After The Rain

After The Rain
Welcome To : Asmaraloka


__ADS_3

Makan malam romantis yang Atha siapkan berjalan lancar, hadiah yang dia berikan kepada Kinara juga diterima dengan baik oleh gadis itu. Tetapi, acara malam ini tidak boleh berhenti sampai di sini.


Setelah membujuk ayah Kinara untuk mengijinkannya membawa anak gadisnya satu jam lebih lama, Atha menyetir mobilnya menuju sebuah tempat yang sudah sejak lama ingin dia kunjungi bersama Kinara. Itu bukan sebuah tempat romantis, penuh lampu-lampu dan ataupun lilin-lilin cantik.


Lokasinya jauh di pinggiran kota Jakarta yang hampir tak terjamah manusia. Itu adalah sebuah tanah lapang yang mulai ditumbuhi ilalang dan ada beberapa pohon Flamboyan yang bunganya mulai mekar. Jauh di seberang tanah lapang itu berdiri gedung-gedung tinggi pencakar langit, yang sinar lampunya mampu menembus kegelapan malam yang mencekam. Ada sebuah danau buatan yang menjadi pemisah antara tanah lapang itu dengan gedung-gedung tinggi di seberangnya.


Sejak dua tahun terakhir, setiap kali rindunya kepada sang ibu tidak lagi dapat dibendung dan dia terlalu malu untuk menangis di pusara wanita itu, Atha akan datang ke sini. Malam-malam, setelah manusia lain terlelap di bawah selimut. Atau pagi-pagi sekali ketika hawa dingin terasa menusuk kulit dan manusia lain di sekitarnya masih asik mengarungi mimpi.


Suara gemerisik dedaunan dari pohon Flamboyan dan ilalang yang mulai tumbuh tinggi hampir menyamai tinggi tubuhnya berhasil membuat Atha merasa sedikit lebih tenang. Meskipun rindunya kepada sang ibu tidak bisa sepenuhnya terobati, tetapi di tempat ini, Atha seperti menemukan dunia yang baru. Dunia yang penuh kedamaian di mana dia bisa sejenak melupakan pelik yang mengelilingi hidupnya.


Sejak kematian sang ibu, Atha tidak lagi punya tempat untuk benar-benar pulang. Ayahnya sering bepergian keluar kota, bahkan luar negeri untuk urusan bisnis. Kematian sang ibu bukan cuma membuat Atha menjadi piatu, tetapi juga serasa menjadi anak yatim walaupun kenyataannya sang ayah masih hidup.


Lalu, dia bertemu Kinara. Gadis cantik dengan senyum manis yang memesona itu berhasil membuatnya jatuh hati. Dulu mereka cuma berteman, sama seperti anak-anak lain yang sering menghabiskan waktu untuk bermain dan tertawa bersama. Tetapi seiring berjalannya waktu, Atha menemukan Kinara sebagai rumah baru tempatnya bisa pulang.


Maka, untuk apa pun yang baru dalam hidupnya dan dia ingin bagi kepada orang lain untuk pertama kalinya, Atha ingin orang itu adalah Kinara.


"Kamu tahu tempat sebagus ini dari mana?"


Atha menoleh, menemukan Kinara yang duduk di sebelahnya tampak memandang takjub pada hamparan air danau yang beriak pelan terkena angin. Di sini gelap, benar-benar tidak ada pencahayaan untuk membantu mereka melihat sekitar. Tetapi dengan binar yang terpancar dari dua bola mata indah itu, Atha seolah bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.


"Nggak sengaja nemu waktu aku lagi kangen banget sama Bunda." Jelas Atha. Tatapannya masih lekat ke arah Kinara. Sampai akhirnya, gadis itu menolehkan kepala dan tatapan mereka bertemu di satu garis lurus.


"Kamu sering ke sini?"


Atha mengangguk. "Aku biasa ke sini kalau lagi kangen sama Bunda. Dan, akhir-akhir ini, aku lebih sering kangen sama Bunda."


"Cantik."

__ADS_1


Satu kata yang Kinara ucapkan sebelum gadis itu kembali melemparkan tatapan jauh ke depan. Kakinya yang menggantung (karena kini mereka duduk di atas kap mobil) diayun-ayunkan, senandung bernada riang mulai terdengar seiring dengan bibir tipisnya yang berkomat-kamit di tengah senyuman yang mengembang.


"Iya, cantik." Kata Atha dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Dia tidak tahu apa yang sebelumnya Kinara puji dengan kata cantik, tetapi bagi Atha, cantik yang barusan dia katakan sepenuhnya ditujukan untuk Kinara. Walaupun sebenarnya, kata cantik saja tidak pernah cukup untuk menggambarkan sosok di sampingnya ini.


Sekali lagi, Atha akan mengatakan bahwa dia beruntung memiliki Kinara di dalam hidupnya.


