
Dari awal, ketika Sekala mengatakan bahwa dia telah mendapat ijin dari Papa, Kinara memang sudah menaruh curiga.
Sebab, jangankan kepada Sekala yang baru dikenal beberapa minggu, dengan Atha yang notabene telah dia pacari selama tiga tahun saja, Papa masih enggan memberikan ijin untuk membawanya pergi lewat dari jam malam yang telah ditentukan. Kecuali satu kali ketika Atha mengajaknya candle light dinner malam itu.
Maka, ketika kini dia menemukan eksistensi Papa yang nangkring di atas kap mobil miliknya, Kinara tidak terlalu terkejut.
"Ayah kamu mau ikut, nggak apa-apa dong?" bisik Sekala, selagi mereka berjalan beriringan keluar dari dalam cafe setelah memastikan pintu dikunci dengan baik.
Kinara cuma melirik Sekala sekilas, kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah Papa yang kini cengar-cengir bagai manusia tak berdosa.
"Berangkat sekarang?" tanya Papa antusias, bahkan lebih terlihat bersemangat ketimbang Kinara dan Sekala.
"Papa ngapain sih keluyuran di sini? Bukannya di rumah aja, nemenin Mama." Kinara mengomel, tetapi Papa sama sekali tidak peduli. Lelaki itu malah menarik lengan Sekala, menuntun lelaki itu ke sisi mobil bagian pengemudi.
"Kita harus cepat jalan, nanti keburu makin malam." Bisik Papa, sembari melirik ke arah Kinara yang masih berdiri diam di sisi mobil yang satunya.
Sekala terkekeh pelan, kemudian membuka pintu mobil dan langsung mendudukkan dirinya di balik kemudi.
Papa begitu bersemangat ketika membantu Sekala menutup pintu. Kemudian, lelaki itu berlarian menghampiri Kinara dan langsung membukakan pintu penumpang di bagian depan.
"Silakan masuk, Tuan Putri." Kata Papa sembari menunjukkan gestur mempersilakan. Saking totalitasnya, Papa bahkan sampai membungkukkan badan demi menyambut Tuan Putri Kinara masuk ke dalam mobil.
Kinara berdecak, lalu segera masuk dan duduk di kursi penumpang karena malam semakin larut dan dia sudah tidak punya tenaga untuk meladeni Papa lebih jauh lagi.
Setelah posisi duduknya nyaman dan seatbelt dipasang dengan benar, Kinara mengerutkan kening kebingungan saat menemukan Papa justru tidak kunjung menyusul masuk ke dalam mobil. Lelaki itu masih berdiri di tempatnya semula, menatapnya dengan senyum yang mengembang sampai ke telinga.
Karena tidak mengerti mengapa Papa bersikap demikian, Kinara pun menurunkan kaca mobil dan melongokkan kepala keluar.
"Ayo, buruan masuk!" serunya, namun Papa malah menggeleng.
"Lah?" tanyanya heran.
"Ayah kamu mau ngikutin dari belakang katanya, pakai mobil saya." Sekala, yang sudah siap menginjak pedal gas tiba-tiba buka suara.
Kinara menoleh ke arah pemuda itu, dan semakin bertambah bingung saat tahu-tahu pedal gas diinjak dan mobil mulai melaju.
"Loh, heh?" Kinara tidak sempat bertanya-tanya lagi sebab kecepatan laju mobil mulai meningkat.
__ADS_1
Yang bisa Kinara tangkap terakhir kali sebelum mobil masuk ke jalan raya adalah sosok Papa yang melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum yang semakin lebar.
"Tutup kacanya, masukin kepala kamu." Perintah Sekala.
Kinara menurut saja. Posisi duduknya kembali dinyamankan dan kaca mobil pun telah dinaikkan.
"Mas Kala nggak takut mobilnya dibawa kabur sama Papa?" tanya Kinara setelah mobil melaju hampir sepuluh menit.
"Nggak, lah. Ngapain takut?"
"Mobil Mas Kala kan mahal?"
"Kamu lebih mahal."
Kinara menoleh, melotot ke arah Sekala yang kini cekikikan dengan tatapan lurus ke arah jalanan.
"Mas Kala mau jual saya?!"
"Mau?" goda Sekala lagi.
"Mas Kala jangan ngeselin, suasana hati saya lagi nggak bagus hari ini." Keluh Kinara, berharap Sekala mau sedikit saja memberikan pengertian dan berhenti mengganggu dirinya.
"Saya tahu, kok. That's why saya ajak kamu jalan-jalan."
