
Sore hari ketika prakiraan cuaca mengatakan hari akan cerah, langit justru mendadak mendung dan hujan mulai turun deras dalam waktu sekejap.
Kinara beranjak dari kasur, berjalan pelan menuju jendela kaca kecil di kamarnya. Pandangannya terlempar jauh pada rumah tetangga di seberang. Di jendela kamar yang segaris lurus di seberangnya, seorang anak perempuan sekitar usia sepuluh tahun tampak mengintip dari celah yang bagian gordennya tersingkap. Meski samar-samar, Kinara bisa melihat anak itu sedang menatapnya dengan mata bulat yang sarat akan kemurnian dan kepolosan.
Karena ingin melihat anak itu dengan lebih jelas, Kinara memutuskan untuk membuka jendela kamarnya. Seketika air hujan yang terbawa angin tampias mengenai wajahnya, membuatnya refleks menutup kembali jendela kaca yang sudah setengah terbuka.
Kinara termenung sejenak. Padahal yang paling dia suka saat sedang hujan begini adalah membuka jendela kamar demi bisa menghirup aroma tanah basah yang membuatnya candu. Tapi Kinara lupa kalau kamarnya kini tidak lagi berada di lantai dua sebuah rumah mewah yang ada balkon luas di depannya. Kinara masih suka lupa kalu tempat tinggalnya yang sekarang cuma rumah kecil satu lantai yang bagian atap di sisi kanan dan kirinya tidak terlalu lebar sehingga hanya bisa melindungi dari terik matahari. Tidak dengan tampias air hujan.
Setelah menghela napas berat, Kinara kembali mengintip dari balik kaca jendela. Di teras samping rumahnya sudah dipenuhi air dan pasir yang terbawa cipratan air hujan. Ia memang tidak sering menghabiskan waktu di teras samping karena di sana memang tidak bisa digunakannya untuk bersantai. Hanya saja, melihat kondisinya yang kotor membuat Kinara tetap merasa risih.
Kemudian, Kinara kembali pada niat awalnya untuk melihat anak perempuan di seberang rumahnya. Tapi saat ia mengarahkan pandangannya ke sana, anak itu sudah tidak ada. Atau lebih tepatnya, Kinara sudah tidak bisa melihatnya karena gorden penutup jendela di rumah itu sudah kembali dirapatkan.
"Yahhh... padahal masih mau lihat." Kinara melenguh kecewa. Tetapi akhirnya ia hanya menghela napas karena tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu.
Merasa tidak ada lagi yang menarik perhatiannya, Kinara memutar tubuh dengan maksud untuk kembali naik ke atas kasur. Sore yang hujan begini memang lebih enak digunakan untuk rebahan sambil nonton serial favoritnya. Meskipun tidak ada lagi televisi pintar di kamarnya seperti dulu, tapi Kinara masih bisa menggunakan ponselnya.
Namun belum sampai kakinya di sebelah kasur, atensinya tercuri karena pintu kamar diketuk beberapa kali. Ketukannya samar, nyaris seperti tidak niat.
Tentu saja Kinara bertanya-tanya tentang siapa yang mengetuk pintu kamarnya sekarang. Karena kalau itu Mama, pintu itu pasti sudah akan terbuka setelah ketukan ke-tiga dilabuhkan.
Karena hanya ada tiga orang di rumah ini dan Kinara yakin bukan Mama yang mengetuk pintu, maka Kinara berjalan buru-buru untuk membukanya. Jarang sekali Papa mau berkunjung ke kamarnya karena menurutnya kamar adalah ruangan paling privat milik seseorang dan tidak sembarang bisa dimasuki bahkan oleh anggota keluarganya sendiri. Itu sebabnya Kinara juga tidak terbiasa masuk ke kamar kedua orang tuanya kalau bukan Mama atau Papa yang mengundangnya langsung untuk masuk.
Melihat Papa yang berdiri di depan pintu sambil melayangkan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan membuat kepala Kinara kembali penuh dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa, Pa?" pertanyaan itu yang pertama kali Kinara suguhkan kepada Papa.
"Bisa kita ngobrol sebentar?" suara Papa terdengar lebih pelan dari biasanya. Seolah dari sana saja Kinara bisa merasakan Papa telah kehilangan banyak kepercayaan dirinya.
"Boleh." Kinara menjawab setelah terdiam cukup lama. "Mau ngobrol di mana?"
__ADS_1
"Di sini aja. Boleh?"
Kinara agak ragu untuk menganggukkan kepala. Tetapi pada akhirnya dia tetap mempersilahkan Papa masuk dengan menggeser tubuhnya sedikit ke sisi kanan.
Papa juga sama ragunya saat melangkahkan kaki memasuki kamar putrinya. Ia terdiam cukup lama sebelum mendudukkan diri di tepian ranjang.
