After The Rain

After The Rain
Bagaimana Caranya?


__ADS_3

Usai mengantarkan Astari sampai perempuan itu masuk ke dalam taksi online yang dipesan, Kinara kembali ke dalam rumah dengan perasaan yang masih tidak keruan. Rasa bersalahnya kepada Sekala malah semakin menjadi-jadi, menggerogoti kepalanya hingga membuatnya pusing bukan kepalang.


Sekarang hari Jumat, besok dan lusa tidak ada kelas, Orion juga tutup pada hari Sabtu dan Minggu. Biasanya, Kinara akan memanfaatkan Jumat malamnya dengan bergadang mengerjakan tugas, supaya dia bisa bersantai di dua hari liburnya.


Tetapi malam ini, jangankan mengerjakan tugas, berpikir dengan benar saja dia tidak mampu. Yang ada di kepalanya cuma penyesalan dan rasa bersalah yang begitu besar terhadap Sekala. Dia juga sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk meminta maaf dengan benar kepada lelaki itu atas kelancangannya.


Di atas kasur, Kinara duduk bersandar sembari memandangi layar ponselnya yang padam. Dia sedang mempertimbangkan untuk meminta maaf kepada Sekala melalui pesan singkat, atau melalui sambungan telepon kalau nyalinya bisa terkumpul lebih banyak.


Namun, sudah hampir lima belas menit dia mengumpulkan niat dan keberanian, hal itu masih tak kunjung terlaksana.


Banyak sekali pertimbangan yang harus dia pikirkan. Mulai merasa bahwa meminta maaf melalui sambungan telepon bukanlah sesuatu yang sopan, dan dia seharusnya meminta maaf kepada lelaki itu secara langsung.


Tapi masalahnya, dia harus menunggu dua hari untuk melaksanakan hal tersebut, dan itu terlalu lama. Yang ada dia tidak akan bisa menikmati hari liburnya dengan tenang.


"Apa aku chat Mas Kala aja, ya, ngajak ketemuan besok?" gumamnya.


Dia sudah membuka layar kunci di ponselnya, berpikir lagi sebentar sebelum membuka aplikasi WhatsApp dan langsung menuju ke room chat antara dirinya dengan Sekala.


Di sana, Kinara mulai mengetikkan beberapa kata, yang pada akhirnya dia hapus lagi untuk diganti dengan susunan kata yang lain. Dia melakukan itu berkali-kali, sampai akhirnya memutuskan untuk tidak jadi menulis sama sekali. Terlebih saat dia melihat tidak ada tanda online di bawah nama kontak milik lelaki itu yang dia namai Mas Kala dengan satu emotikon senyum di belakangnya.


Tentu saja Sekala tidak akan online jam segini. Sekarang sudah hampir setengah dua pagi, dan menurut analisanya, lelaki seperti Sekala pasti tidak akan menyia-nyiakan waktu tidur seperti yang dia lakukan sekarang.

__ADS_1


Embusan napas kasar mengakhiri perjalanan Kinara dalam mengumpulkan niat. Akhirnya, dia keluar dari room chat dan meletakkan kembali ponsel ke atas nakas.


Bukannya tidur supaya bisa berpikir lebih jernih untuk menyusun rencana lain besok, Kinara malah turun dari kasur, berjalan menuju meja belajar dan duduk di kursi dengan tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit.


Kemudian, setelah jengah hanya berdiam diri, dia menyalakan laptop. Tujuannya sekarang hanya satu, mengintip akun Instagram milik @dyellow untuk melihat apakah ada unggahan baru di sana. Siapa tahu saja, setelah melihat unggahan itu, dia akan mendapatkan ide yang lebih baik untuk meminta maaf kepada Sekala.


"Oke, let's see, apakah unggahan @dyellow bisa bikin otak kamu berjalan dengan lebih baik," gumamnya kepada diri sendiri.


Setelah laptop menyala, Kinara langsung membuka akun Instagram miliknya. Sekarang sudah tidak perlu log in lagi, jadi dia langsung gas menuju akun @dyellow.


Namun, dia langsung melenguh kecewa saat menemukan tidak ada unggahan baru di sana. Foto yang diunggah terakhir kali masih sama, yaitu pohon Flamboyan di depan Orion. Dan saat dia mengecek apakah ada balasan untuk pesan yang terakhir kali dia kirimkan kepada @dyellow beberapa minggu lalu, dia juga dibuat kecewa karena tidak ada balasan apapun di sana.


