
Urusan cuci piring sudah selesai, Kinara segera mengelap tangannya dan bergegas menghampiri Mama yang sudah menunggu di ruang tamu.
Di sofa, Mama sudah duduk anteng, menunggu dirinya sembari menonton televisi. Ketika wanita itu menemukan kehadirannya, televisi langsung dimatikan dan dia diarahkan untuk duduk di ruang kosong sebelah Mama. Kinara sempat salah fokus pada satu benda yang terletak di atas meja, namun cepat-cepat dia kembalikan fokusnya hanya kepada Mama.
Kinara duduk tanpa banyak bertanya. Kepalanya celingukan sebentar demi mencari keberadaan Papa, dan ketika dia tidak menemukan keberadaan lelaki itu, dia hanya langsung mencurahkan perhatian kepada Mama.
"Jadi, Mama mau ngobrolin soal apa?" tanyanya, tidak mau terlalu banyak membuang waktu.
Mama tidak lantas menjawab, malah meraih benda yang tadi mencuri perhatian Kinara. Itu adalah buku tabungan yang pernah Papa serahkan padanya dulu, dan sudah dia berikan kembali ke Papa untuk digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dia pikir dana yang ada di dalam sana sudah mulai dipakai oleh Mama dan Papa, tapi melihat kehadiran benda itu di sini, sepertinya Mama dan Papa masih enggan menyentuh isinya sejak saat itu.
"Di sini, ada dana untuk pendidikan kamu," Mama memulai.
"Iya, Nara tahu. Nara udah minta sama Papa pakai aja uangnya untuk kebutuhan sehari-hari kita." Kinara mengulangi lagi, takutnya Mama sudah lupa kalau dia sudah melepaskan hak atas uang di dalam buku tabungan itu.
"Itu dia, Nara. Mama mau ijin sama kamu untuk pakai uangnya untuk hal lain, boleh?"
"Boleh, Mama. Kan, Nara udah bilang, pakai aja."
"Kamu nggak mau tanya dulu, uangnya mau Mama pakai untuk apa?"
Kinara menghela napas pelan, kemudian menatap Mama lekat-lekat. "Ya udah, uangnya mau dipakai untuk apa?" dia memutuskan mengalah. Karena kalau tidak begitu, dia dan Mama hanya akan berakhir berdebat dan uang di dalam tabungan itu tidak akan jadi dipakai.
"Untuk buka usaha laundry. Ibunya Lestari kan dulu pernah kerja di tempat laundry, jadi Mama berencana untuk mempekerjakan ibunya Lestari dan dua atau tiga orang lagi. Hitung-hitung bukain lapangan pekerjaan untuk ibu-ibu di sekitar sini, kan?"
"Oke, boleh." Kinara bahkan tidak butuh waktu untuk berpikir lebih lama. Usaha laundry kedengarannya bagus. Lagipula, benar kata Mama, hitung-hitung menyediakan lapangan kerja.
__ADS_1
Mama tersenyum cerah mendengar jawaban Kinara. Kemudian, tangan anaknya itu diraih, digenggam erat dan ditepuk-tepuk beberapa kali.
"Makasih, Nara."
"Sama-sama, Mama." Kinara ikutan tersenyum, lalu menggenggam balik tangan Mama.
Tanpa mereka tahu, Papa sebenarnya sedang menguping dari balik pintu, senyumnya mengembang sampai ke telinga.
Ide soal usaha laundry itu sebenarnya berasal dari dirinya, tetapi alih-alih mengatakan hal itu sendiri kepada Kinara, Papa malah menyuruh Mama. Yah, memang begitulah Papa. Bisa apa dia memangnya kalau bukan Mama yang jadi istrinya. Bisa gila, mungkin.
...****************...
Selepas Dzuhur, Kinara duduk sendirian di teras depan. Sedari tadi yang dia lakukan cuma diam, memandangi pot-pot tanaman bunga milik Mama yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah banyak. Baru kemarin Mama menanam satu pot lagi bunga Krisan warna kuning, di mana warnanya yang begitu mentereng berhasil membuat bunga-bunga lain di sekitarnya jadi merasa kecil.
Sebenarnya, Kinara memutuskan untuk duduk sendirian di sini seperti orang bodoh karena dia sedang merasa bosan. Mama dan Papa sudah pergi meninjau lokasi yang akan digunakan sebagai tempat untuk membuka usaha laundry, bersama dengan Sinta dan juga Lestari. Jadi, benar-benar cuma ada dia sendirian di rumah.
