After The Rain

After The Rain
Teman Baru


__ADS_3

"Kamu kelas berapa, Tari?" tanya Kinara kepada Lestari yang kini asik mengunyah biskuit regal pemberian Mama.


Karena mulutnya penuh dan tidak bisa menjawab, Lestari mengeluarkan tiga jari telunjuk untuk menjawab pertanyaan Kinara.


"Sekolahnya jauh? Naik apa biasanya?"


Kali ini, Lestari sudah bisa menjawab karena kunyahannya telah selesai dan dia berhasil menelan biskuit yang telah melembut itu dengan lancar. Setelah meneguk air dari dalam gelas, Lestari menatap Kinara yang duduk di sampingnya.


"Dekat, kok. Kalau lagi diantar sama Ibu, kalau pulangnya bareng teman-teman." Jelas Lestari.


Kinara manggut-manggut. Tapi rasa penasarannya tentang sosok Lestari masih belum selesai. Dia masih punya banyak pertanyaan untuk gadis kecil itu.


"Terus, kamu suka ikut ibu kamu ke pasar setiap malam?"


Lestarikan mengangguk, karena kini mulutnya kembali penuh.


"Emang nggak ngantuk? Kan, harus sekolah paginya."


"Ngantuk." Jawab Lestari dengan mulut setengah penuh. "Tapi nggak apa-apa, soalnya kasihan Ibu kalau harus jualan sendirian."


Wah... anak sekecil ini bahkan sudah mengerti apa itu rasa belas kasih kepada sang ibu? Kinara jadi penasaran, sehebat apa ibunya mendidik Lestari sampai bisa setidak egois ini? Karena kalau Kinara ingat-ingat lagi, dulu saat dia masih kelas tiga sekolah dasar, dia masih suka kesal kalau Mama memintanya menemani di dapur. Hanya menemani, dia bahkan tidak disuruh untuk membantu.


Saat Kinara pikir informasi yang Lestari sampaikan sudah selesai, dia dibuat mengatupkan bibir saat Lestari ternyata menambahkan informasi lain.


"Lagian, aku nggak ada teman di rumah, jadi mending ikut ibu jualan di pasar."


"Kamu cuma tinggal berdua sama ibu kamu?"


Lestari mengangguk. Karena dia sudah kenyang setelah memakan beberapa keping biskuit regal, dia meletakkan toples kembali ke atas meja setelah memastikan sudah menutupnya dengan benar.


"Ayah kamu?"


"Nggak punya." Sahut Lestari datar. Anak itu bahkan tidak kelihatan sedih sama sekali saat mengatakannya, seolah dia sudah terbiasa mendapatkan pertanyaan seperti itu sehingga otaknya secara otomatis mengatur satu jawaban yang akan langsung dia berikan ketika pertanyaan itu muncul.


"Kata Ibu, ayah aku pergi jauh. Tapi kata aku, aku nggak punya ayah. Soalnya dia nggak pernah muncul sampai sekarang."

__ADS_1


Lestari berhasil membuat Kinara bungkan dengan apa yang dia katakan. Terlebih saat anak itu dengan santainya meneguk air yang tersisa dari dalam gelas hingga tandas dan mengusap jejak air yang membasahi sudut bibirnya menggunakan punggung tangan dengan ekspresi wajah datar.


"Kamu jangan kasihan sama aku."


"Ha?" Kinara sedikit terkejut saat Lestari tiba-tiba menoleh ke arahnya dan menatapnya serius.


"Kata Ibu, nggak apa-apa kalau aku nggak punya ayah. Yang penting aku masih punya ibu yang sayang sama aku. Kaya Ibu, itu udah lebih dari cukup."


Kata ibunya, berapa usia Lestari? Sepuluh tahun? Anak sepuluh tahun bisa mengatakan hal seperti itu dengan pengelolaan emosi yang sebaik ini? Apa itu mungkin?


"Aku sayang banget sama Ibu." Lestari masih terus berceloteh, dan Kinara masih setia mendengarkan meskipun dia terus dibuat ternganga oleh setiap kalimat yang meluncur dari bibir kecil anak itu.


"Karena itu, aku mau cepat selesai sekolah, biar bisa kerja dan menghasilkan banyak uang. Nanti, semua uangnya akan aku kasih ke Ibu." Lestari tersenyum di akhir kalimatnya, barang kali sedang membayangkan jika dia betulan tumbuh dewasa dan akhirnya bisa memberikan banyak uang pada ibunya.


