After The Rain

After The Rain
Brand New Day


__ADS_3

Kinara terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Dengan mata yang masih setengah terpejam, dia turun dari kasur dan berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke kamar mandi.


Dalam keadaan gelap, dia melihat Papa sedang tertidur lagi di atas sofa ruang tamu. Semalam, Papa tidak benar-benar tidur bersama di kamarnya. Setelah Kinara memejamkan mata dan berpura-pura sudah terlelap, Papa melipir keluar kamar dengan jalan yang mendengap-endap. Mulanya, Kinara pikir Papa akan kembali ke kamar untuk tidur bersama Mama. Dia tidak menyangka akan menemukan Papa tidur di sofa lagi.


Kinara melipir sebentar ke arah Papa, hanya untuk memeriksa kondisi ayahnya itu. Setelah memastikan tidak ada yang aneh dan Papa tampak tertidur dengan lelap, Kinara melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Air yang mengalir dari keran berhasil menyalurkan hawa dingin yang menyegarkan ketika bulir-bulirnya sampai ke permukaan kulit Kinara. Dengan khusyuk gadis itu membasuh mulai dari wajah hingga ke ujung-ujung jari kakinya kemudian melafalkan doa sebelum berjalan keluar dan kembali ke kamar.


Mukena yang tersampir di belakang pintu kamar segera diambil dan dikenakan. Subuh itu, Kinara menghadap Tuhan sang pemilik hidup dengan perasaan yang jauh lebih ringan ketimbang sebelumnya.


Usai sholat, seperti biasa, Kinara menyempatkan diri untuk membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an. Meskipun tidak sefasih santri dan santriwati yang tinggal di pondok, tetapi Kinara masih bisa melafalkan setiap bacaan itu dengan baik dan benar.


Setelahnya, Kinara menutup Al-Qur'an dan menyimpannya kembali di laci nakas. Mukena dilepas lalu diletakkan kembali ke tempat semula dan Kinara berjalan pelan menuju meja belajarnya.


Kinara duduk di atas kursi, menyalakan lampu belajar kemudian membuka laptopnya untuk sekadar memeriksa jadwal kuliahnya seminggu ke depan. Lalu, di tengah kegiatannya itu, Kinara kembali teringat pada cafe incarannya yang sampai sekarang belum memberikan kabar. Kinara digantung, persis seperti jemuran.


Tetapi Kinara tidak mau berburuk sangka. Berhubung pemuda yang dia temui di cafe itu mengatakan bahwa dia akan dihubungi jika sang owner sudah kembali, maka Kinara akan berpikir bahwa sang owner memang masih berkutat dengan kesibukannya yang lain sehingga belum sempat datang berkunjung ke cafe miliknya.


Cek jadwal kuliah sudah, menanamkan pikiran positif juga sudah. Sekarang saatnya Kinara memulai hari liburnya dengan sesuatu yang bermanfaat.


Kalau biasanya dia akan pergi keluar rumah untuk lari pagi selepas sholat subuh, hari ini Kinara punya ide lain yang lebih menarik dan sepertinya menyenangkan untuk dilakukan.


Dengan berbekal semangat dan pikiran positif yang sudah mulai menyebar ke seluruh sel di tubuhnya, Kinara berjalan keluar dari kamar. Dia melongok sebentar untuk memeriksa apakah Papa masih ada di sofa ruang tamu, dan ternyata laki-laki itu sudah tidak ada. Mama pasti sudah membangunkannya untuk diajak sholat berjamaah.


Kemudian Kinara melanjutkan perjalanannya menuju dapur. Dia menilik ke dalam kulkas untuk mencari bahan-bahan yang bisa dia masak untuk membuat sarapan. Tapi sayang sekali, cuma ada seikat sawi hijau yang sudah agak layu, sebungkus tahu putih, telur dan jamur. Tidak ada satu pun di antara bahan makanan itu yang sesuai dengan apa yang ada di kepala Kinara untuk dijadikan menu sarapan.


Jadi, Kinara kembali ke kamar. Dia segera berganti pakaian dan menyambar dompet dari atas meja belajar kemudian melangkah keluar dari kamar dengan semangat.

__ADS_1


Kinara senyum-senyum sendiri saat melewati kamar Mama dan Papa, kemudian langkahnya semakin terasa ringan ketika dia berhasil mencapai ruang tamu dan akhirnya melesat keluar dari rumah.


Pagi ini udara terasa lebih dingin ketimbang biasanya. Kinara sedikit menggigil dan merapatkan jaket yang membalut tubuhnya kemudian mempercepat langkah agar dia tidak keburu mati beku sebelum sampai di tempat tujuan.


Beberapa meter dari rumahnya, ada sebuah pasar tradisional yang hanya aktif dari malam sampai menjelang pagi. Kinara beberapa kali lewat sana, tetapi baru kali ini mencoba untuk berbelanja sendiri. Karena biasanya, urusan perbelanjaan dapur telah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mama.


