After The Rain

After The Rain
Feeling


__ADS_3

Sampai di rumah, Kinasa justru kehilangan kesempatan untuk mencecar Papa karena lelaki itu ternyata sudah tidur di sofa ruang tamu—atau sebenarnya, Papa cuma pura-pura tidur karena samar-samar Kinara bisa melihat kelopak mata Papa bergerak.


"Papa nungguin kamu dari tadi," Mama muncul dari balik pintu kamar.


"Kenapa nggak jemput? Biasanya ribut banget kalau Nara belum pulang pas udah mendekati jam malam?" Kinara sembari mencium tangan Mama, lalu melirik Papa lagi, yang kini sudah berubah posisi dari awalnya telentang menjadi miring ke kiri.


Mama cuma mengendikkan bahu, agaknya memang tidak mengerti dengan sikap suaminya sendiri. Lalu, Mama menarik lengan Kinara, menggiring anak gadisnya itu untuk segera masuk ke dalam kamar karena tengah malam sudah lama lewat.


"Sholat Isya nggak kelewat, kan?" tanya Mama.


"Nggak kok, tadi sholat di Orion bareng karyawan cewek yang lain."


"Ya udah, sekarang istirahat. Besok kamu ada kelas pagi, kan?" Mama membukakan pintu kamar untuk Kinara, lalu sedikit mendorong tubuh anak gadisnya untuk masuk.


"Iya. Night, Mama."


"Night, Sayang."


Setelah itu, pintu kamar ditutup. Kinara berjalan menuju meja belajar untuk menyimpan tasnya, kemudian merangkak naik ke atas kasur sembari mengecek ponsel yang sejak siang tadi sengaja dia matikan.


Ponsel dinyalakan, dan sembari menunggu, Kinara meletakkan benda pipih itu di atas nakas lalu berjalan ke lemari pakaian untuk mengambil baju tidurnya. Baju berwarna biru dengan aksen bunga-bunga warna putih itu kemudian dia kenakan setelah menanggalkan pakaian sebelumnya.


Pakaian kotor lalu dia bawa keluar untuk diletakkan di keranjang dekat pintu kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu ketika dia dapati sosok Papa sudah menghilang dari atas sofa. Hal itu tentu membuat Kinara akhirnya yakin kalau tadi Papa memang cuma pura-pura tidur saja, meksipun dia sendiri tidak tahu kenapa lelaki itu melakukannya.


Setelah berdecak, Kinara melanjutkan langkah. Keranjang pakaian kotor sudah kosong, yang artinya Mama sudah membereskan semuanya.


Sebelum kembali ke kamar, Kinara melipir dulu ke dapur untuk mengisi botol air minumnya agar nanti dia tidak perlu merayap ke dapur malam-malam karena haus. Dia juga sekalian mengisi gelas untuk dia minum sekarang.


Botol air sudah diisi, rasa haus juga sudah hilang, sekarang waktunya Kinara kembali ke kamar.


Kinara berjalan pelan-pelan, sembari mematikan lampu ruang tamu kemudian melesat masuk ke dalam kamar.


Botol air yang tadi dia letakkan di atas nakas, lalu ponsel yang kini sudah menyala dia ambil kemudian dia merangkak naik ke atas kasur.

__ADS_1


Di ponsel itu sudah ada enam panggilan tak terjawab, semuanya dari nomor baru yang dia yakin seratus persen adalah milik Atha. Jadi, dia tidak perlu berpikir seribu kali untuk langsung memasukkan nomor itu ke dalam daftar hitam.


"Mas Kala pasti belum sampai di rumah, ya? Tapi aku udah ngantuk banget kalau harus nungguin dia sampai," Kinara mulai galau. Biasanya, setelah pulang dari bepergian dengan Sekala, dia akan selalu menunggu sampai dia mendapat kabar bahwa lelaki itu sudah sampai di rumah dengan selamat.


Tapi masalahnya, saat ini dia benar-benar mengantuk. Tidur selama hampir satu jam di Orion ternyata tidak mampu menghilangkan rasa kantuk yang memang sudah dia tumpuk dari siang.


Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak menunggu kabar dari Sekala. Dia taruh lagi ponsel ke atas nakas, lalu mulai merebahkan diri dan memejamkan mata.


Tidak butuh waktu lama, dia sudah terlelap.


...****************...


Demi bisa mencecar Papa, Kinara rela bersiap lebih pagi. Selepas sholat subuh, dia langsung mandi dan berpakaian rapi, kemudian membantu Mama menyiapkan sarapan di dapur. Dia juga menghabiskan sarapannya dalam waktu singkat, jauh lebih cepat dari waktu yang biasa dia butuhkan untuk makan sehingga membuat Papa dan Mama tampak keheranan.


