
"Ya sudah aku pergi dulu yah. Kalian baik-baik bekerja ya."
"Tiara...... "suara itu membuat langkah Tiara terhenti. Tiara tak ingin menoleh, tapi Ia juga tidak bisa pergi.
"Aku yakin kamu dengar suaraku Tiara, jangan berpura-pura." timpal Rey
Tiara sudah tidak bisa menghindar lagi. Ia memejamkan mata dan menarik napas pang, dia mengatur raut wajahnya kemudian berbalik dan menyapa Rey,
"Oh kak Rey, Hai apa kabar?" basa basi Tiara, namun Rey memasang wajah ramah
"Jangan membuatku jengkel Tiara, apa maksud semua ini?"
"Maa,.. maksud kak rey apa, Tiara gak paham?" masih berusaha berpura-pura. namun lagi-lagi Rey memberikan tatapan tajam bahkan membuat Icha bungkam dan ketakutan.
Akhirnya Tiara menyerah.
"Iyah, ini caffe Tiara. dan Tiara juga sudah tidak tinggal diasrama."
"Lalu?" tanya Rey masih dengan tatapan tajamnya.
"Tiara gak bisa cerita sekarang, Tiara ada kelas pagi ini kak." Tiara memasang wajah memohon
"Baiklah. Aku akan datang malam ini. jangan coba-coba Tiara." ancam Rey.
Tiara mengangguk pertanda Ia sudah pasrah dan mau tidak mau menuruti ucapan Rey. Tiara kemudian berlalu meninggalkan Rey dan pergi ke kampus. Sementara itu Rey merasa tidak enak hati harus bicara kasar pada Tiara.
__ADS_1
"Tiara, kamu baik-baik aja kan?" tanya Icha yang khawatir melihat Tiara hanya diam swoanjang jalan ke kampus.
"Aku bingung Cha, harus bicara apa pada kak Rey nanti." jawab Tiara
"Tiara, sebaiknya kamu jujur aja sama kak Rey. aku takut nantinya dia akan mempersulit dirimu." nasehat Icha.
"Kamu benar Cha, mungkin aku bisa kasih pengertian pada kak Rey." jawab Tiara dengan lesu. Icha merangkul Tiara seakan memberi isyarat bahwa semua akan baik.
Dicaffe, Rey masih memikirkan Tiara. Ia tidak mengerti apa yang direncanakan Tiara, mengapa Tiara bisa menghilang selama setahun ini. apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Malam Hari.
Rey sudah berapa dicaffe, Ia berfikir bahwa malam ini harus menemukan jawaban yang Ia cari.
"Ibu ada diruangannya, tunggu sebentar ya kak." jawabnya, lalu Ia mengambil telpon dan menghubungi Tiara.
Diruangan Tiara
"Kalau kak Rey datang aku harus bicara apa?" batin Tiara.
tiba-tiba saja telpon dimeja kerja nya bunyi.
"Yah, haloo."
"Maaf bu, ada yang ingin bertemu dengan ibu."
__ADS_1
"Siapa?"
"Namanya kak Rey."
"Oh ok, antarkan dia keruangan saya yah."
"Baik bu."
Tiara menutup telpon dan menarik napas panjang, Tiara sudah pasrah apapun yang terjadi. tak lama terdengar suara ketukan pintu, dan Tiara mempersilahkan masuk.
"Kak, masuk lah." Tiara mengajak Rey duduk disofa.
"Ruangan yang bagus." sahut Rey sambil matanya menyisir setiap sudut ruangan. namun Tiara tak bergeming, entah Ia harus bersikap bagaimana dan Rey menyadari itu.
"Tiara, aku ga akan basa basi. katakan dengan jelas apa semua ini." Rey bicara dengan santai namun tegas.
"Seperti yang kakak lihat. aku membuka usaha caffe ini."
"Kenapa? untuk apa?"
"Lalu aku harus apa? Kak, aku harus lakukan ini. untuk hidupku, lagipula aku senang dengan semua ini."
"Tiara, kamu ngerti gak sih. kamu itu pewaris rumah sakit papah, bagaimana kamu bisa mengurus segalanya nanti."
"Aku rasa kakak sudah paham kalau aku sudah melepas segalanya dari keluarga Pratama. dan aku mohon berhenti bersikap seperti ini. Aku akan menjadi Tiara yang baru, tanpa bayang-bayang nama Pratama. " Jelas Tiara dengan suara sedikit gemetar.
__ADS_1