Keadaan pasar sudah tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang tampak mengerubungi satu kios penjual daging, beberapa lagi berkerumun di tempat bumbu-bumbu dapur dan beberapa seperti dirinya mengantre memilih sayuran untuk dimasukkan ke dalam kantung belanjaan yang telah disediakan.


Meskipun ini pertama kalinya dia menjejakkan kaki di pasar tradisional, tetapi Kinara sama sekali tidak merasa risih sebab keadaan pasar benar-benar bersih. Sampah-sampah dikumpulkan di tempat pembuangan yang jaraknya cukup jauh sehingga tidak mengundang kerumunan lalat dan lantai pasar sudah disemen sehingga tidak menimbulkan becek meskipun habis turun hujan.


Sembari memasukkan beberapa macam sayuran untuk lalapan ke dalam kantung belanja miliknya, Kinara melirik sekilas ke arah satu kios yang terlihat cukup sepi dibanding dengan kios-kios yang lain.


Kios itu dijaga oleh seorang wanita dan satu anak perempuan yang terlihat duduk terkantuk-kantuk di sampingnya. Setelah Kinara perhatikan dengan lebih teliti, anak perempuan itu ternyata adalah anak tetangga sebelah yang sering dia intip melalui jendela kamarnya saat turun hujan.


Entah kenapa, Kinara tersenyum. Setelah membayar semua belanjaaan, Kinara berjalan menghampiri kios tersebut, yang ternyata menjual kelapa, baik yang diparut maupun yang masih utuh.


"Harganya tujuh ribu ya, Neng. Mau diparut sekalian?"


Kinara mengangguk. Dia segera mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu dan mengulurkannya kepada si ibu untuk ditukar dengan kelapa parut.


"Kembali empat puluh tiga ribu, ya, Neng." Kata si ibu sembari mencari uang kembalian dari dalam waist bag kecil berwarna hitam yang terlilit di pinggang.


"Nggak usah kembali, Bu. Buat si adek jajan aja." Kata Kinara sembari menatap ke arah anak perempuan yang kini menatapnya dengan mata kecil yang tampak lucu.


"Loh, jangan, Neng."


"Nggak apa-apa, Ibu. Sebagai tanda perkenalan dari saya." Ucap Kinara kepada si Ibu disertai dengan senyum ramah. "Saya tetangga sebelah rumah Ibu, baru pindah beberapa minggu yang lalu. Saya sering lihat adek kalau berangkat sekolah, tapi belum ada waktu untuk ngajak kenalan." Jelas Kinara agak memberikan too much information.

__ADS_1


Ini hal yang jarang terjadi, sebab dia biasanya tidak terlalu suka berbasa-basi dengan orang baru, apalagi kalau dia yang harus memulai percakapan lebih dulu.


Tetapi Kinara merasa begitu tertarik dengan anak perempuan di depannya ini, sehingga dia rela berjalan lebih dulu menghampirinya.


"Oh, jadi Mbak ini yang punya mobil di seberang, ya? Lestari suka cerita kalau Mbak sering ngintipin dia dari jendela kamar." Kata si ibu diakhiri kekehan ringan.


Kinara ikut terkekeh karena ternyata aksinya mengintip si bocah ini telah ketahuan. Tapi justru bagus, jadi dia tidak perlu mengintip secara sembunyi-sembunyi lagi.


"Jadi kamu tahu kalau aku suka ngintipin kamu?" tanya Kinara kepada si bocah kecil bernama Lestari itu.


Lestari mengangguk lucu, membuat Kinara gemas dan tidak kuasa menahan diri untuk mengusap kepalanya pelan. "Kenapa nggak intipin balik? Kok malah kabur? Takut, ya?"


Kali ini, Lestari menggeleng. "Malu." Ucap bocah itu dengan suara pelan.


Kinara kembali terkekeh dan mengacak rambut anak itu yang terasa halus menyentuh permukaan telapak tangannya. Halus sekali, seperti rambut bayi baru lahir.


"Mulai sekarang, nggak usah malu. Kita berteman, oke?" kata Kinara sembari mengulurkan tangan.


Mulanya Lestari tampak ragu, tetapi setelah beradu tatap dengan ibunya sebentar, bocah itu mengangguk dan menyambut uluran tangan Kinara.


Kinara tersenyum. Kemudian setelah tautan tangan mereka terlepas, Kinara kembali menegakkan badan. Sebetulnya dia masih ingin mengobrol lebih banyak dengan Lestari, tetapi dia ingat kalau dia harus memasak untuk sarapan dan pekerjaannya itu sudah harus selesai sebelum matahari naik.


Maka, Kinara pun berpamitan dengan Lestari dan ibunya lalu segera berjalan meninggalkan kios tersebut.


Sebelum kembali ke rumah, Kinara berhenti sebentar di kios yang menjual ayam untuk membeli satu ekor ayam utuh. Dia meminta si pedagang untuk memotong ayam itu menjadi bagian-bagian yang kecil.


Setelahnya, Kinara berjalan pulang dengan hati yang riang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2