After The Rain

After The Rain
Andanu dan Alasannya Peduli


__ADS_3

"Nih," Andanu mengulurkan handuk berwarna biru muda ke arah Kinara.


Gadis yang semula duduk diam di atas sofa itu mendongakkan kepala, menatapnya sebentar sebelum akhirnya meraih handuk itu dengan gerakan lemah.


"Kamar mandinya di sana, gue udah siapin air hangat buat lo mandi." Kata Andanu sembari menunjuk ke arah kamar mandi di rumahnya.


Iya, dia akhirnya membawa Kinara ke rumahnya. Terpaksa, karena gadis itu masih terus menangis dan sama sekali tidak bisa menjawab ketika dia bertanya di mana rumah gadis itu berada.


Bukan tanpa alasan kenapa Andanu memilih untuk membawa Kinara ke rumahnya. Dia sengaja melakukan itu karena menurutnya cuma tempat ini yang paling aman untuk Kinara mengingat kondisi fisik dan mentalnya yang sedang tidak stabil.


"Mau gue antar?" tanya Andanu saat Kinara tak kunjung bangkit dari duduknya. Gadis itu hanya menatap ke arah yang Andanu tunjuk untuk waktu yang cukup lama.


"Sendiri aja." Kata Kinara pelan. Dia kemudian berjalan gontai menuju kamar mandi sembari memeluk erat handuk yang sebelumnya diberikan oleh Andanu.


"Nanti baju gantinya gue taruh di plastik, terus gue cantelin di depan pintu." Kata Andanu, setengah berteriak sebab kini Kinara sudah hampir mencapai pintu kamar mandi yang jaraknya bermeter-meter dari ruang tamu.


Kinara tidak menyahut, Andanu melihat gadis itu hanya terus melanjutkan langkah sampai akhirnya tubuh kecil itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tak lama berselang, seorang perempuan berusia akhir dua puluhan muncul dari ruangan lain sembari membawa satu setel pakaian ganti dan segera mengulurkannya ke arah Andanu.


"Kayaknya agak kebesaran deh, tapi nggak apa-apa lah daripada nggak ada." Kata perempuan itu, Astari, kakak perempuan Andanu.


"Makasih, Mbak." Andanu meraih pakaian dari tangan Astari kemudian segera memasukkannya ke dalam kantung kresek yang memang sudah dia persiapkan.


Kemudian, Andanu berjalan menuju kamar mandi dan langsung menggantungkan kantung kresek tadi di gagang pintu, seperti yang sudah dia katakan sebelumnya. Setelah itu, Andanu kembali ke ruang tamu untuk menemui Astari.


"Gimana ceritanya kok dia bisa sama kamu?" todong Astari ketika Andanu baru saja mendaratkan bokong di sebelahnya. Dia melempari adiknya itu dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


"Ketemu di depan gerbang fakultas. Ada anak gadis lagi nangis sendirian di bawah guyuran hujan, masa iya aku diam aja." Jelas Andanu, berusaha mengabaikan tatapan penuh selidik yang masih Astari layangkan ke arahnya.


"Beneran gitu? Bukan karena kamu yang bikin dia nangis?"


Andanu mendesah pelan, kemudian menatap Astari lekat-lekat. "Selama hidup, emang Mbak pernah lihat aku bikin nangis anak orang?" tanyanya. "Lagian, aku sama dia nggak sedekat itu sampai aku punya alasan buat bikin dia nangis." Lanjutnya kemudian menarik pandangan dari sang kakak dan melemparkannya ke arah lain.


"Kalau kalian memang nggak dekat, kenapa kamu sampai bawa dia ke sini? Maksud Mbak, kamu bisa aja anterin dia pulang, atau titipin dia ke teman yang lebih dekat sama dia. Kenapa malah kamu bawa pulang?"


"Karena aku merasa bersalah."


Astari menaikkan sebelah alisnya. "Merasa bersalah soal apa?" tanyanya penasaran.


Andanu masih enggan menatapnya. Kini pemuda itu malah terlihat menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


"Mbak ingat sewaktu aku cerita tentang teman satu kampus yang kedapatan berduaan di hotel tempat aku menginap sewaktu di Jogja?" tanya Andanu, masih dengan pandangan yang tertuju lurus ke arah kamar mandi.


Sebab dia tidak akan mungkin lupa ketika Andanu menerobos masuk ke dalam kamarnya tepat setelah pemuda itu baru kembali dari liburannya di Jogja, hanya untuk meminta pendapatnya tentang apa yang harus dilakukan jika dia memergoki pacar temannya berselingkuh.


