
Setengah delapan malam, Kinara memarkirkan mobilnya di halaman depan. Ketika turun, ia menemukan Mama sedang duduk di teras bertemankan secangkir teh dan satu piring berisi berbagai macam gorengan.
Kinara berjalan mendekat, mendaratkan sebuah kecupan di pipi Mama sebelum mengambil posisi duduk di seberang wanita itu. Ia tidak bisa menahan diri dari godaan gorengan yang melambai-lambai di atas piring, jadi Kinara mencomot satu walau pada kenyataannya perutnya sudah kenyang setelah makan bakso bersama Dahayu.
"Mama kok sendirian? Papa belum pulang?" tanyanya dengan mulut setengah penuh.
"Belum. Katanya sih udah dalam perjalanan." Mama memerhatikan Kinara yang mulai mengunyah gorengan tempe dengan khidmat. Gadis itu menganggukkan kepala sebagai respon atas jawaban Mama dan lanjut menikmati gorengannya dalam diam.
Tak lama setelah gorengan di tangan habis, Kinara melihat sosok Papa berjalan dari kejauhan. Pria itu melangkah lebar dengan kepala dan punggung yang tegak, seolah tidak ingin menampakkan kepada siapa pun bahwa sesungguhnya saat ini dia sedang dalam keadaan paling lemah.
Mama dan Kinara menyambut kehadiran Papa dengan senyum yang merekah. Sedari dulu, kepulangan Papa dari kantor selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh mereka karena saat itu mereka bisa menghabiskan waktu untuk bertukar cerita. Walau kini Papa sudah tidak lagi bekerja di kantornya sendiri, tapi kepulangan Papa tetap masih menjadi sesuatu yang membuat Kinara membumbungkan perasaan bangga terhadap ayahnya itu.
"Kopi atau teh?" tawar Mama sembari mengambil alih tas kerja dari tangan Papa.
Papa dengan senyum hangatnya menjawab pelan, "Kopi." Yang kemudian langsung diangguki oleh Mama.
Wanita itu lalu menuntun Papa untuk duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan segala kebutuhan sang suami.
Selepas kepergian Mama, Kinara tidak lantas menodong Papa dengan berbagai pertanyaan yang sebenarnya memenuhi kepala sejak siang tadi. Dia justru asik memperihatinkan raut wajah lelah Papa yang kentara, namun berusaha keras disembunyikan di balik senyum yang masih merekah hingga sekarang.
__ADS_1
Garis-garis halus yang mulai tampak di kening Papa adalah bukti bahwa pria itu telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk bekerja keras demi bisa memberi makan keluarga kecilnya. Bulir kecil keringat yang menghiasi pelipis Papa juga semakin menunjukkan bahwa meski jabatannya sudah tidak lagi tinggi, Papa masih memegang teguh tanggungjawabnya sebagai pencari nafkah utama di rumah ini.
Hening yang diam-diam mengambil langkah mendekat seketika putar balik ketika Papa menolehkan kepala, mengulas senyum pada putri semata wayangnya yang kini menatapnya penuh puja.
"Gimana kuliahnya hari ini?" tanya Papa.
"Nggak terlalu baik." Kinara menjawab setelah berpikir selama beberapa saat.
Mendengar jawaban Kinara, Papa sontak menaruh perhatian lebih kepadanya. Sorot mata Papa mendadak berubah menjadi khawatir. Dan Kinara cuma bisa terkekeh melihat ayahnya itu melayangkan tatapan yang demikian.
"Ada masalah apa?" tanya Papa masih dengan raut khawatir.
Maka setelah menarik satu napas dan mulai menegakkam punggungnya, Kalea sedikit menggeser kursi agar bisa berhadapan dengan Papa. Dengan kedua tangan yang saling bertaut dan bertumpu di atas meja, Kinara memulai ceritanya.
