
Siangnya, entah kesambet setan apa, Papa tiba-tiba rajin sekali membantu Mama menanam beberapa jenis bunga baru untuk dipajang di teras depan.
Dengan lengan baju pendek yang digulung sampai menampakkan beberapa helai bulu ketiak yang mencuat keluar karena belum dicukur, Papa mengangkat pot yang sudah ditanami bunga dan mulai menatanya di teras, menyusul berapa bunga lain yang sudah lebih dulu menjadi penghuni.
Sementara Mama, masih asik bermain tanah, menyekop tanah dari karung kecil dan memasukkannya ke dalam pot yang sudah diisi bunga. Setelah pot terisi penuh dengan tanah dan akar-akar bunga tak lagi nampak, Mama mengoper pot itu kepada Papa untuk ditata lagi.
Kinara sendiri cuma duduk diam di kursi teras, tampak seperti anak durhaka yang cuma diam melihat kedua orang tuanya bekerja keras sementara dirinya cuma duduk ongkang-ongkang kaki sambil mengunyah biskuit Regal dengan tampang polos tak berdosa.
Bukannya dia tidak mau membantu, tetapi Mama sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak ikut campur dalam urusan menanam bunga. Karena terakhir kali dia melakukannya, tanah-tanah yang seharusnya dimasukkan ke dalam pot justru berakhir mengenai matanya dan agenda menanam bunga menjadi berantakan karena dia asik berteriak tentang matanya yang kelilipan.
"Yang ini kok pendek, kayak Kinara?" celetuk Papa sembari menunjuk bunga Geranium berwarna kemerahan.
Kinara yang hendak menyuapkan biskuit ke dalam mulut sontak berhenti bergerak, memicing tidak suka ke arah Papa yang malah cengengesan.
"Nggak boleh bunga shaming." Jawab Mama.
Di saat Kinara berpikir Mama akan mengatakan kepada Papa untuk tidak mengatainya pendek, wanita itu malah mengatakan untuk jangan melakukan bunga shaming. Wah, benar-benar di luar dugaan. Sejak kapan keluarganya mendadak menjadi keluarga lawak seperti ini?
"Tapi, meskipun pendek, dia yang paling cantik." Papa sembari melirik Kinara. Sedangkan yang dilirik cuma mendengus dan melanjutkan aktivitasnya memakan biskuit.
Mama tidak menyahuti dan hanya menggelengkan kepala pelan. Kegiatan menanam bunga sudah selesai, saatnya mereka mencuci tangan dan segera masuk ke dalam rumah karena cuaca sudah semakin panas.
Mama menarik pelan lengan Papa, menuntun suaminya itu menuju keran air di pekarangan samping, membantunya mencuci tangan dengan bersih kemudian mereka berjalan beriringan menuju ke dalam rumah, tanpa mengajak Kinara.
"Mohon maaf, Bapak, Ibu, anaknya ketinggalan!" teriak Kinara kepada Papa dan Mama yang sudah menghilang di balik pintu, sama sekali tidak memedulikan teriakannya.
Karena toh keberadaannya tak dianggap, Kinara memutuskan untuk berdiam diri saja di teras sembari menghabiskan biskuit yang sudah terlanjur dia pegang.
Selagi mengunyah, Kinara melirik ke arah pot berisi bunga Geranium yang tadi Papa bicarakan. Lalu tiba-tiba saja dia menjadi kesal. Matanya memicing tidak suka ke arah bunga tak berdosa tersebut, tersenyum mengejek seraya berkata, "Gara-gara kamu pendek, aku jadi kena body shaming."
Sementara sang bunga tak berdosa cuma bisa terdiam di tempatnya. Barangkali, kalau bunga itu bisa berbicara, dia akan balik berteriak kepada Kinara dan mengatakan bahwa dirinya juga tidak mau disamakan dengan gadis itu.
Biskuit di tangan sudah habis, Kinara berencana masuk ke dalam rumah karena sudah muak melihat keberadaan bunga Geranium yang seolah terus menatap ke arahnya. Tetapi, baru saja dia mengangkat bokongnya dan hendak melangkah masuk, dia terpaksa berhenti karena sebuah suara memanggil namanya dengan nada riang penuh sukacita.
Saat Kinara menoleh, dia menemukan Lestari yang tengah berlarian ke arahnya sambil membawa kresek berwarna hitam. Rambutnya yang dikuncir kuda terlihat melambai ke kanan dan ke kiri seiring dengan gerak langkah kaki kecil si empunya.
"Kak Kinara, aku punya jajanan, kamu mau nggak?" kata Lestari sembari mengangkat kresek di tangannya sampai sejajar wajah.
"Jajanan apa?" Kinara bertanya balik, berjalan mendekati Lestari yang berhenti di depan teras.
"Banyak. Dibeliin sama Ibu tadi." Kata Lestari dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Mau. Kita makan di rumah aku, atau rumah kamu?"
"Rumah kamu. Di rumah aku nggak ada orang, Ibu lagi pergi."
"Oke! Let's go!" Kinara segera meraih tangan Lestari, menggenggam tangan itu erat lalu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
...****************...
Kinara baru tahu kalau memandangi seseorang yang sedang tertidur ternyata bisa semenyenangkan ini.
Sudah hampir satu setengah jam dia berdiam diri di atas kasur, menemani Lestari yang tertidur setelah kelelahan bermain.
Mama dan Papa sedang pergi keluar dan ibu Lestari belum juga kembali dari urusannya, jadi Kinara senang-senang saja ada Lestari di sini karena mereka bisa saling menemani.
"Gemes banget, sih." Gumam Kinara sembari mencolek gemas hidung mancung Lestari.
