekati pintu caffe itu dan mencatat nomor yang tertera dipapan iklan tersebut. setelah itu mereka kembali ke asrama dan membersihkan diri mereka. Tiara merasa sangat senang karena lelahnya hari ini membuahkan hasil, Ia benar-benar lega dan berharap Ia bisa membeli caffe tersebut.


Tapi satu hal yang tak terduga oleh Tiara, bahwa setiap gerakannya telah diawasi seseorang.


Kini Tiara sudah bersiap untuk istirahat dan bersiap untuk belajar esok hari. Tiara benar-bernar merasa damai malam ini, entah mengapa.


Berbeda di Kediaman.


Rey yang uring-uringan sejak pagi karena tidak bertemu Tiara, hanya berbaring dan memainkan ponsel nya tanpa tujuan jelas.


"Kenapa kamu tidak pulang Tiara, aku merindukanmu." batin Rey. Ia termenung dalam lamunannya hingga Ia tersadar apa yang Ia fikirkan.

__ADS_1


Rey memutuskan untuk tidur dan berusaha menepis dan melupakan perasaan juga hatinya. Rey sungguh tau itu perasaan yang salah, Dia berusaha menepis sekuat yang dia bisa meskipun sangat sulit.


Papah yang begitu tenang, sebenarnya Ia menyimpan kerinduan yang dalam kepada Tiara. Ia merasa waktu sangat singkat, Ia berfikir bagqimqnq jika Tiara memutuskan untuk pergi, bagaimana dirinya hidup tanpa Tiara. Papah merada Cinta dan kasih sayangnya pada Tiara bukan hanya sekedar tanggung jawab lagi melainkan Cinta kepada putri satu-satu nya keluarga nya. Bahkan mamah pun begitu mencintai Tiara, mendambakan putri seperti Tiara. hanya saja fikiran mamah yang selalu dihantui dengan pernyataan yang Ia buat sendiri bahwa Tiara anak hasil perselingkuhan.


__ADS_2