After The Rain

After The Rain
Missing You


__ADS_3

Maju setengah jam dari yang sudah mereka sepakati, Atha sudah ada di depan rumah Kinara tepat pukul setengah tujuh. Di tangannya ada dua buket bunga matahari yang tampak bersinar, lebih bersinar ketimbang matahari asli yang masih malu-malu untuk menampakkan diri.


Untungnya, Kinara adalah tipikal orang yang selalu bersiap jauh sebelum waktu janjian mereka tiba. Berbekal pesan Papa bahwa kita lebih baik menunggu daripada membuat orang lain menunggu, Kinara selalu memastikan dirinya sudah ready ketika orang yang janji akan menjemput datang.


"Kita jalan sekarang?" tanya Kinara sembari mengenakan sepatunya.


"Iya." Jawab Atha. Dia ingin membantu Kinara, tetapi karena tangannya sibuk memegang buket bunga, dia akhirnya cuma bisa berdiri diam melihat Kinara berkutat dengan sepatunya.


"Ayo," ajak Kinara setelah selesai. Dia langsung menyambar dua buket bunga dari tangan Atha, membawanya ke dalam pelukan seperti bunga-bunga itu adalah anak-anaknya sendiri.


"Pamit dulu sama Om dan Tante," kata Atha begitu matanya melihat orang tua Kinara berjalan ke arah pintu.


Kinara menoleh, kemudian segera membalikkan badan dan menghampiri Papa dan Mama ketika keduanya sudah berada di ambang pintu.


"Ma, Pa, Nara sama Atha berangkat ke kampus dulu." Kinara meraih tangan Mama dan Papa secara bergantian, melabuhkan kecupan di punggung tangan mereka kemudian disusul kecupan yang didaratkan ke pipi masing-masing orang tuanya.


Hal yang sama pun dilakukan oleh Atha tepat setelah Kinara mundur.


"Jagain Nara, ya." Pesan Papa setelah Atha selesai cium tangan.


"Siap!" Atha menunjukkan sikap hormat. Membuat bukan hanya Papa, tetapi juga Mama dan Kinara terkekeh melihat tingkahnya.


Atha dan Kinara pun berjalan menuju mobil yang parkir di pinggir jalan. Seperti biasa, Atha dengan senang hati membukakan pintu dan memastikan kekasihnya sudah duduk dengan aman dan nyaman sebelum menutup pintu dan berlarian ke sisi pengemudi.


"Seatbelt jangan lupa." Peringat Atha kepada Kinara.


Yang diperingatkan cuma nyengir kuda sebelum menggerakkan tangannya memasang seatbelt. Dua buket bunga matahari disimpan di atas pangkuan, dan mobil mereka pun mulai melaju menembus jalanan yang masih lengang.


Tidak ada obrolan di sepanjang perjalanan, jadi Atha menyalakan radio untuk mengusir keheningan.

__ADS_1


Entah karena semesta sedang mendukung perasaan rindunya yang menggebu-gebu terhadap sang ibu, atau di luar sana memang sedang banyak yang merindukan orang terkasih mereka yang telah lama mati, lagu So Far Away milik Avenged Sevenfold terdengar mengudara.


Mulanya, Atha cuma sekadar mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas kemudi mengikuti irama musik, tapi lama-kelamaan bibirnya mulai ikut berkomat-kamit.


"How do I live without the ones I love? Time still turns the pages of the books it's burned. Place and time always on my mind. I have so much to say but you're so far away."


Kinara mendengarkan bagaimana Atha menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Dan meskipun tidak ada air mata yang jatuh dan pemuda itu bahkan menyunggingkan senyum tipis, Kinara tahu bahwa jauh di dalam hatinya, Atha benar-benar sedang berusaha meredam kerinduannya kepada sang ibu.


"A final song, a last request, a perfect chapter laid to rest. Now and then I try to find a place in my mind where you can stay, you can stay away forever."


Setiap bait yang Atha nyanyikan benar-benar sampai ke hati Kinara. Menggambarkan betapa dia merindukan sang ibu, sekaligus bagaimana pemuda itu berusaha untuk tetap menghidupkan sosok itu di dalam kepalanya. Menyediakan ruang tersendiri untuk tetap hidup dan menemani setiap langkah yang dia ambil.


"Sleep tight, I'm not afraid. The ones that we love are here with me. Lay away a place for me, 'cause as soon as I'm done, I'll be on my way to live eternally."


Lalu, saat Atha sampai di bait terakhir yang bagaikan memiliki daya magis tersendiri. Air mata Kinara jatuh. Hanya satu tetes, sebab dia langsung mengusapnya dan berusaha keras agar tidak ada tetes-tetes lain yang menyusul.


Atha mengembangkan senyum setelah bibirnya kembali terkatup. Dia balik menggenggam tangan Kinara, membawa tangan yang ukurannya lebih kecil itu ke depan wajahnya kemudian melabuhkan satu kecupan hangat yang dibiarkan berdiam selama hampir delapan detik.


Lalu, ketika mobil mereka akhirnya tiba di area komplek pemakaman umum, Atha mengeratkan genggaman tangannya sebelum melepaskan tangan kecil itu ketika mereka hendak turun dari mobil.