"Ra," panggilnya pelan.


"Hmm?" Kinara menoleh lagi, dengan senyum yang masih terpatri dan senandung yang belum selesai.


"I love you."


Kinara tahu itu cuma kalimat sederhana. Tetapi, karena Atha yang mengatakannya, terlebih laki-laki itu mengatakannya sembari menatapnya lekat-lekat, maka Kinara tidak bisa untuk tidak tersentuh.


"I know," ucapnya.


"I love you, more than Minions love bananas." Kata Atha lagi.


"And you know that I love you to the moon and back."


Atha terkekeh. Ini pertama kalinya Kinara mau membalas ungkapkan cintanya dengan kata-kata seperti ini. Biasanya, gadis itu hanya akan tersenyum kemudian menepuk-nepuk kepalanya pelan, seperti seorang ibu yang bangga karena anaknya berhasil mempelajari satu kata baru dalam hidupnya.


Angin berembus pelan menerpa wajah mereka, menerbangkan anak-anak rambut Kinara hingga membuatnya terjuntai menutupi wajah cantiknya, yang tentu saja, Atha tidak akan membiarkan apa pun menghalangi pandangannya ke wajah cantik itu.


Maka, Atha mengulurkan tangan, menyingkirkan helaian rambut itu lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Dan seketika itu juga, Atha merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketimbang sebelumnya kala dia menemukan wajah cantik Kinara terlihat semakin memesona di bawah terpaan sinar rembulan yang penuh.

__ADS_1


Detik demi detik berlalu, Atha masih enggan menjauhkan wajahnya dari sana. Jarak antara wajahnya dengan wajah Kinara mungkin hanya selebar lima jari tangan yang dibentangkan. Jarak yang cukup dekat, dan untuk pertama kalinya berhasil menimbulkan sensasi aneh dalam diri Atha.


Tiga tahu berpacaran dengan Kinara, dia selalu berusaha menahan diri. Membatasi setiap gerak tangannya untuk tidak menyentuh Kinara secara berlebihan. Saking pandainya menjaga jarak, dia bahkan tidak pernah mencium bibir ranum milik kekasihnya itu.


Namun malam ini, entah karena suasananya yang mendukung atau karena perasaannya memang sedang ada di fase yang membuncah, jemari panjangnya bergerak impulsif meraih wajah cantik Kinara. Ibu jarinya merayap pelan mengusap bibir bawah Kinara yang tampak mengkilap karena baluran liptint warna merah muda. Tatapan matanya jelas tertuju pada bibir ranum yang terlihat segar dan manis itu, sampai entah dari mana datangnya, sebuah keberanian mendorong Atha untuk menaikkan pandangan dan mengatakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan di kepala.


"Ra," panggilnya pelan.


Kinara tidak menyahut. Tetapi Atha jelas tahu bahwa gadis itu sepenuhnya mencurahkan perhatian kepadanya. Jadi, Atha melanjutkan.


"Can I ... kiss your lips?"


Menanti anggukan kepala dari Kinara ternyata sama menegangkannya dengan saat di mana dia menunggu pengumuman kelulusan SMA. Tegangnya sampai membuat jantungnya berdegup kencang dan perutnya terasa mual tanpa alasan yang jelas.


Tapi, beberapa detik berlalu dan yang dinanti tak kunjung tiba.


Atha sudah hampir menyerah. Dia tidak akan memaksa. Sekali lagi, dia tidak akan bertindak sejauh itu jika bukan atas ijin Kinara. Sebab besarnya segala nafsu yang ada di dalam dirinya tidak pernah melebihi besar keinginannya untuk menjaga Kinara.


Ketika Atha melepaskan tangannya dari wajah Kinara dengan gerakan pelan, dia dibuat tersentak ketika tangan Kinara (yang entah mengapa mendadak terasa dingin) menahannya. Gadis itu menatapnya lekat-lekat, kemudian dengan gerakan yang begitu samar, Kinara mengangguk.


Ijin sudah didapatkan, apa lagi yang ditunggu? Maka, Atha bergerak mendekat lagi. Menatap mata Kinara lekat selama beberapa detik sebelum mata mereka serempak terpejam dengan gerakan teramat pelan. Jarak yang ada dipangkas sedikit demi sedikit sampai akhirnya betulan habis.


Bibir-bibir yang belum pernah saling menyapa itu akhirnya bertemu, saling mencecap dan menyesap rasa manis satu sama lain selagi tangan-tangan mereka saling menggenggam untuk meyakinkan bahwa saat ini, mereka lah sepasang manusia yang paling jatuh hati.


Seiring dengan malam yang semakin pekat dan tautan bibir mereka yang semakin intens, gerbang asmaraloka yang semula terkunci berhasil dibuka, menyambut mereka untuk jatuh cinta lebih hebat daripada sebelumnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2