
Setelah menyelesaikan semua kelas yang terjadwal, lagi-lagi Kinara menyeret Dahayu ke fakultas Teknik untuk bertemu dengan Atha. Semalam, dia sudah berjanji untuk datang ke sana karena ada yang perlu mereka bicarakan.
Seperti biasa, Dahayu menurut saja. Meskipun dia suka mengomentari gaya pacaran Kinara dan Atha yang dinilai terlalu lebay dan seperti bocah, tapi dia tidak pernah menolak saat Kinara mengajaknya untuk bertemu dengan Atha.
Sekarang ini mereka sedang berada di taman belakang fakultas, tadi mereka sengaja lewat belakang demi mempersingkat waktu karena setelah ini, mereka sudah punya rencana untuk pergi nonton berdua. Kinara pikir sekalian saja dia ijin kepada Atha untuk pergi bersama Dahayu sebab rencana ini memang baru mereka bicarakan tadi sewaktu kelas ke-dua tengah berlangsung.
Lima belas menit menunggu, Atha muncul dari kejauhan. Tidak seperti biasa ketika laki-laki itu muncul bersama gerombolan teman, kali ini Atha datang sendirian. Tas punggung yang tersampir hanya di satu sisi bahunya membuatnya tampak semakin keren di mata Kinara.
"Udah lama nunggu?" tanya Atha setelah sampai di depan Kinara dan Dahayu.
"Lumayan." Kata Kinara. Dia tersenyum sumringah saat merasakan tangan Atha mengelus pelan kepalanya.
"Lo kalau mau ngobrol sama Kinara, mending buruan. Soalnya habis ini gue mau ajak Kinara nonton." Sela Dahayu. Dia tidak ingin Kinara dan Atha terlalu lama berbasa-basi. Masalahnya sekarang sudah jam lima sore dan dia jelas tahu kalau Kinara tidak boleh pulang lebih dari jam sepuluh malam. Jadi semakin cepat mereka berangkat ke bioskop, semakin bagus.
"Nonton?" tanya Atha keheranan. Dia menatap Kinara lekat, menuntut penjelasan. "Kamu mau nonton sama Ayu? Kok nggak bilang-bilang sama aku?"
"Iya, rencana dadakan. Kita baru obrolin tadi, makanya sekarang aku mau sekalian ijin sama kamu." Kinara berusaha memberi penjelasan.
"Nggak boleh."
Dahayu dan Kinara kompak menoleh ke arah Atha setelah laki-laki itu berkata demikian.
"Kenapa?" tanya Kinara heran. Karena biasanya Atha tidak pernah melarangnya pergi, apalagi kalau perginya dengan Dahayu.
"Pokoknya nggak boleh pergi berdua."
"Ya kenapa?!" sela Dahayu tak terima. "Biasanya juga oke-oke aja!"
Atha menghela napas, kemudian dia menoleh kepada Dahayu dan menatap gadis itu datar. "Gue bilang nggak boleh kalau perginya berdua, soalnya gue mau ikut." Katanya santai.
Tidak tahu saja, kalau perkataannya itu berhasil membuat sepasang tanduk berwarna merah yang tak kasat mata muncul di kepala gadis itu.
"Nggak! Gue sama Kinara mau quality time berdua, lo nggak boleh ikutan!" Dahayu jelas menolak ide Atha tersebut.
Melihat penolakan dari Dahayu, Atha cuma bisa mengendikkan bahu dengan tampang songong yang seketika membuat gadis di hadapannya itu semakin naik darah.
__ADS_1
Kemudian dengan santainya, Atha berkata, "Kalau gitu, nggak boleh pergi." Yang membuat Dahayu mendelik ke arahnya.
"Najis! Posesif amat sih jadi cowok!" cibir Dahayu. Dia tahu Atha memang cemburuan, tapi masalahnya, Kinara cuma pergi dengan dirinya, bukan dengan pria lain.
"Suka-suka gue, lah. Kinara kan pacar gue." Atha masih dengan tampang songong yang semakin menjadi-jadi.
Kinara tahu, perdebatan antara dua orang itu tidak akan dapat dihindari jika dia membiarkan salah satu dari mereka mengeluarkan suara lagi. Jadi, sebagai pihak yang selalu jadi penengah, Kinara menggeser tubuhnya untuk menghalau dua orang itu agar tidak saling berhadap-hadapan secara langsung.
Kemudian, Kinara meraih tangan mereka dan menyeret keduanya berjalan menuju parkiran. Yang diseret cuma menurut saja sambil sesekali saling melirik karena mereka sama-sama tidak mengerti dengan apa yang akan Kinara lakukan.
Sampai di parkiran, Kinara melepaskan gandengan tangannya di tangan Atha dan Dahayu. Dia lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di samping mobil Dahayu dan langsung membukakan pintu di bagian pengemudi.
"Yang Terhormat Bapak Atharya Danapati, dimohon untuk segera masuk ke dalam mobil." Ucap Kinara sembari menunjukkan gestur mempersilakan Atha masuk ke dalam mobil.