Atha kembali meraih tangan Kinara dan mereka mulai berjalan beriringan memasuki area makam. Dari pintu gerbang, mereka sudah disambut pemandangan beratus-ratus nisan. Mereka melewati satu persatu blok sampai akhirnya tiba di blok tempat di mana ibu Atha disemayamkan. Blok-nya lumayan jauh, ada di bagian paling kiri belakang area pemakaman.


Mereka menyusuri blok itu dan tidak butuh waktu lama untuk tiba di pusara dengan nisan bertuliskan Amalia Dewi Binti Abdul Ghani, yang dibawahnya terdapat tanggal lahir dan tanggal saat wanita itu wafat.


Atha menuntun Kinara untuk berjongkok di sampingnya. Sebelum mengangkat tangan untuk melangitkan doa, Atha meletakkan dua buket bunga matahari yang dia dan Kinara bawa ke atas gundukan tanah di hadapannya.


"Halo, Bunda. Hari ini, Atha datang sama Kinara. She brought you sunflowers." Kata Atha sembari mengusap nisan sang ibu kemudian mendaratkan kecupan di papan tersebut.


"I miss you so much, Bun." Ungkap Atha. Seperti yang sudah dia janjikan kepada dirinya sendiri, hari ini dia tidak akan menangis.

__ADS_1


Jadi, selesai menyapa Bunda singkat seperti yang biasa dia lakukan ketika berkunjung, Atha menengadahkan tangan sejajar dada dan mulai khusyuk melantunkan doa.


Di sebelahnya, Kinara melakukan hal yang sama. Dengan segenap hati yang tulus, Kinara turut mendoakan ibu dari kekasihnya itu agar senantiasa diberikan kelapangan dan Tuhan berkenan memberikan satu tempat terbaik di sisi-Nya.


Bermenit-menit kemudian, setelah doa selesai mereka panjatkan, Atha dan Kinara tak kunjung beranjak.


Kinara tahu, Atha masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk bertemu sang ibu, jadi dia sama sekali tidak rewel dan hanya dengan sabar menemani Atha duduk tanpa alas apa pun meskipun yang pemuda itu lakukan selama bermenit-menit setelahnya cuma diam, memandangi nisan di hadapan mereka seolah sedang berbicara dengan si penghuni rumah hanya melalui tatapan mata.


Kinara belum pernah merasakan yang namanya kehilangan. Kakek dan Neneknya, baik dari pihak Papa maupun Mama sudah meninggal ketika dia bahkan belum dilahirkan ke dunia. Jadi saat momen itu terjadi, Kinara tentu belum bisa ikut merayakan kehilangan itu dengan tangis ratapan seperti yang terjadi di sekitarnya.


Dia tidak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang yang wujudnya sudah tidak bisa dia lihat dan sosoknya tak lagi bisa disentuh. Karena itu, dia tidak pernah berusaha memberikan Atha penghiburan dengan mengatakan hal-hal omong kosong seperti ; Dia sudah bahagia di surga. Dari atas sana, dia sedang melihatmu dengan senyum yang mengembang. Kalian hanya terpisah dimensi, selebihnya kalian tetap berada di satu titik yang sama, jadi tidak perlu bersedih. Ataupun kalimat-kalimat yang ditujukan agar seseorang tidak menangisi kepergian mereka yang telah mati.


Setiap kali Atha bilang dia merindukan sang ibu, Kinara cuma akan memberikan apa yang bisa dia berikan tanpa perlu memperjelas bahwa kerinduannya kepada sang ibu hanya akan berujung sia-sia sebab sebanyak apa dia menangis, sosok itu tidak akan kembali lagi.


Kinara biasanya menawarkan sebuah pelukan, tepukan halus di punggung atau sekadar telinga untuk mendengarkan segala ratapan pilu Atha atas kerinduannya yang mendalam.


Tetapi hari ini, untuk pertama kalinya, Kinara ingin melakukan lebih. Bukan sebuah pelukan. Bukan sebuah tepukan di punggung. Bukan juga kesediannya mendengarkan. Kinara, hari ini, bergerak pelan meraih tangan Atha, menggenggamnya erat bagai pemuda itu adalah sesuatu paling berharga yang tidak boleh hilang.


Kemudian, sembari menatap manik itu lekat-lekat, dia berkata kepada Atha. "Menangis kalau kamu memang mau menangis, Atha. Perasaan kamu valid. Kerinduan yang kamu pendam sekarang ini boleh kamu tumpahkan. Nggak apa-apa, di depan aku, kamu bisa melakukan apa pun tanpa perlu merasa takut."


Kinara cuma mau Atha tidak menahan diri. Karena selama ini, dia menemukan Atha tidak pernah menangis ketika sedang merindukan ibunya. Seolah pemuda itu sengaja menekan perasaannya agar tidak menyembur ke mana-mana.


Tidak bisa bertemu dengan seseorang yang dirindukan itu sedih, jadi wajar kalau Atha menangis. Dia tidak ingin pemuda itu memendam perasaannya, yang hanya akan berakhir membuat perasaan itu tertimbun kemudian meledak suatu hari ketika hatinya sudah tidak bisa lagi menampung segala perasaan yang ada.


Diberi lampu hijau seperti itu, Atha seperti langsung kehilangan kontrolnya. Dia beringsut ke arah Kinara, meraih tubuh kecil itu dan memeluknya erat. Dan di dalam pelukan itu, dia menangis sejadi-jadinya.


Sementara Kinara, mendengarkan isak tangis itu secara sukarela.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2