After The Rain

After The Rain
Memutus Hubungan


__ADS_3

Setelah cukup lama berdiam di meja belajar, Kinara melepaskan charger dari ponsel lalu menyalakan ponsel miliknya sembari berjalan menuju kasur.


Sekarang sudah jam tiga dini hari, tanggung kalau dia harus pergi tidur karena takutnya dia malah akan kesiangan dan melewatkan sholat subuh. Jadi, Kinara memutuskan naik ke atas kasurnya, hanya untuk memeriksa beberapa pesan yang masuk ke ponselnya, yang tentu saja selain pesan yang dikirimkan oleh Dahayu dan Atha.


Ketika Kinara berhasil duduk di atas kasur dan ponselnya sudah menyala, Kinara mendapati ada puluhan pesan yang masuk, belasan panggilan tak terjawab dan beberapa notifikasi dari aplikasi sosial medianya.


Kinara menutuskan untuk membuka satu persatu pesan yang masuk, yang kebanyakan berasal dari grup kelas yang menginfokan adanya beberapa tugas tambahan yang diberikan oleh dosen pengajar yang sedang cuti. Lalu setelah menerima semua informasi itu, Kinara langsung meninggalkan ruang obrolan tanpa berniat meninggalkan jejak apapun di sana.


Tiga belas pesan lain berasal dari Atha, dan Kinara langsung menghapusnya tanpa mau repot-repot membacanya terlebih dahulu. Proses penghapusan itu memakan waktu hampir dua menit, karena rupanya sudah banyak sekali pesan yang dia dan Atha saling kirimkan.


Di bawah pesan-pesan yang Atha kirimkan, ada pesan dari Dahayu, dan Kinara juga melakukan hal yang sama. Proses penghapusan pesan dari Dahayu tidak selama proses penghapusan pesan dari Atha karena gadis itu memang lebih sering meneleponnya secara langsung untuk mengobrol ketimbang harus susah-susah mengetik.


Setelah selesai menghapus pesan dari Atha dan Dahayu, Kinara pergi ke daftar kontak, untuk memasukkan nomor Atha dan Dahayu ke dalam daftar hitam kemudian menghapus nomor mereka secara permanen.


Sama sekali tidak ada keraguan di benak Kinara saat melakukannya. Sebab dari dulu, dia memang sudah berprinsip bahwa kesalahan apapun yang dilakukan oleh pasangannya akan selalu bisa dia maafkan, keculai perselingkuhan. Meskipun Atha masih terus bersikeras mengatakan bahwa dia dan Dahayu tidak berselingkuh, dan hanya tidak sengaja membuat kesalahan.


"Kakak...."


Kinara menoleh saat suara serak Lestari terdengar di telinganya. Dia menemukan gadis kecil itu sudah terduduk di atas kasur, mengucek matanya dengan bibir yang sedikit cemberut.


"Kenapa, Tar? Kamu butuh sesuatu?" tanyanya, meletakkan ponsel ke atas nakas lalu sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada Lestari.


"Mau pulang," kata Lestari, setelah berhasil membuka matanya walaupun masih beberapa kali mengerjap.


"Baru jam tiga, Tar. Ibu kamu juga belum pulang. Nanti, ya, habis subuh aku anterin kamu pulang." Kinara menjawab dengan suara lembut.


"Ini baru jam tiga?" tanya Lestari.


"Iya, baru jam tiga. Di luar masih gelap, sekarang kamu tidur lagi, ya." Bujuk Kinara sembari membantu Lestari kembali berbaring di kasur.


"Baru jam tiga, tapi kok kamu udah bangun?" tanya Lestari dengan polosnya. Kini, dia sudah kembali berbaring, namun matanya malah menatap lekat ke arah Kinara yang ikut-ikutan membaringkan tubuh di sebelahnya.


"Aku belum tidur dari semalam," ucap Kinara, disertai kekehan di akhir kalimat.


"Kenapa belum tidur? Gara-gara ada aku?"

__ADS_1


Kinara cepat-cepat menggeleng. "Bukan karena kamu," ucapnya. Lalu, dia mengulurkan tangan, membenahi poni Lestari yang sudah memanjang hingga terlihat mengenai matanya. "Aku nggak bisa tidur aja, nggak tahu kenapa."


"Kata Ibu, kalau nggak bisa tidur, disuruh berhitung sampai seratus." Saran Lestari, tatapannya menerawang, seperti sedang berusaha mengingat wajah ibunya ketika mengajarinya cara agar bisa tertidur dengan cepat.


"Kamu biasanya juga gitu?" Kinara menatap Lestari lekat-lekat, menyerap segala sisi polos yang terpancar dari bola mata anak itu untuk dia jadikan sumber energi baru.


