Adikku Bukan Adikku

Adikku Bukan Adikku
Episode 82


__ADS_3

Keesokan Harinya


Papah dan Rendy berada diruangan mamah, kini mamah mulai bisa berkomunikasi lagi. bahkan Ia mengatakan sedikit membaik dari hari-hari sebelumnya membuat papah dan Rendy sedikit bahagia tapi tidak dengan Rey, Ia terus memikirkan Tiara.


"Bagaimana Tiara nanti, apakah dia bisa berjalan, apakah dia bisa menjalani hidup setelah ini?" pertanyaan itu terus berputar dikepala Rey.


"Rey, apa kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya papah. namun Rey tidak menjawab. Rey begitu dalam masuk dalam fikirannya sendiri tentang Tiara. Rendy yang begitu memahami apa yang dirasakan Rey coba mengalihkan papah.


"Pah, mungkin Rey lelah pah."sahut Rendy


"Bukan berarti tak menjawab papah kan Ren."


"Namanya juga Rey pah."


Rendy menghampiri Rey.


"Woii jangan melamun terus."


"Kakak jangan bikin kaget ah."


"Kamu daritadi ditegur papah."


"Iya, mikirin apa sih nak?" timpal papah


"Emh.. oh gak ada kok pah." terbata-bata Rey menjawab

__ADS_1


"Sana cari angin, biar otakmu segar." kata Rey sambik memberi isyarat seolah mengatakan jika ingin melihat Tiara pergilah.


Rey yang paham dengan isyarat Rendy pun mengangguk


"Ya sudah, Rey keluar sebentar ya pah." pamit Rey


Rey pergi keruang UGD dan coba mencari Tiara. disana Rey bertemu dengan perawat yabg sedang bertugas


"Permisi mbak, apa saya bisa bertemu dengan pasien bernama Tiara?" sapa Rey


"Maaf pak, disini Tidak ada pasien dengan nama Tiara." kata perawat


"Gak mungkin mbak, kemarin sore dia kecelakaan ditangga utama rumah sakit ini."


Rey yang mulai kehilangan kesabaran menerobos masuk dan mencari Tiara.


"Bapak tidak bisa sembarangan masuk pak. tolong keluar." seru perawat itu berusaha mencegah Rey


"Tiara... kamu dimana?" Rey tidak mempedulikan ucapan perawat tersebut


"Pak saya mohon jangan berisik diruangan ini. tolong pak." perawat itu akhirnya bersuara tegas membuat Rey terkejut. sesaat Rey terdiam kemudian Ia menyadari apa yang Ia lakukan dan akhirnya dia menyerah


"Maafkan saya mbak, saya benar-benar panik."


"Tolong keluar." ucap perawat itu sambil menunjuk ke arah pintu

__ADS_1


Rey tanpa berkata lagi pun keluar dengan lemas.


"Bagaimana mungkin Tiara ga ada. apa yang terjadi." batin Rey sambil berfikir harus melakukan apa.


Sementara itu dikantor,


Tomy dan Sarah semakin hari semakin dekat. bahkan Tomy tak segan untuk mengantarkan sarah pulang.


Saat ini mereka sedang berada diruangan yang sama bahkan dimeja yang sama. karena masalah keluarha Pratama yang membuat Rendy dan Rey jarang ke kantor membuat mereka selalu lembur akhir-akhir ini.


Sarah begitu fokus menatap layar laptopnya, Ia tidak pernah mengulur waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. bahkan tanpa Ia sadari, Tomy sering curi pandang padanya.


"Sarah, apa rumahmu jaraknya dekat dengan kantor. saya lihat data kamu, kamu selalu datang pagi-pagi sekali?"


"Oh, gak kok pak. rumah saya agak jauh dari kantor. tapi memang saya selalu pergi pagi-pagi sekali, saya takut macet dijalan pak." terang Sarah


"Oh begitu, tapi ini sudah terlalu sore Sar. bagaimana kalau nanti saya antar pulang ya."


"Terima kasih pak, tapi gak usah repot-repot pak."


"Gak repot kok, lagian kamu perempuan mau pulang malam-malam sendirian. Saya antar aja ya."


"Rumah saya jauh loh pak, diperkampungan."


"Terus kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2