After The Rain

After The Rain
The Rumours


__ADS_3

Di sepanjang mata kuliah, Kinara tidak bisa fokus pada Pak Hadi yang tengah menerangkan materi melalui layar proyektor karena para mahasiswa yang mengikuti kelas pagi itu sibuk berbisik-bisik satu sama lain. Tidak terkecuali Dahayu yang ikut-ikutan membisikkan beberapa kalimat ke telinganya setiap kali perempuan itu selesai menilik ponselnya.


"Kabarnya udah sampai ke telinga pengurus. Kayaknya Layla bakal dikeluarin dari kampus, deh."


Kinara melirik Dahayu yang berbisik dengan matanya yang masih fokus menatap layar ponsel. Setelah itu, Kinara beralih menilik satu persatu mahasiswa yang duduk tidak jauh darinya. Hampir semuanya melakukan hal yang sama. Fokus mereka terbagi antara layar ponsel dan layar proyektor, juga Pak Hadi yang sesekali menolehkan kepala untuk memeriksa dari mana asalnya bisik-bisik yang terdengar samar itu.


Beruntung Pak Hadi bukanlah tipikal dosen killer yang akan memuntahkan seluruh amarahnya kepada para mahasiswa hanya karena masalah sepele. Selain itu, pria berusia akhir empat puluhan itu mungkin juga sudah mendengar kabar yang beredar sehingga tidak punya pilihan selain membiarkan mahasiswanya berbicara tentang hal itu.


"Emang udah pasti kalau itu Layla?" di tengah bisik-bisik sinis yang terlontar dari bibir mahasiswa lain, mungkin cuma Kinara yang masih bisa berpikir positif tentang Layla. Buktinya saja, berkat pertanyaannya itu, ia dihadiahi pelototan oleh Dahayu.


"Orang rabun juga tahu kalau itu Layla, Ra." Sinis Dahayu. Sumpah demi Tuhan dia kesal. Sahabatnya yang satu ini memang terlalu positif thinking jadi orang. Hal yang membuat Dahayu sering meradang karena pada akhirnya sikap itulah yang membuat Kinara banyak dirugikan.


"Cowoknya?" kini Kinara sepenuhnya menoleh pada Dahayu yang duduk di samping kirinya. "Cowoknya siapa? Bakal dapat hukuman apa dia?"


Diberi pertanyaan seperti itu, Dahayu bungkam. Benar juga. Mengapa ia tidak kepikiran untuk mencaritahu siapa laki-laki yang ada di dalam viedo mesum bersama Layla? Mengapa mereka hanya fokus pada Layla dan menghujat perempuan itu?


"Bentar, gue lihat dulu."


"Ay!" Kinara bersisik dengan penuh penekanan, berusaha agar suaranya tidak keluar dan membuat kehebohan. Ia menahan Dahayu yang hendak memutar kembali video mesum itu. Dahayu ini memang kadang rada-rada lain.


"Tadi lo nanya siapa cowok yang ada di dalam video, kan? Ini gue mau lihat."


"Nggak sekarang juga dong, Ay. Kamu mau bikin semua orang ngeliatin kita?"


Dahayu menurunkan kembali ponselnya.


"Udah, mending kamu simpan hape kamu. Sekarang kita fokus dulu ke mata kuliahnya Pak Hadi." Kinara merebut ponsel Dahayu lalu memasukkan benda itu ke dalam tas milik sahabatnya itu.


Mengabaikan bisik-bisik yang masih terjadi, Kinara kembali memfokuskan pandangan ke depan. Mata kuliah Pak Hadi akan selesai dalam lima belas menit, dan dia tidak mau menyia-nyiakan materi yang disampaikan untuk sesuatu yang sebenarnya sama sekali bukan urusannya.

__ADS_1


Di sebelahnya, Dahayu cuma bisa pasrah saat semangatnya menjadi detektif dadakan dipatahkan oleh Kinara. Akhirnya, dengan ogah-ogahan Dahayu ikut memerhatikan layar proyektor di depan.


...****************...


Selesai kelas pertama, ada jeda tiga puluh menit sebelum menuju kelas ke-dua. Tepat ketika Pak Hadi meninggalkan kelas dan sosoknya menghilang di balik belokan, suasana kelas tiba-tiba menjadi riuh. Bisik-bisik yang semula hanya terdengar seperti desau angin tak kentara, kini mulai terdengar seperti dengungan kawanan lebah yang sedang berpatroli mencari madu.


Kinara merasakan kepalanya berdenyut. Dia bukan tipikal orang yang bisa berada di situasi yang terlalu berisik. Sifat introvert nya seketika meraung-raung minta diselamatkan.