Atha yang tidak mengerti maksud Kinara malah bengong memandangi Kinara dan tangan gadis itu yang masih mempertahankan gesturnya secara bergantian.
"Cepetan, Atha, tangan aku pegel." Rengek Kinara kemudian saat Atha bengong cukup lama.
Mendengar rengekan itu, tubuh Atha serasa telah di setting otomatis sehingga kakinya tiba-tiba saja bergerak mendekat ke arah mobil. Tanpa banyak bertanya, dia masuk ke dalam mobil dan diam saja saat Kinara menutup pintu mobilnya.
"Silakan masuk, Tuan Putri." Katanya.
Sama seperti Atha, Dahayu juga langsung menurut. Gadis itu segera masuk dan menggeser duduknya ke kursi di sebelah kiri agar Kinara bisa menyusul dan duduk di kursi kanan.
Sekarang mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Baik Dahayu maupun Atha masih sama-sama terdiam menunggu instruksi selanjutnya yang akan Kinara berikan. Sementara Kinara sendiri masih kerepotan mengenakan sabuk pengaman.
Barulah setelah Kinara selesai dengan urusan sabuk pengaman, gadis itu berkata dengan riang, "Let's goooo!" yang membuat Atha menoleh ke belakang dengan kening yang berkerut banyak.
"Ke mana?" tanyanya.
"Bioskop. Kan, mau nonton." Jawab Kinara dengan riang.
Jawaban itu berhasil membuat Dahayu seketika menoleh dan mendelik kepadanya. "Kan, gue maunya nonton berdua!" kesalnya.
Menanggapi kekesalan Dahayu, Kinara malah tersenyum lebar. "Iya, aku juga maunya gitu. Tapi kamu tahu sendiri, kan, kalau Yang Mulia Atha bilang kita nggak boleh pergi kalau cuma berdua?" saat menyebut kata Yang Mulia, Kinara melirik ke arah Atha dan sedikit memberikan penekanan dalam nada bicaranya.
__ADS_1
Sinyal itu terbaca oleh Atha dengan baik. Dia tahu pacarnya itu sedang dalam mode setengah kesal tapi tetap berusaha mencarikan solusi terbaik agar mereka tidak terlibat pertikaian.
"Gara-gara lo nih gue jadi gagal quality time sama Kinara!" geram Dahayu. Dia menatap tajam Atha yang masih menolehkan kepala ke belakang.
Sedangkan Atha, seperti biasa tidak peduli pada segala bentuk kemarahan dan ocehan yang Dahayu lontarkan. Alih-alih takut pada gadis itu, Atha lebih takut pada Kinara. Karena gadis itu jarang marah, sekalinya marah, Atha merasa dunia bisa hancur seketika.
Jadi ketimbang meladeni ocehan Dahayu, Atha pun membalikkan badan. Dia segera mengenakan sabuk pengaman kemudian meletakkan kedua tangan di atas kemudi, bersiap untuk menginjak pedal gas setelah mendapatkan titah dari Kinara.
"Jadi, kita mau nonton di bioskop mana?" tanyanya sembari melirik Kinara melalui kaca spion depan.
"Yang dekat sini aja."
Atha menganggukkan kepala. Dia segera menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Tidak butuh waktu lama hingga mobil yang mereka tumpangi keluar dari area kampus dan bergabung dengan kendaraan lain yang berjubel di jalan raya.
Keadaan semula hening, Atha fokus menyetir sementara Dahayu dan Kinara tampak fokus pada layar ponsel masing-masing.
Sampai tiba-tiba, Kinara menepuk jidatnya agak keras sehingga menimbulkan bunyi yang menarik perhatian Dahayu dan juga Atha.
"Kenapa?" tanya Dahayu berusaha untuk tidak panik.
Atha diam saja sembari melirik dari spion untuk memastikan pacarnya tidak kenapa-kenapa dan terus menajamkan telinga untuk mendengar jawaban Kinara.
"Mobil kalian." Kata Kinara sembari menatap Dahayu dan Atha secara bergantian. "Mobil kalian gimana?"
Dahayu menghela napas panjang. Dia pikir kenapa. Rupanya cuma gara-gara mobil. Memang Kinara ini suka berlebihan dalam segala hal.
"Biarin aja di kampus, toh besok kita datang lagi." Dahayu menjawab sekenanya. Dia kemudian mengempaskan punggungnya ke kursi dan mulai melayangkan pandangan ke luar jendela dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Lain kali jangan heboh, kamu bikin aku panik." Atha yang sedari tadi diam juga ikut menimpali.
Kinara yang dihujani protes seperti itu cuma bisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Maaf, namanya juga panik hehe."
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Mereka bertiga terdiam di sepanjang perjalanan menuju bioskop terdekat. Tentu saja, mereka bergulat dengan pikiran masing-masing. Yang kalau ditarik sebuah garis, ujungnya mungkin akan bertemu di satu titik yang sama.
__ADS_1
Bersambung