After The Rain

After The Rain
Bisik-bisik Tetangga


__ADS_3

Mata kuliah pertama dimulai pukul sepuluh, tetapi Kinara sudah duduk di ruang kelas sejak pukul sembilan lewat lima belas menit. Tujuannya hanya satu, agar ia bisa numpang WiFi kampus untuk mengumpulkan beberapa bahan dari internet demi mengerjakan tugas kuliahnya. Semalam saat dia menggunakan laptop untuk mencari lowongan pekerjaan, Kinara hanya mengandalkan hotspot dari ponselnya dan kecepatan internet yang ada benar-benar tidak bisa diandalkan.


Beberapa hari setelah kepindahan mereka, Papa sudah pernah bilang kalau beliau akan memasangkan WiFi di rumah mereka demi memudahkan proses belajar mengajar yang tengah Kinara jalani. Tetapi sampai seminggu lebih sejak Papa mengatakan itu, petugas dari provider bersangkutan belum sama sekali menampakkan diri. Entah apa yang menjadi penghalangnya, Kinara tidak tahu karena Papa memang tidak mengatakan apa-apa terkait hal itu.


Akhirnya, Kinara cuma bisa bersabar sembari memanfaatkan fasilitas yang masih dia miliki. Walaupun lemot, setidaknya dia masih bisa mengakses internet dengan paket data bulanan termurah yang kuotanya di bagi-bagi. Seumur hidup, Kinara tidak pernah merasakan kekhwatiran tentang kesulitan mengakses internet. Tetapi segala hal di hidupnya memang telah berubah bahkan dari hal-hal paling kecil yang dulu luput dari perhatian.


"Oke, selesai." Kata Kinara setelah menyimpan semua hasil kerjanya.


Sejenak, Kinara mengalihkan pandangan dari layar laptop ke arah jam dinding yang tergantung di tembok. Pukul sepuluh kurang sepuluh. Biasanya, kelas sudah akan ramai didatangi oleh beberapa mahasiswa rajin yang memang seniat itu untuk datang lebih awal. Selain karena memang rajin, para mahasiswa itu juga serempak datang lebih awal karena dosen di mata kuliah mereka yang ini terkenal killer dan tidak akan mentolerir siapa pun yang datang terlambat.


Terakhir kali sebelum liburan semester, Dahayu juga sempat menjadi korban. Gadis itu tidak diperbolehkan mengikuti kelas dan terpaksa ikut tiga hari bimbingan untuk menebus satu jam pelajaran yang dia lewatkan.


Tapi hari ini kenapa sekumpulan mahasiswa rajin itu belum juga menampakkan diri di jam segini? Dahayu juga. Kenapa gadis itu belum menampakkan diri? Apakah belum kapok setelah menerima hukuman dari dosen mereka?


Kinara memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing. Dia kembali menekuri laptopnya. Kali ini, untuk mengintip lagi bangunan cafe yang sudah dia incar tadi pagi. Rencananya, sore nanti setelah kelas terakhirnya selesai, dia akan mendatangi cafe itu untuk mencoba peruntungannya.


Bagai tersihir oleh pesona yang ditawarkan cafe tersebut, Kinara jadi begitu fokus menekuri layar laptopnya. Saking fokusnya, Kinara bahkan tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Kinara tidak sadar kalau suasana kelas masih sepi dan tidak ada satu mahasiswa pun yang bergabung dengannya.


Saat sadar, waktu sudah berlalu lebih jauh. Kinara mengangkat kepala, hanya untuk dibuat melongo ketika mendapati jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Itu artinya, jam mata kuliahnya sudah terlewat. Tapi, kenapa masih tidak ada siapa pun yang masuk ke dalam kelas? Bahkan si dosen killer pun tidak nampak batang hidungnya.


Karena rasa heran yang membumbung tinggi, Kinara merogoh ponselnya yang ada di dalam tas. Dia berniat menghubungi humas yang biasa menyampaikan berita terkait kelas yang mereka ikuti. Tetapi belum juga niat itu terlaksana, Kinara sudah dibuat menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang campur aduk.


Melalui pop up notifikasi, Kinara melihat ada banyak chat di grup khusus mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Dari sana saja Kinara sudah mencium ada yang tidak beres. Grup itu hampir tidak pernah hidup karena memang tidak ada informasi apa pun yang bisa dibagikan. Dosen pengajar mereka selalu datang dalam segala kondisi. Tidak peduli hujan badai angin ribut, pria berusia akhir lima puluhan itu akan tetap mengajar.