Malam itu, Astari cuma mengatakan pada Andanu untuk tidak ikut campur karena itu memang bukan urusannya. Apalagi setelah Andanu mengatakan bahwa teman yang dia maksud itu cuma sekadar teman satu jurusan yang bahkan tidak pernah bertegur sapa dengan dirinya.


"Teman yang aku maksud itu dia." Kata Andanu, seraya menoleh ke arah Astari. "Dan kayaknya, dia baru aja tahu soal perselingkuhan pacarnya."


"Terus, kenapa kamu harus merasa bersalah?" tanya Astari, masih tidak mengerti mengapa adiknya itu harus merasa bersalah.


"Ya nggak tahu. Tiba-tiba ngerasa bersalah aja. Atau mungkin... ini lebih ke arah rasa kasihan?" tanya Andanu, entah kepada dirinya sendiri atau kepada Astari.


"Masalahnya, yang jadi selingkuhan itu juga teman satu jurusan aku, Mbak. Dan dia sama cewek selingkuhan pacarnya itu sahabat dekat. Dekat banget, sampai ke mana-mana berdua. Dan..." Andanu menggantungkan kalimatnya, sengaja memberi jeda untuk memeriksa ekspresi wajah Astari supaya dia tahu apakah dia bisa melanjutkan kalimatnya atau tidak.

__ADS_1


Tetapi karena Andanu terlalu lama menggantungkan kalimatnya, akhirnya Astari lah yang melanjutkannya.


"Dan kamu keinget sama kejadian yang menimpa Mbak dulu?"


Andanu mengangguk. Ingatan buruk tentang kejadian di masa lalu yang menimpa kakak perempuannya itu membuat hatinya kembali terasa ngilu.


"Udah empat tahun, Nu. Waktunya kamu lupain apa yang udah lewat." Kata Astari, terkesan enteng, padahal sebenarnya, dia lah yang paling sulit melupakan kejadian itu.


Empat tahun yang lalu, dia sudah hampir menikah dengan kekasih yang sangat dia cintai. Tetapi, pernikahan itu pupus saat dia menemukan kekasihnya ternyata berselingkuh dengan teman baiknya, yang bahkan sudah dia anggap seperti saudara kandung sendiri. Padahal undangan sudah disebar dan hari bahagia itu tinggal menghitung hari.


Karena insiden tersebut, ayahnya yang memang punya riwayat penyakit jantung mendadak kambuh dan akhirnya tidak bisa diselamatkan. Tepat di hari seharusnya Astari menikah, ayahnya meninggal dunia, menyusul sang ibu yang sudah lebih dulu meninggal ketika dia dan Andanu masih kecil.


"Empat tahun nggak akan cukup untuk melupakan apa yang udah laki-laki brengsek itu lakukan terhadap Mbak. Gara-gara dia juga kan Bapak jadi meninggal?"


"Bapak meninggal karena memang udah waktunya, Nu. Jangan terus-terusan menyalahkan orang lain atas takdir yang memang udah Tuhan gariskan untuk hidup kita."


"Mbak ngomong kayak gitu karena sebenarnya Mbak masih sayang sama laki-laki itu, kan?"


"Nu," cegah Astari, agar Andanu tidak semakin bicara yang tidak-tidak. Dia tidak mau Andanu, yang kini menjadi satu-satunya keluarga yang dia miliki harus hidup dengan dendam yang menyelimuti hatinya. Astari ingin Andanu segera berdamai dengan keadaan dan berhenti menyalahkan apa yang sudah Tuhan gariskan untuk hidup mereka.


"Apa yang udah terjadi, memang udah seharusnya begitu. Redam amarah kamu, Nu. Jangan hidup dengan hati yang penuh dendam." Astari meraih tangan Andanu, kemudian meletakkan telapak tangan pemuda itu di dadanya sendiri.


"Di sini harus bersih, Nu. Nggak boleh ada dendam kalau kamu mau hidup tenang."


Andanu mencoba meresapi perkataan Astari sembari merasakan detak jantungnya sendiri. Tetapi, sebanyak apa pun dia berusaha, Andanu tetap tidak bisa mengenyahkan kebenciannya terhadap lelaki itu dari dalam hatinya begitu saja.


Pahit dan perihnya begitu terasa, sampai Andanu berani bersumpah akan menghajar laki-laki itu kalau mereka diberi kesempatan untuk saling bertemu lagi suatu hari nanti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2