Dan sekarang ini, ketika jam baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi, Kinara sudah duduk anteng di sofa ruang tamu, menunggu Papa menyelesaikan sarapan untuk kemudian dia cegat dan ajak bicara sebelum lelaki itu berangkat kerja.


Kurang lebih lima belas menit menunggu, Papa akhirnya muncul dari dapur sambil menenteng tas kecil tempat lelaki itu biasa menyimpan ponsel dan dompet. Matanya memicing ke arah Kinara, kemudian terlihat bertanya-tanya tentang keberadaan putrinya di ruang tamu.


"Papa, we need to talk." Kata Kinara sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.


Mama menurut, wanita itu segera putar balik setelah menyerahkan kotak makan siang kepada Papa. Sedangkan Papa semakin dibuat keheranan ketika ia mulai melangkah mendekati Kinara, dan menemukan tatapan anak itu semakin intens.


Papa mengambil posisi duduk di samping kiri Kinara setelah meletakkan tas dan kotak makan di atas meja.


"Ada apa?" tanya Papa.


"I have a question," Kinara mengawali. Ia sedikit memiringkan posisi tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Papa. "Ini penting, jadi Nara harap Papa bisa memberikan jawaban yang jujur dan memuaskan." Imbuhnya.


"Soal apa?"


"Mas Kala,"


"Sekala?"

__ADS_1


Kinara manggut-manggut. "Once again, ini penting, jadi tolong kerja samanya."


Sekarang ini, Kinara terlihat seperti seorang petugas polisi yang sedang menginterogasi tersangka pencurian yang tertangkap basah kamera pengawas, namun masih berusaha mengelak. Papa tak berkutik saat manik gadis itu menatapnya intens, jadi yang bisa lelaki itu lakukan cuma manggut-manggut sebagai tanda persetujuan.


"As we know, Papa, kita udah sepakat untuk menerapkan jam malam and I never broke the rules. Tapi, beberapa kali dengan Mas Kala, Papa biarin Nara melanggar jam malam itu. Why? Apa alasannya yang bikin Papa memperbolehkan jam malam yang udah kita sepakati dilanggar?"


"Sebelum Papa jawab, let me ask you one question first." Papa terdengar tenang, sedangkan Kinara malah berbalik gelisah karena takut kalau pertanyaan balik yang Papa lontarkan akan membawanya ke dalam masalah.


"Can I?" tagih Papa. Dan Kinara tidak punya pilihan selain menganggukkan kepala.


"Papa cuma mau tahu, apa kamu pernah merasa nggak aman kalau sedang bersama Sekala? Pernah nggak, kamu merasa was-was, takut kalau Sekala akan berbuat macam-macam sama kamu?"


Ini bukan pertanyaan sulit sebenarnya, karena tepat setelah Papa mengatupkan bibir, Kinara sudah tahu jawabannya.


Tetapi, untuk lebih meyakinkan dirinya lagi, Kinara kembali memutar adegan demi adegan selama dia berada di sekitar Sekala. Dan memang benar, tidak sekali pun dia merasa tidak aman. Tidak ada perasaan was-was dan khawatir, karena dia tanpa sadar telah menaruh percaya kepada Sekala sebanyak itu.


"So? Udah dapat jawabannya?" tanya Papa lagi.


Kinara mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan Papa, kemudian, dia menggeleng pelan. "Nara nggak pernah merasa nggak aman. Mas Kala selalu jaga Nara dengan baik, dan nggak pernah berusaha melewati batas."


Papa menjentikkan jari sembari tersenyum tipis. "That's the point."


"Tapi itu nggak menjawab pertanyaan Nara."


"It does, Nara. Kamu udah tahu jawabannya."


Kinara semakin tampak kebingungan.


"Sama seperti kamu yang nggak pernah merasa nggak aman ketika sedang bersama dengan Sekala, Papa juga nggak pernah merasa nggak aman untuk menitipkan kamu ke dia. Mungkin ini bisa disebut sebagai feeling seorang ayah? Yang jelas, Papa merasa keputusan untuk menitipkan kepercayaan kepada Sekala adalah yang paling tepat."


Melihat Kinara yang tampaknya masih belum selesai mencerna ucapannya, Papa tersenyum, kemudian bangkit lalu mengusap pelan kepala anak gadisnya itu.


"Kamu mungkin belum paham, tapi nanti ketika kamu udah menjadi orang tua, kamu pasti akan mengerti apa yang Papa maksud."

__ADS_1


Lalu, Papa menyambar kotak makan dan tas dari atas meja, kemudian berlalu keluar rumah setelah membiarkan Kinara mencium tangannya.


Bersambung


__ADS_2