
Tiga botol bir telah habis ditenggak, kulit kacang bertebaran memenuhi lantai dan aroma alkohol mulai menyebar ke seluruh ruangan kamar hotel yang tidak terlalu besar.
Atha dan Dahayu sudah sama-sama mabuk, tetapi anehnya, dua anak manusia itu masih enggan untuk meninggalkan botol bir yang tersisa.
Dahayu, sambil sempoyongan meraih satu botol bir lagi, membukanya meskipun dengan susah payah kemudian langsung menenggaknya tanpa mau repot-repot menuangkannya terlebih dahulu ke dalam gelas.
Atha, yang entah bagaimana bisa berakhir ikut menenggak bir itu (dan dia menghabiskan lebih banyak) segera merebut botol bir dari tangan Dahayu lalu menyingkirkan benda itu sejauh-jauhnya agar tangan Dahayu tak lagi bisa menggapainya.
Kesadaran Atha kurang dari separuh, tetapi dia masih bisa berpikir bahwa mereka harus segera berhenti sebelum kesadaran mereka sepenuhnya hilang.
Dahayu meronta, dia masih ingin menenggak alkohol itu sampai tandas meskipun kenyataannya dia mulai merasakan kepalanya berdenyut tidak keruan.
"Gue masih mau lagi," ucapnya.
Namun Atha tidak menuruti kemauannya. Pemuda itu justru bangkit, sedikit kesulitan menegakkan badan tetapi masih berusaha membawa serta Dahayu untuk bangkit bersamanya.
"Cukup." Katanya sembari memegangi bahu Dahayu yang telah berdiri di hadapannya agar gadis itu tidak ambruk.
Tidak seperti Dahayu yang biasanya, yang doyan memberontak dan gemar sekali berteriak di depan muka lawan bicaranya, gadis itu diam saja. Dia bahkan menurut ketika Atha menuntunnya menuju kasur dan membantunya merebahkan diri.
"Udah malam, lo harus tidur." Bisik Atha sembari menaikkan selimut Dahayu sampai ke batas leher.
Ketika Atha menarik tangannya menjauh, Dahayu dengan sigap menahannya. Dia menggenggam tangan pemuda itu erat, menatap matanya lekat.
"Jangan tinggalin gue, gue nggak mau sendirian." Lirihnya dengan mata yang tiba-tiba saja sudah diselimuti kabut bening.
Seharusnya, Atha bersikeras untuk menarik tangannya dari genggaman Dahayu, bukannya malah menatap gadis itu semakin dalam sampai tiba-tiba tanpa sadar telah mengikis jarak di antara mereka berdua.
Tubuh Atha tiba-tiba saja sudah condong ke arah Dahayu, wajah mereka berdekatan dan mereka bisa saling membaui aroma alkohol yang menguar dari bibir masing-masing.
__ADS_1
"Tapi gue ... harus pulang." Bisik Atha.
Kesadarannya sudah mulai menipis, jadi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dia harus segera kabur dari sini.
Namun saat Dahayu tiba-tiba mengalungkan kedua lengan di lehernya dan menarik tubuhnya mendekat sampai hidung mancung mereka bersentuhan, satu saklar yang ada di otak Atha bagaikan dinyalakan, sebuah saklar yang mengubah mode kontrol penuhnya menjadi autopilot sehingga kini Atha tidak lagi memiliki kontrol atas dirinya sendiri.
Maka, ketika kewarasannya sudah tidak bisa lagi diandalkan dan kontrolnya sepenuh hilang, Atha bergerak semaunya sendiri sesuai dengan apa yang mode autopilot nya perintahkan.
Bagai tersihir, Atha memejamkan mata, memajukan tubuhnya sedikit lagi sehingga kini bibir-bibir mereka saling bertemu.
Di bawahnya, Dahayu tidak menolak. Seperti telah sama-sama tersihir oleh satu daya magis yang luar biasa hebat, mereka mulai bergerak. Menyesap sisa-sisa alkohol yang tertinggal di bibir masing-masing dengan gerakan pelan.
Tangan Dahayu mulai bergerak, meremas helaian rambut Atha untuk menyalurkan perasaan yang terasa membuncah di dadanya. Sedangkan Atha di atasnya bergerak dengan tempo yang semakin cepat.
Ketika pada akhirnya mereka sama-sama sepenuhnya kehilangan kontrol, sesapan-sesapan halus di bibir itu telah berubah menjad gerakan acak yang menuntut.
......................
