After The Rain

After The Rain
Soal Astari


__ADS_3

Andanu menatap lekat sosok Astari yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut perempuan itu setengah basah, sedang berusaha dikeringkan menggunkanan handuk kecil yang mengalung di leher.


"Apa?" tanya Astari, yang tahu kalau Andanu sedang menyimpan banyak sekali pertanyaan untuk dirinya.


Sejak kedatangan mereka ke Orion sore tadi, bocah itu terus-menerus menatapnya dengan cara yang berbeda. Tatapan penuh selidik, seolah dia adalah tersangka paling dicurigai dari sebuah kasus besar.


"Mbak suka sama bos-nya Kinara?" todong Andanu langsung, membuat Astari yang tadinya berniat mendaratkan bokongnya ke atas sofa ruang tamu sontak berhenti dan langsung menatap ke arahnya.


"Jujur aja sama aku," imbuhnya, seolah tidak peduli pada ekspresi cengo yang Astari tampakkan atas tuduhan tak berdasar yang dia layangkan.


"Aku sih nggak masalah kalau Mbak memang udah bisa buka hati lagi untuk orang lain, bagus malah. Cuma ya jangan bos-nya Kinara juga dong, Mbak. Dia itu masih bocah, umurnya jauh di bawah Mbak. Masa iya Mbak mau sama berondong, sih? Jangan, lah. Cari yang seumuran aja, biar-"


"Stop!" Astari menjulurkan tangannya, mengeluarkan jari telunjuk yang langsung ditempelkan pada bibir Andanu demi membungkam mulut lemesnya agar berhenti bicara.


"Kamu habis kesambet setan dari mana? Kenapa ngomongnya ngelantur begitu?" selidik Astari, namun Andanu malah menepis tangannya dengan sewot.


"Ngelantur dari mana? Aku bicara sesuai apa yang aku lihat, kok." Tangan Andanu terlipat di depan dada, matanya kembali menatap Astari intens.


"Emangnya apa yang kamu lihat, hm?"


"Mbak suka sama bos-nya Kinara, itu yang aku lihat."


Astari mengembuskan napas keras-keras. Entah dari mana datangnya pemikiran konyol itu, dia sendiri pun tidak tahu. Bisa-bisanya Andanu menyalahpahami dirinya dan menganggapnya menyukai Sekala, di saat sebenarnya yang terjadi adalah dia hanya melihat sosok Sekala sebagai seseorang yang mirip dengan orang yang sedang dia rindukan setengah mati.


Meskipun secara kasat mata mereka terlihat berbeda, tetapi jika diperhatikan dengan lebih teliti, ada beberapa fitur wajah Sekala yang sangat mirip dengan seseorang yang sedang Astari rindukan. Itulah mengapa dia seringkali memandangi Sekala cukup lama, karena dia seolah sedang memandangi seseorang itu.


Astari ingin mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Andanu, namun hal itu jelas mustahil karena dia tahu respon adiknya itu tidak akan baik. Dia jelas yang paling tahu kalau Andanu telah benar-benar membenci orang itu.


"Mbak nggak suka sama bos-nya Kinara, Nu." Kata Astari pada akhirnya.


"Tapi kelihatannya nggak gitu?" Andanu masih tidak percaya dengan penyangkalan dari kakaknya.


"Cara Mbak natap bos-nya Kinara itu beda banget, bener-bener kayak orang yang lagi kasmaran."

__ADS_1


"Itumah kamu!" sembur Astari tiba-tiba.


"Kok aku? Maksud Mbak, aku suka sama bos-nya Kinara gitu? Dih, amit-amit! Aku masih normal tahu, Mbak!"


"Kinara," sela Astari, sebelum Andanu semakin merepet ke mana-mana.


"Kamu suka sama Kinara," ucap Astari lagi, yang seketika membuat Andanu kicep.


Merasa posisinya sudah terpojok, Andanu mengembuskan napas keras-keras dan langsung ngeloyor begitu saja meninggalkan Astari, menerobos masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan gerakan membanting yang cukup keras sehingga membuat Astari terlonjak.


"Sontoloyo!" seru Astari, jantungnya serasa bergedebuk di lantai gara-gara ulah Andanu.


Namun kekesalan itu tidak bertahan lama, karena setelah itu, senyumnya mulai timbul dan perlahan-lahan melebar sampai ke telinga.


Andanu sedang salah tingkah sekarang, yang itu berarti, dugaannya memang benar. Bocah tengik itu memang menyukai Kinara.


