
Setelah diperiksa, ternyata pesan yang masuk ke dalam ponsel Kinara berasal dari nomor tidak dikenal.
Meksipun sempat ragu karena takut itu adalah pesan spam, atau lebih buruk lagi modus penipuan, Kinara tetap membuka pesan tersebut dan membacanya sampai habis.
Selamat sore, Kak Kinara... Saya Ardi, dari cafe Orion. Saya mau infokan ke Kak Kinara kalau saat ini owner kami sudah ada di tempat, dan jika Kak Kinara masih berminat untuk part time, boleh datang berkunjung ke cafe sore ini setelah selesai kuliah ya, Kak.
Kinara membaca ulang pesan itu sebanyak tiga kali, hanya untuk meyakinkan diri bahwa dia tidak sedang berhalusinasi.
Lalu setelah dia yakin bahwa ini bukanlah mimpi, Kinara menggerakkan jemarinya di atas keypad untuk membalas pesan yang Ardi kirimkan.
Sore juga, Mas Ardi. Terima kasih sudah mengabari saya, sekarang juga saya jalan ke sana ya, Mas.
Setelah balasan dikirimkan kepada Ardi, dan dia telah menyimpan nomor lelaki itu, Kinara mengayunkan langkah sembari bersenandung riang. Sepenuhnya mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar yang barangkali masih bergosip tentang dirinya secara diam-diam.
Langkah demi langkah yang Kinara ambil berhasil membawanya sampai di depan cafe, yang baru dia sadar bernama Orion.
Tanpa keraguan, Kinara mendorong pintu kaca dan berjalan masuk ketika lonceng di atas pintu itu berbunyi nyaring.
Sore ini, Orion terlihat ramai. Dari total kapasitas meja yang ada, hanya tersisa dua meja yang kosong tak berpenghuni. Sisanya dipenuhi orang-orang yang Kinara yakin sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa di kampusnya.
Kinara sempat memperhatikan sekelilingnya sebentar, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Ardi yang sudah menunggunya di balik counter. Pemuda itu tersenyum ramah padanya, dan Kinara pun membalas senyum itu tidak kalah ramahnya.
"Halo, Kak Kinara..." sapa Ardi begitu Kinara sampai di depan counter.
"Halo, Mas Ardi." Kinara balik menyapa.
"Udah siap buat ketemu owner kita?" tanya Ardi, masih mempertahankan senyumnya.
"Siap, Mas!" seru Kinara semangat.
Ardi tekekeh melihat Kinara yang sampai mengepalkan tangannya sejajar dada. Dalam sejarah hidupnya bekerja di cafe ini, Ardi belum pernah menemukan calon pekerja part time yang aura-nya sepositif Kinara. Dia yakin, anak ini akan membawa dampak baik pada cafe mereka ke depannya, jika sang owner menghendaki untuk mempekerjakannya di sini.
"Follow me," ucap Ardi sembari mengarahkan kedua tangannya ke pintu pintu yang ada di sebelah counter.
Kinara menurut, dia berjalan mengikuti Ardi, masuk ke bagian belakang cafe, yang berfungsi sebagai dapur dan tempat penyimpanan bahan makanan atau minuman.
Dua orang pekerja perempuan yang sedang menyiapkan pesanan berhenti sejenak dari kegiatan mereka, hanya untuk menyapa Kinara sebentar kemudian melanjutkan pekerjaan mereka setelah Kinara membalas sapaan mereka denga senyuman.
Kinara pikir, ruangan tempat si owner berada ada di lantai yang sama, karena Kinara melihat ada pintu lain yang terletak di bagian pojok dekat lemari penyimpanan. Ternyata, dia salah. Ardi malah menuntunnya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Setelah mendaki beberapa anak tangga, mereka tiba di lantai dua dan Ardi menggiringnya menuju sebuah ruangan yang terletak di ujung.
Lagi-lagi Kinara menurut. Dia masih mengekori Ardi dengan memberi jarak sekitar tiga langkah, sebagai bentuk antisipasi kalau-kalau Ardi mengerem langkahnya tiba-tiba.
Mereka berhenti di depan pintu berwarna coklat tua. Ardi melabuhkan tiga kali ketukan, kemudian memutar kenop dan mendorong pintu hanya agar sedikit terbuka. Lalu, Ardi berbalik menatap Kinara.
"Silakan masuk, owner kami udah menunggunya di dalam." Ardi mempersilakan.
"Makasih, Mas Ardi." Kata Kinara, kemudian berjalan menuju pintu dan menunggu sampai Ardi pergi sebelum mendorong pintu di hadapannya agar terbuka lebih lebar.