Akibat gerakannya tersebut, Lestari menggeliat pelan. Tangan kecilnya bergerak mengusap hidung yang barusan Kinara colek.
Melihat Lestari yang bergerak dalam tidurnya membuat Kinara sedikit panik. Tapi kemudian dia bisa menghela napas lega saat Lestari kembali terlelap setelah mengusap hidungnya. Gadis itu cuma merubah posisi tidurnya yang semula telentang menjadi miring ke arah Kinara.
Saat Kinara kembali hampir tenggelam dalam kegiatannya memandangi Lestari yang tengah tertidur, dia mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu depan. Bukan cuma ketukan, dia juga mendengar seseorang yang memanggil-manggil namanya beberapa kali.
Satu ketukan lagi terdengar sebelum Kinara membuka pintu. Dan ketika pintu itu terbuka, dia menemukan Sinta sedang berdiri dengan raut wajah yang serius.
"Lestari ada di sini?" tanyanya.
"Iya, Mbak. Lagi tidur anaknya."
Mendengar jawaban itu, Sinta menghela napas lega. Raut wajahnya yang semula tegang dan serius perlahan berubah menjadi lebih rileks.
"Syukurlah, saya pikir dia main ke mana." Kata Sinta dengan kelegaan yang benar-benar terdengar dari nada suaranya.
"Tadi saya dapat kerjaan untuk cuci gosok di komplek sebelah, tapi Lestari nggak mau ikut, jadinya saya suruh dia untuk diam di rumah sambil makan jajanan yang udah saya belikan. Terus pas saya pulang, anaknya malah nggak ada." Lestari berusaha menjelaskan kepada Kinara alasan mengapa dia datang dengan wajah panik seperti itu.
Kinara maklum, jadi dia cuma menyunggingkan senyum kemudian mengajak Sinta untuk masuk ke dalam rumah.
"Mbak Sinta mau minum apa?" tawar Kinara setelah mempersilakan perempuan itu untuk duduk di sofa.
"Nggak usah, Nara. Saya ke sini cuma mau memastikan keberadaan Lestari." Jawab Sinta.
Tetapi Kinara tidak mungkin membirakan tamunya berakhir diam tanpa suguhan apa-apa. Jadi, dia segera melesat ke dapur dan kembali tak lama kemudian sambil membawa beberapa minuman dalam kemasan dan air mineral kemudian menyuguhkannya kepada Sinta.
__ADS_1
"Karena Mbak nggak kasih tahu mau minum apa, saya bawa aja semua yang ada. Silakan pilih yang Mbak mau." Kata Kinara sambil tersenyum.
Meskipun sungkan, Sinta tetap meraih satu botol air mineral ukuran sedang untuk menghargai usaha Kinara. Lalu, dia meneguk air itu sedikit dan meletakkannya kembali ke atas meja.
"Makasih, Nara." Ucapnya.
"Nggak masalah, Mbak." Balas Kinara. "Oh, iya. Karena Lestari masih tidur, Mbak boleh tungguin dia di sini sampai anaknya bangun."
"Aduh, saya bawa pulang aja deh, Nara. Udah sore, takutnya kamu juga mau istirahat."
"Jangan, Mbak. Kasihan Lestari, nanti malah kebangun. Saya juga lagi nggak ngapa-ngapain kok, sekalian nungguin Mama sama Papa pulang juga."
"Bapak sama Ibu lagi pergi?" tanya Sinta.
Kinara mengangguk. "Saya suruh jalan-jalan berdua, biar kayak anak muda lagi." Katanya diakhiri sebuah kekehan.
Sinta ikut-ikutan tersenyum. Lalu ketika dia hendak membuka kembali mulutnya, sebuah suara yang terdengar serak mengudara, membuatnya dan Kinara serempak menoleh.
Di ambang pintu kamar Kinara, Lestari berdiri sembari mengucek kedua matanya. Bibir bocah itu tampak berkomat-kamit menggumamkan sesuatu yang tidak terlalu jelas.
Sinta segera bangkit dari sofa dan sedikit berlari menghampiri Lestari. Meskipun badan anaknya itu sudah tidak kecil lagi, tetapi Sinta masih bisa mengangkatnya ke dalam gendongan tanpa kesulitan sama sekali.
"Ibu udah pulang?" tanya Lestari yang masih mengucek matanya, agak setengah sadar.
"Iya, Ibu langsung ke sini jemput kamu. Kita pulang sekarang, ya." Kata Lestari dengan suara lembut keibuan.
Lestari cuma mengangguk. Kemudian, dia mengalungkan tangan kecilnya ke leher sang ibu ketika wanita itu mulai berjalan kembali menuju pintu depan.
"Nara, saya bawa Lestari pulang, ya. Makasih udah bantu jagain Lestari, dan maaf karena udah merepotkan." Kata Sinta kepada Kinara yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
"Sama sekali nggak repot kok, Mbak. Nara malah senang kalau Lestari mau main ke sini, jadi Nara ada temannya." Kata Kinara sembari mengusap pelan kepala Lestari yang masih terlihat mengantuk.
Sinta cuma tersenyum, kemudian dia meminta Lestari untuk melambaikan tangan kepada Kinara sebelum mereka melenggang pergi meninggalkan rumah gadis itu.
Lestari menurut. Gadis kecil itu melambaikan tangannya beberapa kali sampai langkah kaki ibunya membawanya menjauh dari jangkauan pandang Kinara.
Setelah memastikan Lestari dan ibunya masuk ke dalam rumah, Kinara menutup pintu dan segera membereskan botol-botol minuman dari atas meja dan membawanya kembali ke dapur sambil bersenandung riang, mengingat kembali wajah gemas Lestari saat tertidur.
"Gemessssshhhh banget!" serunya seorang diri.
Bersambung
__ADS_1