
Tiara melihat kepergian Rey. Ia merasa hancur, benar-benar hancur. bukan ini yang diinginkan Tiara, tapi Ia tak menyangka akan separah ini jadinya. Tiara hanya bisa tunduk menyembunyikan air mata nya. namun papah melihat segalanya, Rendy dan Anisa pun hanya bisa melihat dan ikut menangis.
Papah pun bangkit dari duduknya dan mendekati Tiara, papah mengangkat dagu Tiara dan menghapus air mata nya, lalu berkata
"lakukan yang ingin Tiara lakukan, papah akan mendukung. tapi perlu Tiara tau, kami disini bukan mengekangmu nak, tapi kedua kakakmu hanya berusaha melindungimu sebagai adik perempuan mereka."
Tangisan Tiara makin pecah mendengar ucapan papah. Ia menghambur dipelukan tuan Erwin.
"Papah terima kasih, Tiara janji akan membanggakan papah dan keluarga." ucap Tiara disertai tangisannya.
Rendy dan Anisa pun lega dan tersenyum mendengar keputusan papah. Anisa mengucap kepala Tiara dalam pelukan papahnya, Rendy pun merasa lega namun Ia masih harus mengatasi amarah Rey.
Rey mengendarai mobilnya dengan laju tanpa arah. Ia merasa hancur akan terpisah lagi dengan Tiara, Ia tidak mengerti mengapa adiknya ingin tinggal diasrama padahal dirumah segalanya terpenuhi. Saat Rey memikirkan semua nya tiba-tiba pinselnya berdering, Rey tidak ingin menerima panggilan itu, namun Ia tidak berani melawan karena Rendy lah yang menelpon.
"Iya kak, ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Dijalan."
"Jawab aku dengan baik Rey, siapa yang mengajarimu seperti itu."
__ADS_1
"Maaf ka, Aku kekantor sekarang."
"Bagus. Kakak juga ke kantor sekarang."
Rey menutup panggilan nya dan langsung melajukan mobil nya ke kantor.
Beberapa saat kemudian.
"Rey, tolong jangan seperti ini. sama aja kamu menyiksa batin Tiara, apa masalahnya jika dia diasrama
"Aku sendiri juga ga tau kak kenapa bisa semarah itu." jawab Rey sendu
"Kakak mengerti tapi liat lah Tiara, dia hancur melihatmu pergi dengan amarah."
"Rey, temuilah Tiara. papah sudah memberi izin untuknya tinggal diasrama, jangan sampai dia pergi dalam keadaan kacau." nasehat Rendy
"Baik kak, nanti aku bicara padanya."
"bagus. sekarang pergilah selesaikan pekerjaanmu." ucap Rendy
Rey pun keluar dari ruangan kakaknya. Ia merasa lemah dan tidak ada gairah sama sekali, Ia benar-benar terpukul mengetahi Tiara sedang sedih. Rey coba menarik napas dan mengembusakan lagi, dia harus mengatur emosinya dan selesaikan pekerjaan.
__ADS_1
"Sarah, tolong bawakan dokumen yang harus saya kerjakan hari ini." ucap Rey pada sekertaris nya
"Baik pak. akan saya bawa keruangan bapak." jawab sopan Sarah
Sementara itu, Tiara termenung dikamarnya. Ia berfikir harus bicara dengan kakaknya, membuat kakaknya mengerti bahwa ini keputusan yang sudah dia pilih. saat tengah melamun Tiara dikagetkan dengan suara ponselnya,
"Halo Cha." Tiara menjawab panggilan
"Kamu dimana Tiara, mentang-mentang tidak kuliah kamu pun hilang kabar.
"Aku dirumah kok."
"Tiara.. ada apa? kok suaramu terdengar sedih."
"Aku baik-baik aja Cha, hanya saja kak Rey marah karena aku ingin tinggal diasrama.
"Jadi kamu akan tinggal diasrama, serius. orang tua mu bagaimana??
"Awalnya semua menentang tapi sepertinya mereka mengalah padaku, hanya kak Rey masih marah.
"Tiara, jika butuh apa-apa jangan sungkan katakan padaku yah."
__ADS_1
"Terima kasih ya Icha."