Maka, sebelum hal yang lebih buruk terjadi, Kinara bangkit dari kursinya. Menyambar goodie bag dan langsung menarik tangan Dahayu untuk ikut bersamanya.


Yang ditarik tangannya cuma bisa pasrah. Tidak seperti biasa di mana Dahayu akan melayangkan protes yang tidak ada habisnya, kali ini perempuan itu seolah menurut pada Kinara karena tahu akan kondisi sahabatnya.


"Kita ke perpus bentar, ya, Ay?" tanya Kinara setelah melepaskan tangannya dari lengan Dahayu. Mereka kini berada di lorong dekat kelas, suara dengungan dari obrolan bersahut di dalam kelas sudah tidak terdengar lagi dan Kinara merasakan kepalanya mulai sedikit lebih ringan.


"Iya." Dahayu menjawab singkat.


Sampai di perpustakaan, Kinara langsung mencari tempat duduk paling ujung dekat jendela kaca besar yang menghadap ke sebuah taman kecil di samping kampus. Di taman itu biasanya banyak anak-anak fakultas lain yang menghabiskan sore di bawah naungan pohon Flamboyan yang tumbuh subur sembari menunggu senja yang perlahan naik. Dan karena ini masih pagi, Kinara tentu tidak akan menemukan siapa pun di sana.


Mulanya Kinara duduk anteng, berseberangan dengan Dahayu yang mulai kembali fokus menatapi layar ponselnya.


Sampai tiba-tiba terdengar kegaduhan yang berasal dari pintu masuk perpustakaan. Kinara tidak tahu apa yang terjadi, tapi tahu-tahu saja suasana di dalam perpustakaan yang semula hening dan kondusif mendadak berubah menjadi bising. Petugas jaga yang ada di tempatnya juga tidak bisa berbuat banyak karena suaranya kalah dengan suara-suara mahasiswa lain yang lebih lantang dan mendominasi.


"Berisik banget sih, anjir!" Dahayu menegakkan punggung, melirik sinis ke arah segerombolan mahasiswi yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan.


"Jangan bacot dong! Lo nggak tahu ini perpustakaan?!" teriak Dahayu pada sekelompok mahasiswi tadi yang hanya diabaikan oleh mereka.


"Wah, bangsat banget tuh cewek-cewek kampungan." Gerutu Dahayu.


Sementara Dahayu marah-marah pada sekelompok mahasiswi yang baru saja datang membawa kegaduhan itu, Kinara mulai mendengar bisik-bisik lain yang berasal dari balik rak buku di samping tempat duduk mereka.

__ADS_1


Kinara menajamkan pendengaran, berusaha menangkap percakapan yang terjadi antara beberapa orang itu dengan lebih baik dan jelas.


"Gila, gue masih nggak nyangka kalau Layla si alim itu ternyata bajingan juga."


"Kerudungnya doang yang panjang sampe ke perut, otaknya pendek."


"Gue kalau jadi dia, udah lompat dari gedung fakultas kedokteran kali. Malu, anjir."


"Gimana perasaan orang tuanya, ya? Pasti sedih banget nggak sih ngeliat anak perempuannya kayak gitu?"


"Gue denger-denger sih orang tuanya udah divorce dari doi masih bayi dan dia tinggal sama nyokapnya. Masuk akal nggak sih kalau dia jadi nyari sosok bapak di dalam diri laki-laki lain sampai rela ngelakuin apa aja termasuk ngerekam video mesum kayak gitu?"


"Itu sih namanya goblok!"


"Tapi, kasihan juga sih ngeliatnya. Cuma dia yang dicaci-maki sama orang-orang, tapi cowok yang ada di video bareng dia aman-aman aja."


Dan masih banyak lagi. Kinara memutuskan untuk berhenti menguping karena kalimat-kalimat yang keluar dari bibir mereka selanjutnya sudah terlalu jahat dan tidak bisa dia terima. Padahal kalimat-kalimat itu tidak ditujukan untuk dirinya, tapi entah mengapa Kinara merasa hatinya sakit.


"Ay," panggil Kinara pelan.


Dahayu yang duduk di seberangnya dan masih menggerutu soal mahasiswi ribut yang mengabaikan tegurannya seketika menoleh sehingga tatapan mereka bertemu. "Apa?"


"Cabut, yuk? Berisik banget di sini."


Dahayu tidak menjawab. Namun gadis itu langsung bangkit dan menarik tangan Kinara. Sambil melayangkan tatapan sinis kepada sekelompok mahasiswi yang mencari gara-gara dengannya tadi, Dahayu menuntun Kinara keluar dari perpustakaan.


Sementara Kinara kembali merasakan kepalanya terasa pusing dan perutnya sedikit mual.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2