After The Rain

After The Rain
Gosip


__ADS_3

Sosok Atha kini sudah berdiri di hadapannya. Pemuda itu muncul dalam setelan kaus putih polos, celana jeans hitam dan jaket kulit sewarna celana jeans-nya. Sepatu yang pemuda itu kenakan memiliki perpaduan warna putih dan hitam yang seimbang. Aroma parfum menguar dari tubuhnya yang tegap dan bidang.


Kalau saja hubungan mereka masih baik, Kinara pasti akan langsung menghambur ke dalam pelukan pemuda itu, menyesapi aroma parfum yang menguar dari tubuhnya dan menghirupnya dalam-dalam karena aroma itu benar-benar cuma bisa dia temui pada diri Atha. Entah orang-orang yang tidak tahu kalau ada wangi parfum seenak ini sehingga mereka tidak mau memakainya, atau aroma itu memang menjadi lain karena Atha yang menggunakannya.


Tetapi karena hubungan mereka sudah tidak berada di fase yang sama, Kinara cuma bisa gigit jari. Menahan keinginannya untuk mengendus aroma parfum itu dari jarak yang lebih dekat dan justru mengambil langkah mundur.


"Ada perlu apa?" tanya Kinara datar. Sama seperti yang semalam dia lakukan, kali ini Kinara juga masih tidak mau menatap Atha ketika dia sedang berbicara dengan pemuda itu.


"Mau jemput kamu, kita berangkat ke kampus bareng, ya?"


Kinara tersenyum miring. Apakah dia segampang itu untuk dibujuk, sehingga Atha masih punya kepercayaan diri tinggi untuk mengajaknya berangkat ke kampus bersama setelah apa yang terjadi di antara mereka? Atau jangan-jangan, selama ini Atha memang melihatnya sebagai gadis naif yang mudah dibodoh-bodohi? Menyedihkan sekali.


"Tolong jangan tolak, Ra." Atha terdengar memohon, tetapi Kinara sama sekali tidak tertarik untuk memeriksa ekspresi wajah pemuda itu.


Tetap berpegangan teguh pada pendiriannya untuk tidak lagi membangun koneksi dengan Atha dan Dahayu, Kinara pun membalikkan badan dan buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum imannya bisa saja goyah.


Baru sampai di ruang tamu, dia terpaksa berhenti melangkah karena berpapasan dengan Papa yang sudah terlihat rapi dengan seragam sopirnya. Ya, sekarang Papa sudah tidak malu lagi untuk memakai seragam itu di depannya dan Mama.


"Papa dengar suara motornya Atha." Kata Papa.


Kinara mengangguk. "Ada di depan. Papa tolong ajak ngobrol, ya, Nara mau mandi." Kemudian Kinara segera berlalu meninggalkan Papa.


Sampai di kamar, Kinara meletakkan permen dan jepit rambut pemberian Lestari di atas meja belajar. Lalu dia keluar lagi dari kamar dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Kinara selesai mandi. Dia bergegas kembali ke kamar untuk bersiap-siap.


Kinara membuka lemari dan tidak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan bajua apa yang akan dia kenakan hari ini. Karena dia orangnya tidak suka ribet, Kinara memutuskan untuk memakai kaus pas badan warna putih yang dipadukan dengan celana jeans panjang warna biru. Untuk sepatu, Kinara akan memilih sneaker putih andalannya. Rambutnya tidak perlu dicatok ataupun dikeriting, cukup dia kuncir kuda seperti biasanya.


Pakaian dan rambut sudah oke, sekarang waktunya dia membenahi seidikit kondisi wajahnya agar penampilannya tidak buruk-buruk amat.


Sembab di matanya sudah berkurang, tetapi lingkaran hitam masih tampak jelas, jadi Kinara segera mengoleskan eye cream di kelopak mata bagian bawah.


