
Dirumah sakit
Tiara perlahan membuka matanya, Ia merasakan seluruh tubuhnya melemah. pelan-pelan Tiara menggerakkan tangannya, Ia meraba bagian perutnya. tapi Ia tak merasakan apapun.
"Apa operasinya susah dilakukan? mengapa aku sangat lemah? apa aku bermimpi? mengapa aku seperti mendengar suara papah?" batin Tiara
begitu banyak pertanyaan yang timbul dikepala Tiara namun Ia sulit menemukan jawaban. Sementara Tiara berfikir, Icha tiba-tiba masuk dan mendapati Tiara sudah sadar.
"Astaga Tiara, ku sudah sadar." buru-buru Icha mendekat pada Tiara
"Icha, apa yang terjadi?" tanya Tiara kebingungan. Icha tak mampu menjawab, Ia hanya bisa mengeluarkan air mata karena terharu sahabatnya kini berbicara padanya.
Beberapa saat kemudian
"Tiara, apa kamu merasa pusing atau ada keluhan lainnya?" tanya dokter Rizal
"Gak dok, hanya lemah dan lapar." jawab Tiara
"Bagaimana gak lapar, 4 hari koma." batin Icha sambil tukar pandangan dengan dokter Rizal.
"Sebentar lagi jam makan siang, makan dan minumlah obat mu." kata dokter
Tiara hanya mengangguk, lalu Icha mengantar dokter Rizal keluar.
__ADS_1
"Dok, bagaimana Tiara?" tanya Icha
"Ini sangat aneh, aku belum pernah menemukan kasus seperti ini." ucap dokter sedikit kebingungan
"Aneh bagaimana dok?"
"Saat koma, saya sudah berulang kali periksa kondisi Tiara. tapi semua stabil seakan hanya matanya saja yang tertidur." jelas dokter
"maksud dokter, Tiara tidak mengalami hal buruk?"
"Benar, semua sangat baik. bahkan saat saya memeriksanya barusan."
Icha terlihat berfikir setelah mendengar penjelasan dokter Rizal. dokter kembali ke ruangannya sementara Icha kembali masuk. tak lama petugas pun masuk membawa makan siang Tiara.
"Terima kasih ya mas." ucap Icha menerima namoan makanan tersebut.
Icha pun langsung memberikan makanan tersebut pada Tiara.
"Aku benar-benar lapar." ucap Tiara dan Icha pun tersenyum mendengar perkataan Icha.
"Tuhan benar sayang padamu Ara, Ia memberikan kehidupan kedua pada mu." batin Icha sambil melihat Tiara makan dengan lahap.
Kemudian Ia teringat untuk mengabari kondisi Tiara pada Rendy dan Rey. Icha merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya, kemudian Ia mengirim pesan pada Rey.
__ADS_1
Dikantor, Rey benar-benar fokus dengan pekerjaannya. bahkan Ia enggan berbincang dengan orang disekitar. Ia berfikir harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Rendy pun seperti itu, membuat Tomy dan Sarah sedikit bingung dan tegang.
"Heemm.. Ayo Rey fokus." umpatnya sambil mengusap wajahnya. tiba-tiba ponsel Rey mendapat notifikasi, sedikit malas Rey menggapai ponselnya. Saat melihat ponselnya, tiba-tiba Rey.
"Ya tuhan, benar kah ini?" batin Rey
Ia segera mematikan laptopnya dan berlari keruangan Rendy.
"KAKAK.....!!! "
"jangan berteriak, ada apa?"
"Tiara kak. aku mendapat pesan dari Icha." singkat Rey
Rendy pun segera bergegas karena Tiara. kini Kakak beradik itu buru-buru menuju lift, namun sebelum itu Rendy mendatangi Tomy sementara Rey mendatangi Sarah.
"Tolong handle kantor ya, saya keluar sebentar." itu yang mereka ucapkna kepada Tomy dan Sarah.
Rendy dan Rey pun langsung bergegas menuju rumah sakit. Rey begitu antusias mengendarai mobilnya agar segera tiba dirumah sakit.
"Tuhan terimah kasih karena melindungi adikku."batin Rendy. setelah ketegangan berhari-hari akhirnya hati Rendy merasa damai.
Sampailah mobil Rey diparkiran rumah sakit. mereka pun segera menuju keruangan Tiara. sangking bahagia nya mereka tidak menghiraukan sapaan orang-orang yang berselisih dengan mereka.
__ADS_1