After The Rain

After The Rain
Owner Cafe Tampan


__ADS_3

Hari ini, untuk pertama kalinya sejak hubugannya dengan Atha dan Dahayu memburuk, Kinara berangkat ke kampus dengan perasaan bersemangat yang menggebu-gebu.


Alasannya tentu cuma satu, karena ingat bahwa setelah kelas selesai, dia akan memulai aktivitas barunya sebagai seorang kasir di Orion Cafe.


Seperti biasa, Kinara mengambil posisi duduk di tengah, menempati kursi yang biasa diduduki oleh Dahayu karena kursi yang biasa dia tempati sudah dihuni oleh Andanu.


Entah kenapa pemuda itu memilih duduk di sana, padahal biasanya Andanu lebih suka duduk di deretan belakang.


Tetapi, Kinara memutuskan untuk tidak mencari tahu tentang hal itu dan memilih untuk segera mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar hari ini.


"Muka lo kelihatan cerah, ada hal baik apa yang terjadi?" bisik Andanu, tepat sebelum dosen pengajar masuk dan kegiatan belajar mengajar pun dimulai.


Sembari tetap memperhatikan layar proyektor di depan, Kinara menjawab dengan senyum yang terkembang.


"Banyak." Singkat, padat, namun tidak cukup jelas untuk membuat rasa penasaran Andanu terpenuhi.


"Could you tell me? Satu aja," bisik Andanu lagi.


Kinara menghentikan kegiatannya menulis, kemudian menoleh ke arah Andanu yang rupanya juga sedang memandanginya.


"Kamu ... emang biasanya secerewet ini, ya?" tanya Kinara, sama sekali tidak bermaksud untuk menyindir. Dia hanya tidak tahu kalau Andanu yang kelihatan cuek bebek ini ternyata cukup banyak bicara juga.


Andanu tidak menjawab, malah mengalihkan pandangan dan pura-pura fokus pada materi yang sedang diberikan oleh dosen mereka.


"Aku cuma nanya, soalnya selama ini kamu kelihatannya pendiam." Ralat Kinara, merasa tidak enak karena sepertinya Andanu tersinggung.


"Pernah dengar istilah tak kenal maka tak sayang?" tanya Andanu tiba-tiba, kembali menoleh ke arah Kinara.


"Pernah,"


Andanu menjentikkan jemarinya. "Lo harus kenalin gue dulu untuk tahu kalau gue nggak sependiam itu." Kemudian, pemuda itu kembali menatap ke depan.

__ADS_1


"Kalau udah kenal dan tahu, terus apa?" tanya Kinara, mulai tertarik untuk mendengar lebih banyak.


"Selanjutnya ... ya, terserah lo." Kata Andanu dengan masih menatap layar proyektor.


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka berdua karena sang dosen pengajar jadi lebih sering mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas.


Selama kelas berlangsung, Kinara tidak bisa menahan senyumnya. Bukan cuma karena dia sudah tidak sabar untuk segera selesai agar bisa pergi ke Orion, tetapi juga karena kondisi kelas yang sudah kembali kondusif.


Kinara tidak tahu apakah dirinya masih menjadi bahan gosip di antara para mahasiswa, tetapi setidaknya, mereka tidak melakukannya saat kelas sedang berlangsung sehingga dia bisa menjalani kelas dengan tenang dan nyaman. Soal mereka yang masih bergosip di belakang, sih, itu urusan mereka.


Menit-menit berlalu, kelas pertama akhirnya selesai dan beberapa teman sekelasnya mulai membaur keluar setelah sang dosen pergi. Beberapa yang masih bertahan memilih untuk menekuri gadget mereka masing-masing. Termasuk Andanu yang duduk di sebelahnya.


"Lo punya instagram nggak?" tanya Andanu, matanya fokus pada layar ponsel yang sedang menampilkan profil akun Instagram miliknya.


"Ada, kenapa?" Kinara bertanya balik.


"Mau mutualan sama gue, nggak?" Andanu menoleh, dan sedikit terkejut saat mendapati Kinara ternyata sedang begitu fokus dengan layar laptopnya. Rambut gadis itu yang semula digerai kini terlihat digelung dengan bolpoin sebagai pengikatnya.