Pemandangan yang pertama kali menyapa Kinara ketika pintu terbuka adalah sesosok laki-laki yang berdiri membelakanginya, tatapannya terlempar jauh menembus jendela kaca besar di hadapannya. Pakaiannya terlihat cukup santai untuk ukuran owner sebuah cafe yang hendak mewawancarai calon pekerja.
Kinara sempat mengutarakan pandangan sebentar. Meneliti setiap sudut ruang kerja yang tidak terlalu luas namun terasa nyaman karena tidak banyak perabotan yang tersimpan di sana.
Di belakang laki-laki itu, ada sepasang meja dan kursi, nakas kecil yang letaknya di sebelah kanan meja dan ada single sofa di pojok sebelah kiri ruangan, posisinya menyerong sehingga memungkinkan siapa pun yang duduk di atasnya bisa menikmati pemandangan luar melalui jendela kaca besar.
Selain benda-benda tadi, tidak ada lagi perabotan lain. Ah, hampir lupa. Ada sebuah pintu lain di bagian kiri ruangan, yang Kinara yakin itu adalah pintu kamar mandi.
__ADS_1
Setelah puas menjelajah, Kiara kembali memusatkan perhatiannya kepada laki-laki yang masih memunggunginya itu.
"Permisi, Pak." Kata Kinara sesopan mungkin. "Saya mahasiswi yang mau melamar part time di sini." Lanjutnya, seiring dengan detak jantungnya yang tiba-tiba saja meningkat.
Entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasa gugup. Padahal di sepanjang perjalanan ke sini tadi, dia begiru bersemangat. Tetapi sekarang ketika dia dihadapkan langsung dengan pemilik cafe yang sudah membayangi malam-malamnya yang lalu, Kinara seolah kehilangan daya.
Lalu, saat laki-laki yang berdiri beberapa meter di depannya itu berbalik dan tatapan mereka bertemu, baik Kinara maupun laki-laki itu sama-sama terkejut dan terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hanya untuk mengeluarkan satu kata di saat yang bersamaan.
"Kamu..."
...****************...
"Jadi, kamu nggak bohong sewaktu bilang kalau kamu mahasiswi semester empat?" tanya lelaki tadi, Sekala, yang kini duduk di atas single sofa yang dia pindahkan ke belakang meja. Kursi kerjanya yang beroda digeser ke depan, agar Kinara bisa duduk dan mereka bisa mengobrol dengan nyaman.
"Memangnya muka saya kelihatan kayak pembohong?" Kinara balik bertanya. Sebenarnya, dia masih tidak menyangka kalau owner cafe ini adalah Sekala, laki-laki muda yang dia temui di jembatan penyeberangan beberapa hari yang lalu.
Tadinya, ketika berbicara soal orang-orang yang memiliki bisnis seperti ini, Kinara pikir dia akan bertemu dengan seorang pria matang berusia tiga puluhan. Sama sekali tidak terpikir olehnya kalau dia akan menemukan laki-laki muda berusia awal dua puluhan sebagai gantinya.
Oh, apakah Sekala memang baru saja berumur dua puluhan? Hmm ... menurut penglihatan Kinara sih, dia yakin laki-laki ini hanya beberapa tahun lebih tua darinya. Mungkin dua atau tiga tahun? Tidak tahu. Yang jelas Kinara yakin Sekala masih umur dua puluhan. Titik.
Sekala terkekeh ringan mendengar pertanyaan balik Kinara. Kalau boleh jujur, dia memang meragukan pengakuan Kinara malam itu. Karena sumpah demi apapun, Kinara masih terlihat seperti remaja SMA. Menggemaskan.
"Kenapa Mas Kala ketawa?" tanya Kinara yang tidak mengerti apa yang lucu dari pertanyaannya sebelumnya.
"Kala?" tanya Sekala heran.
"Kenapa? Nama Mas ini, Sekala, kan? Memangnya saya salah kalau panggil Mas Kala?" lagi-lagi Kinara malah balik bertanya.
"Ya, nggak salah, sih." Kata Sekala. "Tapi, agak asing aja rasanya. Soalnya selama ini orang-orang selalu manggil saya Sekala."
"Kepanjangan," sela Kinara. Memang, nama Sekala terlalu panjang, kan? Bukankah lebih enak kalau panggil Kala saja?
"Jadi, saya boleh nggak panggilnya Mas Kala aja?" tagihnya, karena merasa belum mendapatkan jawaban. Karena kalau Sekala memang keberatan, dia terpaksa memanggil lelaki itu dengan lengkap.
"Boleh," ucap Sekala.
"Oke!" Kinara menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya, membentuk huruf O.
"Omong-omong," Sekala menegakkan punggungnya, mulai memasang wajah serius.
Gara-gara itu, Kinara juga jadi ikut-ikutan tegang. Kembali merasa gelisah saat Sekala tidak kunjung bersuara lagi setelahnya.
