
Malam hari Rendy memutuskan pulang kerumah untuk brtemu istrinya, sementara Rey memutuskan untuk tetap dirumah sakit menemani papah.
Sepanjang perjalanan Rendy dilanda frustasi yang sebelum Ia tak pernah rasakan. Rendy mencari ponselnya dan menghubungi istrinya.
"Halo mas."
"Sayang, apa anak kita sudah tidur?"
"Ia mas, dia sudah tidur. ada apa?"
"Aku dijalan menuju pulang, tunggu aku yah."
"Iya mas, mas hati-hati yah. aku menunggu."
Rendy mematikan sambungan telponnya dan melajukan mobilnya. Sampai dirumah Rendy langsung menuju kamarnya dan mencari istrinya, Rendy membuka pintu kamar dan melihat ostrinya sedang duduk bersandar ditempat tidur sambil membaca. "Mas, sudah sampai." kata Nisa. namun Rendy tak menjawab, Ia langsung menghambur dipangkuan istrinya dan memeluk erat tubuh istrinya. Rendy menangis dalam dekapan Anisa, Rendy bahkan tak bisa menahan suara tangisannya.
Anisa tau betul bahwa suaminya sedang kalut. Anisa tak berbicara sepatah katapun. Ia terus memeluk erat suaminya.
"Aku sudah menjadi kakak yang gagal untuk Tiara." kata Rendy dalam dekapan Anisa.
Anisa tak menjawab, Ia hanya memelum suaminya dan menenangkan.
"Sayang, aku sudah gagal." kata Rendy sambik mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu adalah kakak terbaik bagi Tiara. jangan bicara seperti itu yah." ucap Nisa sambil menghapus air mata suaminya.
Baru kali ini Anisa melihat suaminya dalam keadaan hancur. gambaran seorang laki-laki berprinsip dan tegas seketika hilang.
"Sayang, kalau kamu menangis bagaimana kamu bisa menjadi sandaran untuk Tiara." bujuk Anisa
Rendy pun coba mengatur emosinya dan bangun duduk dengan tegak. Ia menghapus air matanya dan mengatut napasnya.
"Kamu tau sayang, Tiara.......!!!" Rendy menceritakan kejadian dirumah sakit. Anisa begitu syok mendengar cerita suaminya dan tak percaya Tiara melakukan semua itu.
"Gadis yang malang." kata Anisa memeluk suaminya, dan tanpa disadari air mata Anisa sudah membasahi pipinya. Rendy memeluk istrinya dan kini mereka berdua sama-sama menjadi lemah.
"Mas aku mau ketemu dengan Tiara." ucap nya dengan isakan tak henti.
Anisa pun menuruti perkataan suaminya dan langsung ambil posisi tidur disamping anaknya. Sementara Rendy tak bisa tidur.
Waktilu dini hari, Rendy dan Rey tidak bisa tidur. Mereka memikirkan mamah dan juga Tiara, Rey sungguh berharap ada keajaiban. Sementara Rendy berharapa Ia menemukan ide untuk memecahkan masalah ini.
Pagi hari, Rendy dan Anisa sudah bersiap untuk kerumah sakit. Mereka berangkat pagi-pagi sekali, karena Anisa sudah tak sabar ingin menemui Tiara.
Sementara itu dirumah sakit. Papah yang masih tertidur dikagetkan dengan suara batuk mamah.
"Pah, mamah mau minum." kata mamah, sontak papah langsunh terbangun dan mengambilkan air untuk mamah.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan mamah?" tanya papah
"Mamah merasa baik pah, hanya saja mamah terus mengantuk." jawab mamah, papah senang mengetahui mamah merasa baik.
Tidak dengan Rey, Sepanjang malam Rey duduk dikursi depan kamar mamah, sesekali Ia menghampiri kamar Tiara untuk memastikan Tiara baik-baik saja.
Dokter datang dan melihat Rey melamun disana.
"Selamat pagi tuan Rey." sapa dokter
"Pagi dok, mau periksa mamah?" kata Rey
"Ia tuan. mari!!" dokter pun berlalu dan masuk.
"Selamat pagi Tuan Erwin, Nyonya." sapa dokter
"Selamat pagi dok." jawab paoah dan mamah bersamaan
"Nyonya, bagaimana perasaan anda pagi ini?"
"Sangat baik dok, hanya saja saya begitu mengantuk."
"Bagus. saya akan periksa keadaan anda secara menyeluruh untuk mengetahui apakan kondisi anda.
__ADS_1