
Dengan antusian Rey membuka pintu
"Tiara....!!!" teriak Rey membuat Tiara dan Icha terkejut.
Seketika Rey menghampiri Tiara dan memeluknya.
"aku senang kamu sudah sadar Tiara." ucap Rey memeluk Tiara
"Bagaimana keadaanmu Tiara?" sapa Rendy juga mendekati Tiara.
"Aku merasa baik kak, semua baik-baik aja." ucap manis Tiara
"syukurlah, kami benar-benar tidak tenang melihat kondisimu beberapa hari ini Tiara." timpal Rendy
"Maaf ya kak, Tiara juga gak tau mau begini." ucap Tiara sendu.
Rendy pun mendekati dan memeluk adik kecil nya, Ia tau tulus nya hati Tiara namun Ia menyesali pemikiran Tiara yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk mamah.
"Oh iya kak, tadi dokter bilang jika sampai malam kondisi Tiara stabil, besok Tiara sudah bisa pulang." ungkap Icha
"Benar kah? syukurlah kalau begitu."
"Tiara jg ingin cepat pulang, sudah lama sekali Tiara meninggalkan caffe."
"Apa...!! kakak minta jangan kerja berat ya, kamu masih perlu istirahat yang banyak." tegas Rendy
"Iya Tiara, kamu jangan macam-macam ya. kondisi kamu masih belum pulih sepenuhnya." timpal Rey
__ADS_1
"Iya kak, Aku pasti jaga diri"
Waktu berlalu, dan Tiara pun diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Ditemani Rey, Tiara pun pulang.
Rey mengantar Tiara menuju caffe yang dimana itu juga merupakan tempat tinggal Tiara. Icha sangat bahagia bahwa Tiara sudah bisa pulang.
Tiara sadar bahwa ia tak bisa tanpa keluarga Pratama. Sekuat dia berusaha menghindari maka semakin dekat pula hubungan mereka. Tiara mulai menyerah dengan misi nya sendiri.
Icha yang sejak awal memperhatikan keluarga Pratama pun meyakini, bahwa takdir memang menginginkan Tiara berada ditengah keluarga tersebut.
"aku mohon Tiara jangan lakukan ini lagi." batin Rey
Hari berganti hari, kini Tiara sudah merasa lebih baik meski harus dibantu kursi roda. Rendy dan Rey bergantian mengunjungi Tiara dan memastikan adik mereka tidak mengalami kesulitan.
"Tiara, ini kesekian kalinya aku memintamu. kembali lah kerumah, kami tidak tenang membiarkanmu disini." ucap Rey. tidak ada jawaban dari Tiara, Rey pun tidak bicara lagi.
Rendy sedang melakukan perjalanan bisnis, sementara Rey pergi mengunjungi Tiara.
"Pah, Rey tidak kelihatan sejak pagi." sapa mamah menghampiri papah diruang tv.
"Rey pergi mengunjungi Tiara mah." jawab papah santai
"Astaga lagi-lagi Tiara. aku sudah muak dengan semua ini." batin mamah. dan hal itu sangat disadari papah namun memilih untuk diam.
mereka tidak menyadari bahwa menantunya memperhatikan dari lantai atas.
"Ya tuhan, kapan semua ini akan berakhir." batin Nisa.
__ADS_1
Hari ini Tiara memutuskan untuk pergi ke kampus, mengingat Ia tidak mengikuti pelajaran dan praktek dirumah sakit pun tidak dapat ia selesaikan.
"Tiara, bagaimana keadaanmu?" tanya beberapa mahasiswa menyapa Tiara.
"Aku baik, terima kasih ya."
"Kamu yakin mau ikut mata kuliah hari ini?"
"Iya.. mohon bantuannya ya."
"Tenang Tiara.. kami bersamamu."
"Baiklah, aku keruang dosen dulu." pamit Tiara, Icha pun membawa Tiara pergi.
dalam perjalanan menuju ruang dosen. Tiara merasa tidak enak hati mengingat Icha selalu bersamanya bahkan dalam urusan kamar mandi sekalipun.
"Icha, maafkan aku ya sudah sangat menyusahkanmu."
"Ngomong apa sih Ra, sudahlah aku gak masalah kok."
"Terima kasih ya selalu bersamaku."
"Sudah jangan bicara begitu, aku bisa besar kepala ini."
mereka pun tertawa bersama.
"Tiara, begitu banyak bantuanmu padaku dimasalalu, dan peran keluargamu hingga aku bisa dikampus ini." batin Icha.
__ADS_1