Kinara menyusul tak lama setelah Papa duduk. Ia menarik kursi dari meja belajar dan duduk di hadapan Papa. Punggungnya ditegakkan, telinganya disiapkan untuk mendengar apa pun yang akan Papa katakan selanjutnya.
"Jadi, Papa mau ngobrolin soal apa?" tanya Kinara setelah keterdiaman yang cukup lama.
Papa tampak menarik dan membuang napas beberapa kali. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku jaketnya dan langsung mengulurkannya kepada Kinara. Setelah diteliti, ternyata itu adalah sebuah buku tabungan dari salah satu bank swasta terbesar di Indonesia.
"Ini apa?" tanya Kinara, tak kunjung meraih buku tabungan itu dari tangan Papa.
"Dana pendidikan kamu."
Kinara langsung menaikkan pandangan. Tatapan mereka bertemu dan yang bisa Kinara lihat dari dua bola mata Papa adalah tatapan yang terlalu sulit untuk dia terka apa makna di baliknya.
"Papa udah nyiapin dana pendidikan buat kamu. Setidaknya, kamu masih bisa tetap lanjut kuliah walau pun sekarang kita udah nggak punya apa-apa lagi." Karena Kinara tak kunjung meraih buku tabungan itu, Papa akhirnya meraih tangan Kinara dan meletakkan buku tabungan itu di telapak tangan putrinya. "Kamu simpan baik-baik, ya."
Tatapan Kinara jatuh pada buku tabungan tersebut. Terpaku cukup lama dengan pikiran yang melayang-layang di udara. Kalau ini adalah dana pendidikan yang sudah disiapkan oleh Papa untuk dirinya, maka jumlahnya pasti tidak sedikit. Hal itu terbukti saat Kinara mengintip ke dalam buku tabungan tersebut. Nominal yang tertera di sana memang lumayan banyak.
Fakta itu berhasil membuat Kinara menjad bimbang. Uang sebanyak ini bisa digunakan untuk memantu mereka memulai kembali semuanya. Hanya saja, jika uang ini dipakai untuk hal lain, lantas ia akan dapat uang dari mana untuk membiayai kuliah yang masih dua tahun lagi?
"Nara? Kok malah bengong?" tanya Papa yang menyadari bahwa Kinara sedang melamun.
Suara Papa berhasil membawa Kinara kembali ke alam sadarnya. Walau kenyataannya keributan itu masih bersarang di kepala.
Akhirnya, Kinara menghela napas berat demi mengempaskan beban yang memenuhi rongga dadanya. Dengan gerakan pelan dan terkesan ragu-ragu, Kinara mengembalikan buku tabungan itu ke tangan Papa, membuat Papa mengernyit kebingungan.
__ADS_1
"Loh, kok dibalikin?"
"Nara nggak mau pakai itu." Ucap Nara dengan suara setegas mungkin. Ia sedang berusaha meneguhkan hati untuk merelakan uang itu digunakan untuk keperluan yang lebih mendesak.
"Tapi ini memang uang untuk kamu, Nara. Untuk biaya kuliah kamu sampai lulus. Papa udah nggak kerja lagi, bahkan masih harus bayar beberapa tunggakan yang tertinggal. Papa-"
"Nara bisa cari uang sendiri." Sela Kinara. Detik setelah ia mengatakan itu, Kinara mencaci-maki dirinya sendiri di dalam hati.
Dari mana datangnya kepercayaan diri itu? Memangnya dia pikir mencari kerja itu mudah? Bahkan yang sudah punya gelar sarjana pun masih banyak yang menganggur dan berakhir menjadi beban keluarga.
Lalu, mahasiswi semester empat seperti dirinya yang masih minim pengalaman ini berharap apa? Memangnya modal nekat saja bisa membantu?
"Jangan, Ra. Pendidikan kamu itu tanggungjawab Papa." Papa berusaha mengembangkan buku tabungan itu ke tangannya, tapi Kinara buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik tubuh.
"Ra,"
"Kita bisa pakai uang itu untuk hal-hal yang lebih mendesak." Kata Kinara dengan hati yang masih diselimuti keraguan akan kemampuan diri sendiri.
"Tapi, Ra-"
"Pa," sela Kinara lagi. "Tolong dengerin apa kata Kinara. Sekali ini aja."
Setelah itu, hela napas lolos dari belah bibir Papa, disusul setetes air mata yang tiba-tiba jatuh dan Papa buru-buru menundukkan kepala.
Melihat pemandangan seperti itu tentu membuat hari Kinara ngilu. Karena selama ia hidup, belum pernah sekali pun Kinara melihat Papa menangis.
"Nggak apa-apa, nangis aja." Kata Kinara sembari menepuk-nepuk pelan punggung Papa. "Keluarin semuanya biar Papa lega."
Sore itu, bersama dengan tetes hujan yang jatuh kian deras. Kinara menemani Papa mengeluarkan tangis yang selama ini tertimbun hingga tumpah ruah tak bersisa.
__ADS_1
Bersambung