Duduk di teras ketika matahari sedang bersinar terik sesungguhnya bukanlah pilihan yang bijak. Tetapi apa boleh buat, Kinara tidak punya pilihan lagi. Berdiam diri di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa juga bukan pilihan yang lebih baik. Karena kalau dia duduk di sini, setidaknya ada bunga-bunga ini yang menemaninya.
"Kalian bosen nggak sih, jadi bunga? Pernah kepikiran buat berubah jadi batu, nggak?" tanyanya, pada bunga-bunga tak berdosa yang semula sedang damai menikmati semilir angin yang menerpa tubuh mereka.
"Aku kadang bosen jadi manusia, pengin sesekali ngerasain jadi angsa." Adunya, padahal bunga-bunga di hadapannya itu sama sekali tidak peduli.
"Kenapa angsa? Ya, nggak tahu. Pengin aja tiba-tiba."
"Kalau nggak angsa, jadi unta kayaknya juga seru. Kan, dia punya stok air di punuknya, ya? Jadi, aku nggak perlu banyak-banyak minum, biar nggak ke kamar mandi mulu."
"Kalau kalian, pengin jadi apa?" Kinara mengeluarkan telunjuknya, menyentuh kuncup bunga mawar merah yang baru saja hendak merekah. Kinara tidak tahu saja kalau berkat sentuhannya itu, si kuncup jadi malu, dan mungkin tidak akan jadi mekar sepenuhnya besok hari.
__ADS_1
"Kalian nggak pengin ngerasain jadi manusia? Seru, tahu." Kali ini, telunjuknya nakal menggerayangi kelopak bunga Krisan yang sedari tadi telah mencuri perhatiannya.
"Kalau jadi manusia, kalian bisa marah, bisa nangis, bisa ketawa. Kalau jadi bunga, kan, nggak bisa." Lalu dia menertawakan ucapannya sendiri. Kalau jadi manusia memang seru, kenapa dia malah kepikiran untuk menjadi angsa, atau bahkan unta? Entahlah, mungkin saking serunya, dia jadi bosan.
"Tapi, nggak usah, deh. Kalian tetap jadi bunga aja, soalnya kalian cantik."
Kinara pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa mengajak ngobrol tanaman bisa meredakan sedikit stres yang menumpuk. Selain itu, kata-kata positif yang kita ucapkan kepada para tanaman itu akan membuat mereka tumbuh dengan lebih baik dan bahagia.
Jadi, yang Kinara lakukan sekarang ini hanyalah sebagai ajang pembuktian, untuk mencari tahu apakah hal itu memang benar adanya.
Namun, bagi dua ibu-ibu yang baru saja lewat di depan rumahnya, Kinara tak ubahnya bocah stres kurang kerjaan yang rela berjongkok di depan pot-pot tanaman bunga dan mengobrol dengan mereka, padahal jelas-jelas bunga-bunga itu tidak akan menyahut sama sekali.
"Kasihan, mana masih muda," bisik salah seorang di antara mereka, yang hanya diangguki oleh temannya dan mereka serempak mempercepat langkah. Mungkin takut akan tertular tingkah aneh Kinara yang mengajak tanaman berbicara.
Kembali ke Kinara, gadis itu sudah mulai lelah mengoceh. Sudah terlalu banyak omong kosong yang dia perdengarkan pada bunga-bunga suci tak berdosa itu, sehingga kini dia sedikit merasa bersalah. Takutnya, omongannya tadi malah akan membuat bunga-bunga itu layu kemudian mati.
Jadi, sebelum hal itu terjadi, Kinara bangkit.
"Yang tadi aku omongin nggak usah kalian dengar, ya. Kalian pura-pura tuli aja, oke?" ocehnya terakhir kali sebelum membalikkan badan.
Ketika kakinya sudah hampir sampai ke ambang pintu yang memang sengaja dibuka lebar, rungunya mendengar suara mobil yang mendekat. Sehingga mau tidak mau, dia kembali membalikkan badan untuk memeriksa. Karena barangkali, itu adalah Mama dan Papa yang telah kembali.
Akan tetapi, alih-alih Mama dan Papa, Kinara justru mendapati seorang laki-laki turun dari mobil itu, dengan membawa dua kantong kresek besar dan tatapannya tertuju lurus sampai terasa menembus manik matanya.
Kinara membeku selama beberapa saat, sebelum bibirnya tergerak otomatis melantunkan satu nama dengan suara yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.
"Mas Kala ...."
__ADS_1
Bersambung