"Dasar cupu! Suka sama cewek kok nggak berani ngomong," cibirnya, lalu dia mendudukkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.


...****************...


"Serius, Mas Kala. Mbak Astari itu suka sama Mas Kala. Peka dong, peka." Cerocos Kinara.


Sekala tidak menanggapinya, hanya terus berjalan menuju mobilnya yang sekarang diparkirkan di tempat parkir pengunjung karena lahan parkir miliknya di samping cafe sudah diserobot oleh Kinara. Makin kesini, gadis cerewet itu memang semakin menyebalkan saja.


"Maaaaasss..." rengek Kinara, saat Sekala sama sekali tidak menggubris kata-katanya.


Sekala berhenti melangkah, memejamkan matanya sejenak sembari menarik dan membuang napas untuk meredam emosi sebelum membalikkan badan dan menatap Kinara datar.


"Apa?" tanyanya.


Kinara berjalan mendekat, berhenti hanya dua langkah di hadapannya, meraih tangannya lalu menepuk-nepuk punggung tangannya beberapa kali. Mata gadis itu menatapnya lekat, penuh binar harapan yang Sekala sendiri tidak tahu untuk apa.


"Mbak Astari itu orang baik, Mas. Jadi, nggak ada salahnya untuk memberi dia kesempatan. Saya restui kok, Mas. Mas tenang aja, saya akan jadi pendukung nomor satu untuk kelancaran hubungan kalian ke depannya." Kata gadis itu, begitu lancar seperti jalan tol yang bebas hambatan.

__ADS_1


Sekala mendengus, mengempaskan tangan Kinara pelan kemudian bergegas masuk ke dalam mobil sebelum bibir Kinara kembali meracaukan hal-hal yang tidak masuk akal.


"Mas Kalaaaaa maaaah..." rengek Kinara lagi, tapi kali ini Sekala tidak peduli. Dia malah menyalakan mesin, bersiap untuk tancap gas saat itu juga.


Kinara yang tahu usahanya hanya akan berakhir sia-sia pun akhirnya melangkah gontai menuju mobilnya sendiri.


Sambil bersungut-sungut, dia masuk ke dalam mobil. Dipasangnya seatbelt dengan bibir yang cemberut. Mesin dinyalakan dan pedal gas segera diinjak sehingga mobil mulai melaju dengan kecepatan pelan.


Di belakangnya, Sekala menyusul. Seperti rutinitas yang telah mereka lakukan selama beberapa hari terakhir, Sekala akan membuntuti mobilnya dari belakang dan mengawal sampai dia tiba di rumah. Kinara tidak bisa menolak, karena perintah untuk mengawal itu turun langsung dari Papa.


Ha ... entah sejak kapan Papa dan Sekala sudah sampai di tahap di mana bisa saling memberi dan menjalankan perintah.


...****************...


Di sepanjang perjalan pulang dari mengawal Kinara, pikiran Sekala melayang-layang di udara. Dia terus memikirkan ucapan Kinara soal Astari yang katanya menaruh hati kepadanya.


Masalahnya, dia bukannya tidak peka. Dia jelas tahu kalau ada yang berbeda dari cara Astari menatap dirinya. Tetapi itu bukan seperti cara seseorang menatap orang yang disuka atau dikagumi, melainkan tatapan yang ditujukan pada hal-hal yang mengingatkan pada hal lain, yang entah apa.


Sekala yakin kalau Astari tidak menyukainya, dan Kinara benar-benar salah paham.


Sebenarnya, tidak masalah kalau siapapun menyalahpahami sikap Astari terhadap dirinya. Siapapun, asal jangan Kinara.


Karena melihat gadis itu begitu bersemangat menjodohkan dirinya dengan Astari, dan bahkan mengatakan akan menjadi pendukung untuk hubungan mereka, membuat dada Sekala terasa nyeri.


Sebab, bukan Astari yang dia inginkan, melainkan Kinara.


Entah sejak kapan perasaannya ini dimulai, tetapi Sekala jelas yakin kalau dia memang menginginkan gadis itu. Lebih dari sekadar keinginan untuk memiliki, Sekala ingin terus berasa di sisi gadis itu untuk memastikan bahwa dia aman. Bahwa tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti hatinya yang rapuh.


Sekala menyayangi Kinara, itu yang dia tahu.


"Seenaknya aja kamu ngataian saya nggak peka, padahal kamu sendiri yang nggak peka sama perasaan saya, Kin." Gumamnya, sebelum mobilnya melaju semakin kencang menembus jalanan yang lengang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2