Sejujurnya, Kinara ingin memeriksa lebih lanjut apakah Sekala benar-benar tahu kalau suasana hatinya memang sedang buruk, atau lelaki itu hanya asal berbicara saja. Tapi entah kenapa, lidah Kinara mendadak terasa kelu sehingga dia hanya bisa bungkam, membiarkan hening berkuasa selama sisa perjalanan mereka bermenit-menit kemudian.
...****************...
Kinara pikir, Sekala akan mengajaknya ke suatu tempat yang penuh dengan lampu warna-warni seperti pasar malam atau tempat-tempat lain yang sejenis. Ternyata, dia sepenuhnya salah.
Sekala justru membawanya ke sebuah danau buatan yang jaraknya hanya tiga puluh menit dari cafe. Danau itu terletak di pinggiran kota, bersisian dengan lahan luas milik pemerintah yang ditumbuhi pepohonan rindang.
Suasana di sana tentu saja sepi. Karena siapa juga yang mau berkeliaran di tempat itu ketika waktu hampir menyentuh pukul sebelas malam?
"Mas Kala nggak berniat bunuh saya, terus nyeburin mayat saya ke danau ini, kan?" tanya Kinara tiba-tiba. Entahlah, mungkin karena suasana sepi nan suram, dia jadi teringat pada adegan pembunuhan di serial thriller yang pernah dia tonton.
"Kamu kebanyakan nonton drama!" kata Sekala, agak ngegas. Tetapi kemudian, dia menurunkan kembali tensi dan justru menarik sudut-sudut bibirnya ke atas.
__ADS_1
"Kalau lagi sedih, saya biasanya datang ke sini." Aku Sekala, membuat Kinara yang tadinya sedang asik menatapi pantulan cahaya rembulan di atas air danau yang tenang, tertarik untuk menoleh demi bisa memeriksa ekspresi yang tampak di wajah Sekala.
Pas sekali, Sekala ternyata juga sedang menatap ke arahnya sehingga tatapan mereka pun bertemu.
"Di sini sepi, Kin. As you can see, danau ini dikelilingi hutan lindung. Di sini, saya bisa berteriak sekencang-kencangnya tanpa takut akan ada yang dengar. Di sini, saya bisa menangis, tanpa takut ada yang melihat dan mengolok-olok saya."
"Saya ajak kamu ke sini supaya kamu juga bisa melakukan apa yang biasa saya lakukan."
"Mas Kala nggak takut kalau saya malah akan menceburkan diri ke danau?"
Sekala terkekeh pelan, kemudian menggeleng. "Kamu bisa melakukannya di jembatan penyeberangan malam itu, kalau kamu mau. But you didn't, karena kamu jelas tahu bahwa mati nggak akan pernah menyelesaikan apa-apa." Sekala menjawab dengan tenang.
Walaupun sebenarnya, bohong kalau dia tidak merasa khawatir pada Kinara. Ketakutan akan apa yang Kinara tanyakan tadi sebenarnya ada, tetapi Sekala berusaha meyakinkan diri bahwa gadis ini tidak akan melakukan hal-hal semacam itu.
Setelah tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Kinara, Sekala mengalihkan pandangan, pada hamparan air danau yang sedikit beriak terkena embusan angin.
Lalu tiba-tiba saja, tanpa memberikan aba-aba, Sekala berteriak sekencang-kencangnya.
Kinara yang tidak siap tentu saja terlonjak kaget, tapi setelah itu, dia menemukan Sekala kembali menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Want to try it?" tawar Sekala.
Kinara terlihat berpikir sejenak, ragu-ragu apakah dia bisa berteriak selantang Sekala atau tidak.
Namun pada akhirnya, dia tetap mencoba.
Kinara menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan lalu dia membuka mulutnya dan mulai berteriak.
Teriakan pertama tidak terlalu keras, jadi dia kembali berteriak untuk yang ke-dua kalinya. Lalu seperti sebuah candu, teriakan-teriakan lain datang menyusul, menggema, memenuhi ruang terbuka yang malam itu menjadi saksi betapa sesungguhnya Kinara masih terluka.
Bahwa pengkhianatan Atha dan Dahayu masih melukai hatinya sedalam itu, dan selama ini dia hanya berpura-pura sudah sembuh karena tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya ikut menyerap energi kesedihan yang dia pancarkan.
Sekala masih setia berdiri di samping Kinara sampai teriakan-teriakan itu berhenti, tergantikan dengan isak tangis yang dengan senang hati bersedia Sekala dengar.
Sementara jauh di belakang mereka, di dalam mobil milik Sekala yang kacanya setengah dibuka, Papa meresapi sakit hatinya sendiri kala menyaksikan putrinya yang berteriak pilu. Papa sedih, sekaligus bersyukur karena setidaknya, malam ini Kinara bisa meluapkan perasaan sedih yang semula cuma ditahan dan ditumpuk dalam dada.
Bersambung
__ADS_1