"Iya," kata Lestari sembari mengangguk. "Tapi, aku selalu udah tidur di hitungan ke-59."


"Kenapa?" tanya Kinara, semakin merasa tertarik pada cerita Lestari.


"Soalnya aku suka lupa kalau habis 59 itu 60. Jadinya, aku langsung tidur biar nggak harus ngulang lagi dari awal."


Kinara terkekeh geli mendengar penuturan Lestari. Untuk ukuran anak kelas tiga SD, agak lucu mendengar pengakuan Lestari tersebut. Tetapi, tidak apa-apa. Tidak pernah ada aturan anak kelas tiga SD harus pandai apa saja. Toh, Lestari sudah punya banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain seusianya.


"Kamu mau coba berhitung sampai 100?"


"Nggak, deh."


"Kenapa?" Lestari mengerutkan kening.


"Kamu tenang aja, nanti aku yang bangunin kamu." Kata Lestari, penuh keyakinan.


Kinara malah terkekeh, membuat Lestari memberengut.


"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Lestari, dengan bibir yang cemberut.


"Percaya kok, Tar, percaya." Kinara mengalah. Lagipula, dia juga tertawa bukan karena tidak percaya pada Lestari, melainkan karena raut wajah Lestari yang tampak lucu.


"Ya udah, kamu tidur sekarang." Tiba-tiba saja, Lestari mengulurkan tangan, mengusap kepalanya pelan persis seperti seorang ibu yang berusaha menidurkan anak gadisnya yang sedang bergadang.


Kinara tersenyum, menurut pada apa yang Lestari perintahkan dengan menutup matanya rapat-rapat.


Usapan tangan kecil Lestari di kepalanya masih terasa, tanpa sadar telah berhasil membuat Kinara lebih rileks sampai akhirnya bisa terlelap.


...****************...

__ADS_1


Percaya atau tidak, Lestari betulan menepati janjinya. Gadis kecil itu menggoyangkan bahu Kinara pelan tepat ketika adzan subuh berkumandang.


"Kakak, bangun. Kamu bilang mau sholat subuh," ucapnya.


Kinara yang memang anaknya tidak kebo saat tidur pun segera membuka matanya perlahan ketika merasakan guncangan di bahunya. Senyumnya mengembang kala menemukan Lestari terduduk di sebelahnya dengan mata yang masih terlihat mengantuk.


"Makasih, ya, udah bangunin aku." Kata Kinara, lalu dia bangkit dari tidurnya dan mendaratkan tepukan pelan di kepala Lestari.


"Kamu mau ikut sholat, nggak?" tawarnya setelah menjejakkan kaki di lantai kamar.


"Mau, tapi aku lupa nggak bawa mukena." Kata Lestari sedih. Gara-gara terlalu bersemangat untuk menginap, dia cuma datang membawa buku-buku pelajaran saja tanpa membawa serta perlengkapan lainnya.


"Mau pakai mukena aku, nggak?" tawar Kinara lagi.


"Mukena kamu kan gede, mana muat di badan aku?"


Kinara tersenyum penuh arti. "Aku punya mukena kecil kok, yang dulu aku pakai pas masih SD kayak kamu."


"Serius?"


"Iya, mau nggak?"


"Mau!" Lestari berteriak semangat. Bocah itu melompat turun dari kasur dan buru-buru mendekati Kinara.


"Ya udah, aku ambilin dulu mukenanya di lemari. Kamu ke kamar mandi duluan sana, ambil wudhu."


Lestari mengangguk patuh. Gadis kecil itu segera melesat keluar dari kamar untuk melaksanakan perintah Kinara.


Sedangkan Kinara langsung bergerak cepat menuju lemari untuk mencari mukena kecil miliknya.


Dulu, Kinara tidak mengerti kenapa Mama dan Papa suka sekali menyimpan barang-barang masa kecil miliknya. Sekarang, Kinara sedikit banyak tahu alasannya. Barangkali, salah satunya untuk ini, agar jika suatu hari ada seseorang yang membutuhkan, mereka bisa memberikannya. Seperti yang saat ini dia lakukan untuk Lestari.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Kinara meletakkan mukena kecil itu di atas nakas dan bergegas menyusul Lestari.


Seiring langkah yang terayun, Kinara bicara pada dirinya sendiri, bahwa mulai hari ini, dia akan memulai hidupnya dari awal lagi. Memupuk rasa percaya pada diri sendiri, bahwa semua hal akan berjalan baik, meskipun sekarang dia cuma punya Mama dan Papa sebagai tempat bersandar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2