
Sarah masih tampak kesal. namun Tomy bersikap seolah semua berlaku sewajarnya.
"Rumah kamu yang itu kan." ucap Tomy sambil menunjuk rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas dan bersih.
"Iya pak, ini rumah saya. terima kasih ya pak sudah repot-repot antar saya sampai dirumah." jawab Sarah
Namun Tomy tak menjawab perkataan Sarah. Ia begitu fokus melihat kondisi rumah Sarah.
"Serius Sarah tinggal dirumah ini? Apa rumah ini aman dan nyaman untuk Sarah dan ibunya." batin Tomy
"Pak.. Pak Tomy." panggil Sarah sedikit keras sambil memukul bahu Tomy
"Aah iya, ada apa?"
"Harusnyabsaya yang tanya ada apa bapak melamum?" timpal Sarah
"Oh gak kok. Ya sudah turun gih, atau kamu mau ikut saya." goda Tomy
"Iya.. iyaah saya turun, sekali lagi terima kasih ya pak. bapak gak mau mampir dulu?" basa basi Sarah
"Saya bisa tidur disini." lagi-lagi Tomy menggoda Sarah
"Hati-hati ya pak, terima kasih. silahkan pulang, daaghh." Ucap Sarah dengan nada kesal dan berlalu meninggalkan Tomy. bukannya marah, Tomy malah tersenyum Melihat Sarah salah tingkah.
Hari berganti Hari.
__ADS_1
Kondisi mamah semakin lemah, ditambah mamah malas untuk makan membuatnya kekurangan tenaga.
Papah yang sedang istirahat disofa, begitu lelapnya papah tertidur. Sementara disofa lain ada Rendy yang begitu fokus pada laptopnya.
Tok.. tok..
"Permisi tuan, bisa saya masuk?" Ternyata seorang perawat wanita yang mengetuk pintu
"Silahkan, mari masuk." sahut Rendy
"Maaf tuan jika saya menganggu, saya hanya ingin memberitahu bahwa dokter memanggil keluarga Nyonya Dewi untuk bertemu dengan dokter diruangannya." terang perawat tersebut
Papah tiba-tiba terbangun mendengar penjelasan si perawat.
"Ini pah, kita dipanggil keruang dokter. katanya ada hal yang hatus disampaikan." Rendy menjelaskan
"Oh begitu, ya sudah mari kita keruangan dokter Ren." seru papah
"Silahkan tian, biar saya yang menjaga nyonya." kata perawat.
Akhirnya papah dan Rendy pergi menemui dokter.
"Kira-kira ada apa ya Ren, papah jadi khawatir." kata papah
"Tenang ya pah, kita jangan panik dulu." Rendy coba menenangkan papah yang sebenarnya Rendy pun sangat cemas.
__ADS_1
Tok... tok...
"Permisi dok."
"Aah iya tuan Erwin, silahkan masuk." jawab dokter ramah
"Ada apa dokter tiba-tiba memanggil kami kemari." tanya Rendy
"Begini pak Rendy, saya ingin memberi tahu bahwa kami menemukan pendonor ginjal untuk nyonya Dewi." kata dokter
"Beee benarkah itu dok? dokter serius?" ucap papah tak percaya
"Iya tuan, namun kami harus observasi dulu sekitar satu atau dua hari sebelum kami melakukan pencangkokan ginjal tersebut untuk memastikan segala nya aman."
"Baik dok kami mengerti, terima kasih banyak."ucap papah penuh kebahagian.
beberapa saat papah dan Rendy meninggalkan ruang dokter. Dokter itu tiba-tiba saja menitihkan air mata dan tak mampu berucap apa-apa lagi."
"Aku tidak tahu yang aku lakukan benar atau salah. namun aku hanya bisa berharap keajaiban sekarang." batin dokter sambil menyeka air matanya.
Rey coba menenangkah diri dikamarnya. Ia coba memejamkan matanya, perlahan Ia mulai tertidur dan mulai nyenyak.
"Kak, Tiara minta sama kakak jangan kasar lagi dengan mamah. nurut apa kata papah dan bersikap bijak lah mulai sekarang. Tiara lelah kak." Rey tak menjawab namun ia melihat Tiara semakin menjauh dan jauh ditelan kabut.
"TIARAAAA!!!"
__ADS_1