Papa mendengarkan setiap detail yang Kinara sampaikan tanpa secuil pun kata yang luput dari perhatiannya. Sesekali pria itu mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda bahwa sejauh ini, dia masih mendengarkan penjelasan Kinara dengan baik.
Lalu saat Kinara sampai pada akhir cerita dengan raut sedih yang kentara, Papa mengulurkan tangan. Diusapnya punggung tangan Kinara beberapa kali demi menenangkan hatinya yang gundah. Sedari kecil, Papa telah sadar bahwa Kinara memiliki hati yang terlampau lembut ketimbang orang-orang di sekitarnya. Anak itu selalu ikut bersimpati pada apa-apa yang terjadi dengan orang-orang di sekelilingnya, seolah hal itu terjadi kepada dirinya sendiri.
Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa menarik simpati Kinara mungkin cuma Sebastian. Dan Papa kini tentu tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
"Kasihan Layla, tapi Kinara juga nggak bisa bantu apa-apa." Kata Kinara dengan kedua tangan yang semakin bertaut erat.
"Bukan kewajiban kamu untuk membantu semua orang yang kamu temui di dunia ini, Nara." Nasihat Papa. Tepukan yang tadi dilayangkan ke punggung tangan Kinara kini berubah menjadi usapan-usapan halus demi menenangkan putrinya.
"Kalau kamu memang mau membantu, cukup doakan saja semoga Layla diberi ketabahan menghadapi semua yang terjadi dalam hidupnya. Semoga Tuhan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik untuk dia ke depannya, dan semoga tidak ada lagi kasus-kasus seperti itu terjadi di sekitar kita."
Untuk beberapa alasan, Kinara selalu menjadikan Papa sebagai orang nomor satu yang dia andalkan ketika dirinya butuh kalimat-kalimat baik semacam ini. Meskipun dia pernah bilang bahwa cinta pertamanya adalah Mama, tapi Papa ibarat teman mengobrol yang bisa mengerti isi kepalanya. Mama terlalu pendiam dan tidak terlalu bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam kepala, jadi setiap kali ada masalah yang mengganggu pikirannya, Kinara selalu datang kepada Papa.
Saat Kinara merasakan kesedihan yang menumpuk di dalam dadanya perlahan-lahan menepi setelah mendengar kalimat bijak dari Papa, Kinara sepenuhnya membungkam mulut. Tidak ada lagi pertanyaan atau pun cerita yang terlontar. Ditemani angin yang berembus pelan menerbangkan anak-anak rambutnya yang mulai memanjang, Kinara menghabur ke dalam pelukan Papa.
Di dalam hati, Kinara mulai membisikkan banyak sekali doa. Untuk Layla. Untuk Dahayu. Untuk orang-orang di sekitarnya yang sedang dilanda kesusahan. Juga untuk dirinya sendiri.
Di tengah doa itu, Kinara menyelipkan sebuah kalimat yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Sebaris kalimat penghiburan atas apa yang telah dia alami, juga kalimat pengakuan bahwa dengan setulus hati, dia telah memaafkan Papa. Untuk kepercayaan yang pria itu berikan sepenuhnya kepada Sebastian. Untuk tidak mendengarkan nasihatnya agar menarik garis batas dengan Sebastian. Untuk apa pun. Kinara telah memaafkan Papa untuk kesalahan apa pun yang telah pria itu buat sebelumnya.
Mulai malam ini, Kinara hanya akan fokus pada upaya mereka memperbaiki hidup. Pada usaha mereka untuk bangkit dari keterpurukan dan menjaga apa yang masih mereka miliki sampai sekarang.
Sementara itu, Mama menghentikan langkah di balik pintu ketika mendapati suami dan putri semata wayangnya tengah berpelukan. Mama tidak sempat mendengar apa pun yang mereka bicarakan sebelumnya, tapi melihat bagaimana lengan-lengan itu saling mendekap dengan erat, Mama merasakan hatinya perlahan-lahan menghangat.
Bersambung
__ADS_1