
Waktu menunjukkan jam 2 siang.
Tiara terbangun dari Tidurnya akibat cahaya matahari yang masuk kekamar mereka. Rasa hangat dari cahaya tersebut begitu menyengat diwajah Tiara.
"Tiara, kamu sudah bangun." Tegur Icha
"Aku dimana?" sahut Tiara masih berusaha mengingat
"Ini kamar kita Tiara, kamu tadi pingsan." terang Icha.
Tiara berusaha untuk bangun dan mengingat segalanya. Icha pun membantu Tiara untuk bangun dan Icha memasang bantal dibelakang Tiara agar Tiara bisa bersandar dengan nyaman. Tiara masih merasa pusing dan jujur Ia pun mulai sangat lapar, bahkan tadi pagi Ia lupa sarapan.
"Tiara, kamu makan dulu yah. kamu belum sarapan juga kan." ucap Icha sambil membawakan semangkuk sup hangat.
Tiara pun menyambut mangkuk yang dibawa Icha. Ia berusaha menahan sakit kepalanya dan mulai makan. Icha yang begitu khawatir dengan keadaan Tiara merasa sedih dan penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya tersebut.
"sebaiknya kutanyakan setelah dia selesai makan." batin Icha.
Tak lama Tiara sudah menghabiskan sup tersebut. Icha pun menyingkirkan mangkuk itu dan memberikan Tiara obat pereda nyeri.
__ADS_1
"Tiara, sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Icha sambil memberikan obat
"Hah. begitu rumit Icha. bahkan kejadian ini diluar dugaanku."
"Memang apa yang terjadi. aku gak bisa bayangkan jika kamu pingsan dijalan tadi dan gak ada yang mengetahui.
Tiara menarik napas panjang dan mulai menceritakan pada Icha, bagaimana papah mengumpulkan semua orang, mamah yang marah dan keputusannya untuk untuk keluar dari rumah dengan segera.
"Astaga Tiara, separah itu kah?"
"Iyah, dan gak ada yang bisa kendalikan mamah pada saat itu."
"Papah memeberikan aku rumah sakitya dan menyatakan aku pemilik satu-satunya."
"Ru.. rumah sakit kata mu Ara. Rumah sakit mewah itu?" Icha mendadak jadi gagao mendengar penuturan Tiara. dan Tiara hanya bisa mengangguk.
"Jelas dia marah Tiara, itu warisan yang sangat besar untuk seorang anak angkat. belum lagi mamah mu mengira kamu adalah hasil perselingkuhan kan.
"Iya Cha, aku benar-benar bingung. sungguh aku merasa menjadi penghalang kebahagiaan mereka."
__ADS_1
"Lalu sekarang apa? Apa kamu akan melepas rumah sakit itu?"
"Icha, aku gak bisa menerima rumah sakit itu. apa hak ku mendapatkan itu semua."
"Ikh sayang banget kamu lepasin rumah sakit itu Tiara." sahut Icha sedikit kesal dan mendengan ucapan Icha, Tiara langsung memberikan tatapan membunuh pada Icha.
"Yah maksud ku kan, itu diberikan bukan mencuri Tiara." Icha berusaha membela diri.
"Aku gak mau Icha, itu tidak membuatku bahagia."
"Ok kalau itu menurutmu benar. sebaiknya sekarang kamu istirahat yah." Icha mengakhiri perdebatannya.
Sementara itu, Rey yang begitu memikmati ketenangan dipantai membuat Ia lupa waktu, Dia merasa sangat damai mendengar hembusan ombak dan sejuknya angin pantai meskipun saat itu matahari tengah terik.
"Sudah siang, Sebaiknya aku pulang. Ah atau mungkin aku bisa membawakan Tiara beberapa makanan." batin Rey
Rey pun bangkit dan berjalan menuju mobilnya. Ia segera masuk mobilnya dan melajukan mobilnya ke minimarket untuk membeli beberapa makanan.
Kini Rey sampai di minimarket, dan segera masuk. Rey mengambil keranjang belanjaan dan memilih beberapa makanan, seperti biskuit gandung, roti, dan beberapa minuman bervitamin. Begitu cepat Ia memilih barang yang Ia mau dan segera pergi bahkan tanpa disadari banyak mata wanita menatap nya.
__ADS_1