@dyellow seperti menghilang ditelan bumi, di saat dia sedang sangat membutuhkan unggahan-unggahannya yang menenangkan hati.


"Gimana ini? Gimana caranya minta maaf sama Mas Kala?"


...****************...


Sudah hampir setengah dua dini hari, tapi Sekala masih tidak bisa memejamkan matanya meskipun dia sudah berbaring di atas kasur sejak satu setengah jam yang lalu. Pikirannya melayang-layang di udara, dan pada akhirnya hanya bermuara pada satu hal yang akhir-akhir ini enggan meninggalkan kepalanya.


Kinara. Gadis cerewet itu secara tidak terduga benar-benar telah merebut banyak tempat di hati dan kepalanya. Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak ada yang begitu spesial dari seorang gadis berusia dua puluh tahun yang dia temui secara tidak sengaja di jembatan penyeberangan kala itu.

__ADS_1


Kinara cantik, tapi bukan tipikal cantik yang akan membuat orang-orang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Butuh banyak waktu dan tenaga untuk akhirnya bisa menemukan sisi menarik dari gadis itu. Tapi Sekala sadar, sekalinya ada yang jatuh padanya, orang itu akan sulit menemukan jalan keluar.


Seperti dirinya saat ini.


Perasaannya masih tidak keruan karena ulah Kinara yang terus-menerus menjodohkan dirinya dengan Astari. Iya, Sekala tahu dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kinara tidak salah sudah menyalahpahami sikap Astari. Astari juga tidak salah karena menandangnya sebagai seseorang yang dirindukan. Dia sendiri juga tidak salah atas perasaan yang dia miliki untuk Kinara.


Akhirnya, karena kepalanya semakin terasa ribut, Sekala bangkit dari tidurnya. Dia duduk di atas kasur untuk waktu yang cukup lama, hanya untuk berakhir mengembuskan napas keras-keras seolah beban hidupnya begitu berat.


Sebenarnya, kalau dibandingkan dengan masalah hidupnya yang sebelum ini, masalahnya dengan Kinara jelas tidak ada apa-apanya. Tetapi karena Kinara telah menjadi alasan baginya untuk tetap melanjutkan hidup yang tadinya sudah tidak menarik lagi untuk dijalani, maka keberadaan gadis itu sendiri jelas menjadi beberapa kali lipat lebih penting sekarang.


"Sadar, Sekala, sadar." Beberapa tepukan Sekala labuhkan ke pipinya sendiri. Berusaha membawa kesadarannya kembali agar dia bisa berpikir dengan lebih logis dan tidak mengutamakan perasaannya yang meronta-ronta minta diteriakkan.


"Harus tetap bersikap normal ke Kin. Jangan kelihatan kesal, jangan kelihatan marah. Biasa aja, Sekala, biasa aja." Nasihatnya kepada diri sendiri.


"Nanti pasti ada cara kok untuk bikin Kin mengerti soal perasaan Astari yang sebenarnya. Sabar, semuanya perlu waktu dan rencana yang matang, supaya kamu nggak bikin Kin merasa nggak nyaman dan akhirnya hubungan kalian merenggang."


Dari dulu, Sekala selalu sendirian. Dia tidak pernah punya tempat untuk mengadukan segala keresahan yang dimiliki. Jadi ketika kepalanya ribut, dia akan mengajak dirinya sendiri berbicara. Seolah-olah dia ada dua, dan satu sisi dirinya yang lain bisa menjadi pendengar yang baik.


"Tapi nggak bisa nunggu, Sekala. Makin cepat diluruskan, makin baik, kan?" sangkalnya, setelah berpikir cukup lama atas saran yang dia buat sendiri sebelumnya.


"Iya, makin cepat main baik. Tapi, gimana caranya menjelaskan ke anak itu supaya dia mengerti?"

__ADS_1


Dan masih banyak lagi dialog yang menyusul setelahnya. Berlangsung semalaman tanpa satu hasil yang pasti. Beruntung dia tinggal sendirian, jadi tidak akan ada yang menangkap basah dirinya sedang berbicara seorang diri. Karena kalau ada yang melihat, dia pasti sudah dikira gila.


Bersambung


__ADS_2