Tapi, jadi dewasa nggak semudah itu, Tari. Batin Kinara. Dia meringis, meratapi betapa polosnya Lestari yang masih buta akan realita kehidupan yang tidak seindah apa yang otak polosnya bayangkan.


"Kamu punya uang nggak?" tanya Lestari tiba-tiba, sangat random, tetapi Kinara tetap menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Buat apa?" tanyanya saat Lestari tak kunjung melanjutkan setelah dia menganggukkan kepala.


"Iya, nanti aku kasih uang aku ke Mama." Kata Kinara setelah selesai menikmati manisnya senyuman Lestari.


"Anak pintar."


Kinara tak kuasa menahan senyum saat tangan kecil Lestari menggapai wajahnya. Mulanya bocah itu menggunakan tangan kecilnya yang lembut untuk mengusap pipinya, kemudian tangan itu beralih ke atas kepalanya dan memberikan tepukan-tepukan pelan di sana.


"Ibu suka ngelakuin ini kalau aku habis berbuat hal-hal baik."


"Ibu kamu pintar kasih afirmasi, keren." Kinara balas menepuk kepala mungil Lestari. "Kami juga keren karena bisa mencontoh apa yang sudah ibu kamu tunjukkan setiap hari." Sambungnya, senyumnya kian lebar saat Lestari menarik tangan dari kepalanya kemudian tersenyum tipis.


"Kamu juga keren, soalnya mau jadi teman aku. Kan, aku keren. Jadi, kamu otomatis juga jadi keren."


Kinara terkekeh sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, kita berdua keren." Katanya setelah menarik tangannya dari kepala Lestari.


Tak lama berselang setelah kekehannya mereda, Kinara dan Lestari serempak menoleh ke arah pintu ketika Mama dan ibunga Lestarikan berjalan masuk ke dalam rumah secara beriringan. Dua wanita beda usia itu sama-sama melemparkan tatapan ke arah mereka kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Tari, udah siang, waktunya tidur." Kata ibu Lestari sembari mengulurkan tangan kepada putri kecilnya.


"Tapi, aku masih mau main sama dia." Tunjuk Lestari kepada Kinara.


Sinta (ibunya Lestari) menoleh sekilas ke arah Kinara kemudian kembali menatap putrinya sambil tersenyum. "Panggil Kakak, Tari. Kak Kinara. Nggak sopan kalau kamu panggilnya pakai dia."


Lestari terlihat sedang mencerna ucapan sang ibu, kemudian gadis kecil itu menatap Kinara dengan kebingungan yang jelas terpancar di kedua bola matanya yang jernih.


"Tapi, dia nggak mau aku panggil dengan sebutan kakak." Adu Lestari kepada ibunya, membuat wanita itu terkekeh pelan.


"Tetap aja, nggak sopan kalau panggil yang lebih tua seperti itu. Mulai hari ini, panggil Kak Kinara, oke?"


Lestari mengembuskan napas panjang, seolah beban hidupnya berat sekali. Kemudian, gadis kecil itu menganggukkan kepala degan wajah yang cemberut. Sepertinya, dia terpaksa mengikuti permintaan sang ibu.


"Kak Kinara, aku pulang dulu, ya. Nanti sore kita main lagi." Kata Lestari sembari mengulurkan tangan.


Kinara menyambut uluran tangan itu dan tersenyum tipis. "Oke! Nanti sore gantian, ya, aku yang main ke rumah kamu."


Alih-alih menjawab, Lestari malah menatap sang ibu. Kinara jadi ikut-ikutan menatap Sinta, ingin tahu mengapa Lestari bersikap demikian.


Dan Kinara baru tahu maksud Lestari ketika Sinta tersenyum dan menganggukkan kepala. Ternyata, gadis itu sedang meminta ijin kepada sang ibu.


"Kata Ibu, boleh." Kata Lestari, berpikir Kinara mungkin belum mengerti maksudnya.


"Ya udah, sana kamu pulang. Nanti sore aku ke rumah kamu, bawa biskuit sama es krim."


"Dadah!" Lestari melambaikan tangan. Kemudian, dia berjalan dengan riang sembari menggandeng tangan sang ibu.


Mulut cerewetnya masih terus berceloteh bahkan sampai dia dan ibunya sudah hampir sampai di teras rumah mereka.


Sementara Kinara tak henti-hentinya tersenyum melihat kelucuan Lestari yang tersembunyi di balik sikap dewasanya yang mengagumkan.


"Kamu juga harus tidur siang, Nara."


Kinara menoleh ke arah Mama dan tersenyum tipis. "You too. Ayo, kita tidur siang sama-sama."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2