Karena matahari sedang terik dan dia harus melindungi kulitnya dari paparan sinar ultraviolet, Kinara mengoleskan sunscreen ke wajah dan lehernya. Tidak perlu menambahkan bedak, karena dia memang tidak suka. Lalu, agar bibirnya tidak terlalu pucat dan terlihat seperti mayat hidup, Kinara mengoleskan lip tint warna merah muda.


Dan, beres. Tidak sampai dua puluh menit, Kinara sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kampus.


Dia segera menyambar tas dari atas meja. Tapi sebelum melesat keluar dari dalam kamar, Kinara lebih dulu memindahkan permen dan jepit rambut pemberian Lestari dan memasukkannya ke dalam laci.


"Sarapan dulu!" Mama setengah berteriak dari dapur.


Kinara menghampiri Mama, bukan untuk mengikuti perintahnya untuk sarapan, melainkan untuk meraih tangan perempuan itu dan mengecupnya pelan kemudian segera berlalu ke pintu depan dengan sedikit berlari.


"Ra!" Mama kembali berteriak.


"Nara buru-buru! Nanti aja sarapannya di kampus!" Kinara balas berteriak.


Langkahnya melambat ketika dia sampai di pintu depan. Dia menajamkan indera pendengarannya, untuk sekadar memeriksa masih adakah Papa di teras atau lelaki itu sudah berangkat kerja dan menyisakan Atha sendirian di sana.

__ADS_1


Dan ketika Kinara tidak mendengar obrolan apa pun, dia yakin kalau Papa memang sudah berangkat kerja.


Setelah selesai berhitung sampai tiga puluh di dalam hati, Kinara melanjutkan langkahnya. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Atha yang masih duduk di kursi teras dan langsung berjalan menuju mobilnya.


"Ra," Atha mencekal tangannya saat dia hendak membuka pintu mobil.


Kinara segera menepis tangan Atha, kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan tancap gas bahkan sebelum dia memasang sabuk pengaman.


"Dia nggak punya otak atau nggak punya malu sih sebenernya?" gumam Kinara setelah mobilnya melaju cukup jauh dari area rumah. Sesekali dia melirik ke arah spion untuk memeriksa apakah Atha mengejarnya atau tidak. Dan beruntung dia tidak menemukan motor laki-laki itu mengekor di belakangnya.


Jalanan pagi ini terhitung ramai lancar sehingga Kinara bisa sampai di kampus tepat waktu. Setelah mobilnya terparkir rapi bersama mobil-mobil lain yang sudah lebih dulu ada di sana, Kinara segera keluar dan melangkah lebar menuju ruang kelas pertama.


Di koridor menuju kelas, langkah Kinara mulai melambat dan pendengarannya mulai dipertajam.


Entah cuma perasaannya saja, atau orang-orang memang sedang menatap ke arahnya sambil berbisik-bisik.


Situasi semacam ini kembali mengingatkannya pada kejadian yang menimpa Layla. Apakah sekarang ini, dia juga sedang menjadi bahan gosip bagi teman-temannya? Tapi, kenapa? Kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai mereka bergosip tentang dirinya?


Kinara tidak merasa dia telah melakukan sesuatu yang salah. Jadi, dia melanjutkan langkah dan berusaha untuk mengabaikan bisik-bisik yang tidak terlalu bisa dia dengar dengan jelas apa isinya.


Setibanya di ruang kelas, Kinara langsung menudukkan diri di bangku yang biasa dia tempati bersama Dahayu. Bedanya, kali ini dia tidak menemukan eksistensi gadis itu di sana. Mungkin belum datang, mungkin juga memang sengaja tidak datang. Entahlah, Kinara tidak punya cukup banyak waktu untuk peduli.


Tak lama kemudian, dosen pengajar masuk ke dalam ruang kelas dan kegiatan belajar mengajar pun dimulai, dengan bisik-bisik yang masih terdengar samar dan Kinara cuma bisa menahan diri untuk tidak meneriaki mereka agar berhenti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2