Barulah setelah sebelas detik berlalu, Sekala kembali membuka mulutnya.
"Posisi barista udah diisi sama orang lain,"
Kinara melenguh kecewa. Bahunya merosot tajam dan bibirnya memberengut. Kalau posisi barista yang dia incar memang sudah diisi oleh orang lain, kenapa Sekala masih memanggilnya ke sini? Hanya untuk memberinya harapan palsu? Jahat sekali!
"Nggak usah cemberut, dengerin saya dulu sampai selesai." Lanjut Sekala sebelum wajah Kinara semakin ditekuk.
Kinara mengangkat wajahnya, menatap Sekala lekat-lekat selagi menunggu laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
"Posisi barista udah diisi orang lain, tapi saya butuh kasir untuk gantiin Ardi karena dia udah nggak bisa kerja full time lagi sekarang." Jelas Sekala, dengan sabar dan tenang.
"Kenapa?"
"Apanya?" sebelah alis Sekala terangkat.
__ADS_1
"Kenapa Mas Ardi nggak bisa kerja full time lagi?" Kinara memperjelas pertanyaannya.
"Harus jagain istrinya yang lagi sakit."
"Ha?!"
"Kenapa, sih?"
"Mas Ardi udah punya istri?"
"Udah,"
Kinara terdiam sebentar. Apa iya, Mas Ardi sudah punya istri? Tapi, kan, Mas Ardi kelihatan masih muda. Ini Kinara yang salah menebak umurnya, atau memang Mas Ardi saja yang awet muda?
"Kenapa? Kamu naksir, ya, sama Ardi?" goda Sekala tiba-tiba, yang sontak membuat Kinara menatap ke arahnya dengan mata yang mendelik.
"Mana ada!" kilahnya. "Saya cuma nggak tahu kalau ternyata Mas Ardi udah beristri, soalnya kelihatannya masih muda." Lanjutnya.
"Emang kalau masih muda, nggak boleh punya istri?" tanya Sekala, sontak membuat Kinara terdiam.
Ya boleh-boleh saja, sih. Tapi, kan ... Kinara menggelengkan kepalanya, menolak melanjutkan dialog yang ada di sana. Mau sudah menikah atau belum, itu bukan urusannya. Dia tidak boleh kepo pada kehidupan orang lain. Tidak boleh.
"Jadi, kapan saya boleh mulai kerja?" tanya Kinara, mengalihkan pembicaraan.
"Loh, memangnya saya udah bilang kalau kamu diterima?" goda Sekala lagi. Sengaja, ingin memeriksa bagaimana reaksi Kinara.
"Jadi, saya nggak diterima?" tanya Kinara lemah. Bahunya kembali merosot.
Sekala hampir saja menyemburkan tawa. Tidak bisa. Gadis bernama Kinara ini terlalu lucu, dia tidak boleh melewatkannya begitu saja.
"Kamu maunya diterima atau nggak?"
"Diterima, lah, Mas...."
"Alasannya? Selain karena kamu butuh uang,"
"Saya suka pohon Flamboyan yang di depan! Cantik ... hehehe." Kinara nyengir di akhir kalimat, membuat Sekali geleng-geleng kepala. Orang macam apa yang akan menggunakan pohon Flamboyan sebagai alasan untuk bisa diterima kerja? Sekala rasa, tidak akan ada orang seperti itu selain Kinara.
Maka, karena dia tahu Kinara memang se-unik itu, Sekala langsung menganggukkan kepala dan menyodorkan tangannya ke arah Kinara.
Kinara dengan cengirannya yang masih tersisa pun sontak terdiam, memandangi Sekala dan uluran tangannya secara bergantian.
"Selamat, kamu diterima bekerja di Orion." Kata Sekala, setelah akhirnya Kinara menyambut uluran tangannya.
"Serius, Mas?" Kinara masih agak tidak percaya setelah tautan tangan mereka terlepas. Dia menatap Sekala lekat-lekat, berusaha mencari keyakinan kalau lelaki itu tidak sedang bercanda.
"Memangnya muka saya kelihatan bercanda?" Sekala menunjuk dirinya sendiri, membuat Kinara menggeleng cepat.
"Besok bisa mulai kerja?"
"Bisa, Mas!"
Wah ... semangatnya nggak main-main. Batin Sekala, kemudian dia tersenyum.
"Ya udah, sana pulang. Besok, setelah selesai kelas, kamu langsung ke sini."
"Oke, Mas. Makasih sekali lagi." Kinara bangkir dari kursinya, membungkuk sedikit ke arah Sekala sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih kemudian melenggang keluar dari ruangan Sekala dengan hati yang berbunga-bunga.
__ADS_1
Akhirnya, impiannya untuk bekerja di cafe ini terwujud juga. Ah ... senangnya.
Bersambung