Kinara lalu membuka chat yang telah tertumpuk, menggulir layar hingga ia sampai di chat paling atas dan seketika itu juga Kinara merasakan tenggorokannya tercekat.

__ADS_1


Bayu, seksi Humas di mata kuliah ini mengabarkan bahwa kelas pagi ini ditiadakan karena dosen pengajar mereka mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit. Beberapa mahasiswa yang tidak memiliki kelas dalam waktu dua sampai tiga jam ke depan telah ditugaskan untuk pergi ke rumah sakit sebagai perwakilan.


Ajaibnya, Kinara hampir tidak mendapati umpatan-umpatan atau pun kata-kata kasar dari para mahasiswa yang ditujukan kepada dosen itu. Mereka semua bersimpati dan beramai-ramai mendoakan semoga sang dosen cepat diberi kesembuhan.


Satu hal lagi yang Kinara sadari akan hal itu. Bahwa kita tidak bisa memandang seseorang sebagai pribadi yang buruk hanya karena sikapnya yang tidak mengenakkan hati. Karena selalu ada sisi baik dari setiap manusia di dunia ini. Dalam kasus ini, Kinara jelas paham bahwa sikap tegas yang ditunjukkan oleh dosen ini yang tidak mau mentolerir mahasiswa yang telat adalah semata-mata demi untuk mengajari mereka kedisiplinan.


Setelah mengetikkan beberapa kalimat turut berduka atas kemalangan yang menimpa sang dosen juga tidak lupa menyelipkan seuntaian doa, Kinara segera membereskan barang-barangnya. Berada di dalam ruang kelas ini tidak terlalu buruk karena dia bisa mengerjakan tugasnya yang lain dengan tenang. Tapi, saat ini Kinara punya hal lain untuk dilakukan. Jadi dia bergegas pergi.


...****************...


Atha menyambutnya dengan senyum yang merekah. Laki-laki itu sedang nongkrong dengan tiga orang teman di gazebo belakang fakultas Teknik. Kinara sempat melihat ada sebatang rokok yang terselip di antara jemari panjang Atha, namun laki-laki itu buru-buru membuangnya saat menyadari kehadirannya tadi.


"Kok kamu di sini? Bukannya lagi ada kelas?" tanya Atha sembari berjalan menghampiri Kinara yang memang memutuskan untuk berdiri agak jauh dari tempat Atha dan teman-temannya duduk.


"Ada apa?" tanya Atha, merujuk pada tujuan Kinara menghampirinya jauh-jauh dari gedung fakultasnya yang berjarak dari ujung ke ujung dengan fakultas Teknik.


"Aku mau kasih lihat kamu sesuatu." Ucap Kinara sembari merogoh ke dalam tas.


"Apa?"


"Bentar." Sahut Kinara, masih berusaha mengambil ponselnya yang terjerembab cukup dalam di antara buku-buku dan alat tulis miliknya.


Setelah berhasil mendapatkan ponselnya, Kinara kembali mendongak menatap Atha. "Kita bisa cari tempat ngobrol yang nyaman, nggak? Nggak enak kalau di sini, ada teman-teman kamu."


"Boleh. Ke taman depan aja, ya."

__ADS_1


Kinara mengangguk tanda setuju. Kemudian, Atha berjalan kembali ke gazebo untuk membereskan barang-barang sekaligus berpamitan dengan teman-temannya. Laki-laki itu kembali tak lama kemudian dan langsung menggenggam tangan Kinara erat.


Mereka lalu berjalan beriringan meninggalkan area gazebo.


Sementara di belakang, tiga teman Atha mulai saling berbisik.


"Bajingan! Rokok gue itu tadi yang dia minta, main dibuang aja."


"Maklumlah, ada pawangnya."


"Emang kalau bucin mah beda."


"Tapi, Atha mah tolol, ya?"


"Tolol kenapa?"


"Dia kan ganteng, tajir melintir, kenapa maunya sama modelan Kinara yang mukanya pas-pasan dan penampilannya biasa aja?"


"Mulut lo lemes lamat."


"Lah, emang bener kok!"


Mereka tidak pernah tahu, bahwa bisik-bisik itu ternyata sampai juga di telinga Kinara. Gadis itu mengeratkan genggaman di tangan Atha dan berusaha memperlebar ayunan langkahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2