
Rehan yang sudah menyelesaikan sarapannya mendadak teringat Rey. Rehan coba menghubungi resepsionis kantor
"Ia selamat pagi, sayaau menanyakan apakah tuan Rey sudah sampai dikantor?
"Maaf pak, pak Rey belum terlihat sejak tadi."
"Oh baiklah kalau begitu. terima kasih."
Rehan yakin ada yang tidak beres. Rehan memutuskan untuk mencari Rey.
"Pah, Rehan jalan-jalan keluar sebentar yah." pamit Rehan dan papah hanya mengangguk.
Reham bergegas setengah berlari menuju parkiran, namun langkahnya terhenti saat Ia mengingat Tiara. Rehan pun pergi ke ugd dan mencari Tiara.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu." sapa perawat jaga yang juga tau siapa Rehan.
"Saya ingin bertemu Tiara." kata Rehan sopan
"Maaf pak, tapi tidak ada pasien bernama Tiara."
"Tapi beberapa hari lalu ada pasien kecelakaan disini bernama Tiara."
"Maaf pak, tapi tidak ada pasien bernama Tiara disini."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." kata Rehan kemudian Ia berlalu.
Rehan sangat bingung. sambil berjalan Rehan berfikir keras pertama Rey terlihat gelisah, kemudian Tiara tiba-tiba saja menghilang. "Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Rehan
Tak lama berjalan, Rehan melihat Rey duduk dibangku seorang diri dan terlihat kacau. segera Rehan mendatangi Rey.
"Astaga Rey, kenapa begini? Ada apa?" Rehan panik
Rey mengangkat wajahnya dan betapa kacaunya wajah Rey.
"Kak, kita harus bagaimana sekarang?" kata Rey frustasi
"Ini ada apa Rey, katakan dengan jelas." Semakin panik Rehan
"Tiara kak, Tiara." Rey mulai menangis
"Orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk mamah itu tiara kak." bagai disambar petir Rehan mendengan ucapan Rey
"I.. ini gak Mungkin Rey, kamu mungkin sudah salah." kata Rehan
"Benar kak, aku mendengarnya sendiri." kata Rey. kemudian Rey menceritakan kejadian tadi pagi hingga Ia menemui dokter yang menangani Tiara.
"Lalu dimana ruangan Tiara, tunjukkan dimana Rey." Tegas Rehan. mereka pun bersama-sama mendatangi ruangan Tiara.
__ADS_1
Sementara itu, diruangan Tiara.
"Tiara aku tinggal keluar sebentar ya. kamu gak masalahkan aku tinggal sebentar."
"Aku baik kok. pergilah." kata Tiara
"Baiklah, jika ada apa-apa telpon aku segera ya. jangan turun dari tempat tidur sendirian." nasehat Icha
"Iya bu dokter."
"Ya sudah aku pergi dulu yah. dagh!!" Icha berlalu dan membuka pintu. mendadak Icha mematung kala membuka pintu. matanya terbelalak dan mulutnya membisu.
"Icha, ada apa? kenapa berdiri begitu." suara Tiara terdengar. Icha pun berbalik dan kembali masuk diikuti Rehan dan Rey."
"Icha ada ap.... " Tiara tak kalah kagetnya melihat siapa yang berjalan dibelakang Icha. Tiara menjadi bingung dan matanya dialihkan kesembarang arah.
Rey menutup pintu dan menguncinya. Rehan yang masih bisa mengendalikan dirinya coba mendekati Tiara dan coba membuat Tiara merasa aman.
"Tiara, tenanglah. tidak ada yang ingin menganggumu disini, percayalah." kata Rehan dengan tenang. Tiara masih mengalihkan pandangannya, sementara Icha mematung karena takut.
Tiara coba melihat kearah Rehan kala Rehan coba memegang kepalanya, sementara itu Rey yang tak mampu lagi menahan perasaannya terlihat sangat kacau.
"Kak, maafin Tiara." kata Tiara lemah. membuat Rehan lemah dan langsung memeluk adik kecil nya.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa Tiara lakukan ini? apa Tiara sudah tidak sayang lagi dengan kak Rehan." kata Rehan dengan nada sendu.
"Tiara cuma gak mau menyusahkan kalian lagi."