Atha menggeliat pelan sembari mengucek matanya yang serasa dirapatkan dengan lem. Kepalanya terasa pening dan berat, tenggorokannya kering dan perutnya terasa bergejolak.
Ketika matanya berhasil terbuka, Atha nyaris berteriak kesetanan saat menemukan dirinya terbangun dalam keadaan telanjang. Sedangkan di sebelahnya, keadaan Dahayu tak jauh berbeda. Selimut yang membalut tubuh mereka melorot hingga menampakkan bagian tubuh atas Dahayu, membuat Atha segera menyadari bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan fatal tadi malam.
"Atha goblok!" Atha menunduk, menjambaki rambutnya sendiri dan sesekali melabuhkan pukulan keras di kepalanya, berharap otaknya bisa bekerja dengan sedikit lebih baik dan mengambil kembali kontrol yang sempat hilang.
Kemudian, Atha kembali melirik Dahayu yang masih terlelap. Lalu dengan gerakan serabutan, Atha menarik selimut berwarna putih bersih itu untuk menutupi tubuh Dahayu yang terekspos.
Setelahnya, Atha turun dari kasur, memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai dan segera mengenakannya kembali.
Kepalanya semakin berdenyut saat tiba-tiba ingatan tentang kejadian semalam datang menyerbu. Gambaran ketika dia mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Dahayu, ketika bibir-bibir mereka akhirnya saling bertemu, sampai ketika tahu-tahu saja tubuh mereka sudah saling menyatu dan bergerak dalam tempo yang acak.
__ADS_1
"Lo goblok, Tha! Goblok banget!" umpatnya kepada diri sendiri.
Tapi, tidak peduli seberapa banyak dia mengumpat dan mengutuk dirinya sendiri, Atha tetap tidak bisa merubah apa yang telah terjadi.
Dan di tengah-tengah penyesalan serta rasa bersalahnya terhadap Dahayu, nama Kinara muncul. Dalam sekejap saja wajah gadis itu bagai terpampang nyata di depan matanya, membuat perasaan bersalah itu seolah digandakan sampai berkali-kali lipat lebih besar ketimbang sebelumnya.
"Arghhhh!" Atha makin kuat menjambaki rambutnya. Semakin kesadarannya kembali, semakin kewarasannya terenggut. Rasanya, dia nyaris gila. Otaknya sudah tidak bisa lagi diajak berpikir untuk menemukan solusi terbaik atas apa yang terlah terjadi.
Maka sebelum kewarasannya habis tak bersisa, Atha segera menyambar ponsel miliknya yang tergelak di atas nakas dan berlalu meninggalkan kamar hotel sebelum Dahayu terbangun dari tidurnya.
...----------------...
Dahayu sepenuhnya kehilangan kata-kata kala menemukan dirinya sendiri terbangun dalam keadaan tubuh tanpa pakaian sehelai pun, hanya dibalut selimut yang bahkan tidak seluruhnya menutupi tubuh bagian atasnya.
Tidak banyak ingatan yang tersisa di kepalanya tentang kejadian semalam. Hal terakhir yang dia ingat sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang adalah sosok Atha yang berada di atasnya, menatapnya lekat seolah mereka adalah sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta.
Setelah itu, tidak ada lagi yang bisa Dahayu kumpulan dari ingatan yang tersisa di kepala.
Tetapi hanya dengan melihat kondisinya sekarang (sekaligus fakta bahwa Atha sudah tidak ada di kamarnya) tentu sudah cukup untuk membuat Dahayu mengerti bahwa telah terjadi sesuatu antara dirinya dengan Atha semalam. Sesuatu yang buruk, yang seharusnya bisa dicegah kalau saja dia tidak keras kepala untuk memaksa Atha menemaninya menenggak alkohol sialan itu.
"Kenapa harus Atha, Ay?" tanyanya kepada diri sendiri. Karena, dari sekian banyak laki-laki yang dia kenal, kenapa harus Atha? Kenapa dia harus melakukannya dengan kekasih dari sahabatnya sendiri? Kenapa?
Dahayu menunduk, berkali-kali membenturkan kepalanya ke lutut yang ditekuk dan terus-menerus menjambaki rambutnya sampai membuat beberapa helainya rontok.
"Gimana kalau Kinara tahu? Dia pasti bakal benci banget sama lo. Lo bodoh banget, Dahayu. Bodoh." Dahayu memukuli kepalanya.
"Gue harus gimana sekarang?!"
Bersambung
__ADS_1