Adikku Bukan Adikku

Adikku Bukan Adikku
Episode 49


__ADS_3

1 Tahun sudah Tiara tinggal diasrama. Sesekali Ia mengunjungi kediaman Pratama saat akhir pekan. terkadan Ia pergi jalan-jalan bersama Icha, atau hanya sekedar jalan sore mencari cemilan lalu duduk ditaman kota.


Rey mulai terbiasa tanpa Tiara, begitu pun anggota keluarga lainnya. namun pengawasan Rendy tetap berlangsung tanpa sepengetahuan Tiara.


Hari sabtu ini, Tiara dan Icha memilih untuk berdiam diri dikamar. Tiara juga enggan mengunjungi kediaman, Ia berfikir sudah waktunya Ia pelan-pelan menghilang. Tiara mengumpulkan uang jajan yang Ia terima dari keluarga pratama dan beasiswa yang selama ini Ia terima sebagai siswa cerdas dan sekarang pun Ia menjadi mahasiswi berprestasi, Ia berfikir akan membuka usaha untuk kelangsungan hidupnya.


"Icha, bisa kah besok kita pergi keluar?


"Mau kemana?"


"Mencari tempat."


"Tempat apa?"


"Besok juga mau tau. Temani aku yaa pleasee."


"Jangan memohon, apa sih yang gak buat nyonya Tiara."


"Terima kasih ya sayang nya aku." ucap Tiara memeluk Icha


Sore hari di Kediaman


Papah dan mamah sedang menikmati matahari sore dengan teh hangat ditemani bunga-bunga yang indah di taman. Rendy dan Anisa memutuskan untuk pergi dan Rey lebih memilih dikamar. Rey mengganti siaran tv tapi tidak menemukan hal menarik. Tiba-tiba ponsel Rey berdering, Rey enggan melihat ponselnya namun Ia tetap berdiri mengambil ponselnya, wajahnya langsung berubah saat Ia tau Tiara yang memanggil.


"Halo Tiara, apa kamu mau pulang? perlu kakak jemput?" sahut Rey antusias


"Emh.. bukan begitu. Aku menelpon mau kasih tau kakak kalau aku gak pulang minggu ini. tugasku sangat banyak jadi lebih baik aku disini saja." jawab Tiara. Icha yang berada disampingnya sangat bingung mendengan alasan Tiara tidak pulang.

__ADS_1


"Oh begitu ya, perlu kakak kitimkan cemilan untuk mu?"


"Gak perlu kak, makanan dikamar aku masih banyak kok." lagi-lagi Icha bingung, "banyak dari mana, sampahnya."batin Icha


"Baiklah. belajar yang baik yah, kabari kakak jika butuh sesuatu." ucap Rey


"Baik kak, sampaikan salam untuk semua yah." Tiara mengakhiri


"Tiara, kamu itu anaknya pintar tapi kadang-kadang buntu juga ya." ucap Icha sedikit kesal


"Apaan sih Cha, aku kenapa memangnya?"


"Masa kak Rey mau beliin makanan kamu tolak. Tuh sampah yang banyak bukan makanannya."


"Ya ampun Icha, besok kita beli jangan takut."


"Sudahlah Icha, aku masih punya uang kok."


"Adik nya sultan sih, kalau ngomong seperti lagi mengigau."


"Apa kamu bilang."


"Eh ga ada kok. salah dengar mungkin kamu." dan mereka pun tertawa bersama.


Entah mengapa Rey begitu merindukan Tiara, perasaan yang bahkan Ia sendiri tidak bisa jelaskan. Ia sedikit frustasi dan mencoba untuk tidur dan melupakan segalanya.


"Mas, aku merindukan Tiara." ucap Nisa

__ADS_1


"Sayang, kan setiap minggu kita bertemu dengannya. lagipula dia pasti sekarang sudah dirumah."


"Entahlah mas, aku merasa Tiara begitu jauh."


"jangan terlalu difikirkan yah, lebih baik habiskan makananmu nanti dingin loh."


"Aku sudah kenyang." ucap Nisa dengan lesu


"Ada apa sih, kita pulang aja yah." ajak Rendy melihat istrinya seperti tak bersemangat.


Sampai dirumah, Rendy dan Anisa menyapa semua orang diruang tv.


"Loh kok sudah pulang, rasanya baru saja kalian pergi."sapa mamah


"Nisa sepertinya gak enak badan mah." jawab Rendy


"Loh, Tiara mana?" tanya Nisa melihat sekeliling namun tidak melihat Tiara.


"Oh iyah aku lupa bilang, Tiara ga bisa pulang tugasnya banyak. Dia nitip salam untuk semuanya." ucap Rey


Seketika Nisa menjadi sedih namun tiba-tiba wajahnya menjadi pucat. Ia buru-buru lari kekamarnya dan Rendy langsung mengejarnya, Ia berfikir Nisa kesal karena tidak bertemu Tiara.


Saat sampai dikamar, Rendy justru menemukan Nisa sudah bersandar lemah di dinding kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Gak tau mas, perut aku ga enak."

__ADS_1


"Masih mau muntah?" tanya Rendy dan Nisa tak mampu menjawab.


__ADS_2