Karena penasaran dengan apa yang sedang gadis itu kerjakan, Andanu pun mengintip. Dan lagi-lagi dia dibuat terkejut karena ternyata Kinara sedang mengerjakan tugas, yang baru diberikan kepada mereka hari ini dan deadline-nya masih dua minggu lagi. Selama menjadi mahasiswa, Andanu hampir tidak pernah menemukan mahasiswa serajin Kinara.


"Lo rajin amat sih ngerjain tugas sekarang?" tanya Andanu, terlalu gatal untuk mencari tahu alasan kenapa gadis itu begitu rajin.


"Aku ada kerja part time, jadi takutnya nggak akan kekejar tugasnya kalau aku santai-santai."


"Part time?"


Kinara berhenti sebentar, kemudian menatap Andanu dan menggangguk.


"Di mana?" Andanu menegakkan punggung, sudah sepenuhnya lupa pada ponsel miliknya yang kini dia geletakkan begitu saja di atas meja.


"Orion Cafe,"

__ADS_1


"Yang di seberang? Yang ada pohon Flamboyan itu?" Andanu memastikan.


Kinara mengangguk lagi. "Baru mulai hari ini, sih." Katanya, entah kenapa juga dia harus memberikan informasi itu kepada Andanu.


Agaknya, dia sudah mulai bisa menerima kehadiran Andanu sebagai teman baru. Mungkin juga karena Andanu yang selalu punya inisiatif lebih dulu untuk mendekatinya. Karena tidak seperti Dahayu, Kinara tidak pandai mencari teman dengan mendekati mereka lebih dulu. Harus selalu dia yang didekati dan diajak bicara. Dan setelah nyaman, dia akan memutuskan untuk berteman.


"Lo udah ketemu sama owner-nya?"


"Udah,"


"Beneran masih muda?" sebenarnya, Andanu sudah mendengar desas-desus tentang pemilik Orion Cafe yang masih muda dan tampan, yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk mahasiswa di sini datang berkunjung ke sana.


"Kalau dari mukanya sih, emang masih muda. Mungkin belum ada tiga puluh. Sekitar dua lima atau dua enam, mungkin?" Kinara memberikan analisanya.


Andanu manggut-manggut. Berarti, kabar itu bukan sekadar rumor saja. Kapan-kapan, dia mungkin harus coba pergi ke sana untuk melihat secara langsung bagaimana muda dan tampannya si owner cafe itu.


Bukan apa-apa, masalahnya, kabar ketampanan owner cafe itu sampai juga di telinga kakak perempuannya, Astari, sehingga perempuan itu selalu mendesaknya untuk mencari tahu tentang si owner.


Entah kenapa juga perempuan itu jadi terkesan gatal sekali pada laki-laki, padahal setelah bertahun-tahun berlalu sejak pernikahannya batal, Andanu sama sekali tidak pernah melihat Astari membicarakan tentang laki-laki. Perempuan itu hanya terus fokus bekerja, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua, sekaligus menyibukkan diri agar tidak terus teringat pada kisah cintanya yang sedih.


"Kamu kenapa penasaran soal owner Orion?" tanya Kinara, di saat Andanu pikir gadis itu sudah kembali sibuk dengan tugasnya.


"Nggak apa-apa, penasaran aja karena dia diomongin terus sama anak-anak."


"Ya wajar sih kalau anak-anak sampai ngomongin dia segitunya, emang ganteng kok orangnya." Puji Kinara tanpa sadar. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, ketika wajah Sekala tiba-tiba melintas di kepalanya.


Padahal, yang melintas di kepalanya tadi bukanlah wajah Sekala yang kemarin sore sumringah menyambut kedatangannya, melainkan wajah sayu laki-laki itu ketika pertama kali berjumpa dengannya di jembatan penyeberangan.


Kemudian, Kinara terdiam. Tiba-tiba saja, terbersit pertanyaan di benaknya, tentang apa yang terjadi pada Sekala malam itu. Kenapa dia ada di jembatan penyeberangan? Kenapa raut wajahnya terlihat seperti orang yang sudah kehilangan daya untuk hidup? Dan ... kenapa laki-laki itu bisa tampil seceria kemarin seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya sebelum ini?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2