
Mandi sudah, berganti pakaian sudah, memasukkan makanan ke dalam mulut juga sudah. Kini, Kinara merasa keadaannya sudah jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Dia berterima kasih sekali pada Andanu yang bersedia menampungnya di sini, padahal sebelum ini mereka tidak pernah terlibat percakapan apa pun meskipun selalu berada di kelas yang sama.
"Andanu," panggil Kinara pelan.
Andanu yang sedang fokus menatap layar televisi sontak menoleh ke samping, pada sosok Kinara yang duduk di atas sofa yang sama dengan dirinya, hanya saja gadis itu duduk jauh di ujung kiri sedangkan dia duduk di ujung yang satunya.
"Makasih," Kinara berucap pelan.
"Sama-sama." Andanu menjawab singkat, kemudian kembali mencurahkan fokusnya ke layar televisi.
"Makasih, Mbak." Kata Kinara, kali ini ditujukan kepada Astari yang sedari tadi duduk di single sofa tanpa mengatakan apa-apa.
"Nggak usah sungkan." Jawab Astari disertai senyum tipis yang menenangkan.
"Udah malam, lo harus pulang." Sela Andanu tiba-tiba.
Diberi tahu begitu, Kinara refleks mengangkat pandangan untuk melihat jam yang tergantung di dinding ruang tamu. Ternyata sudah setengah sepuluh malam. Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu padahal yang dia lakukan sejak sore hanya menangis dan meratap.
"Kalau lo nggak mau kasih tahu di mana rumah lo karena takut gue bakal macam-macam, lo bisa hubungin keluarga lo biar mereka yang jemput lo ke sini."
"Aku naik taksi aja." Kata Kinara, merasa tidak enak karena sudah banyak merepotkan Andanu.
Kalau saja Andanu tidak sempat berkontak mata dengan Astari dan perempuan itu memberinya kode untuk tetap mengantarkan Kinara, dia mungkin akan segera menganggukkan kepala dan membantu Kinara mencari taksi.
"Sama Andanu aja." Sela Astari, karena Andanu lemot sekali dan tidak kunjung bersuara lagi.
__ADS_1
"Walaupun tampangnya agak seram, tapi Andanu anak baik kok." Kata Astari lagi, membuat Andanu diam-diam mendengus sebab secara tidak langsung, kakak perempuannya itu telah menghina dirinya.
Kinara terkekeh pelan mendengar penuturan Astari. Padahal, dilihat dari segi mana pun, Andanu sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Dia hanya tidak enak saja kalau harus meminta Andanu mengantarkannya pulang padahal pemuda itu sudah berbaik hati menampung dirinya di sini.
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya naik taksi aja." Kekeuh Kinara.
Sebenarnya, Astari merasa geregetan. Dia ignin memaksa Kinara untuk menerima saja tawaran Andanu untuk mengatarnya pulang. Tetapi karena Andanu bilang mereka memang tidak dekat, Astari mengurungkan niat tersebut karena takut Kinara akan merasa tidak nyaman.
"Ya udah kalau memang begitu mau kamu." Astari pasrah.
"Sana, Nu, kamu anterin Kinara ke depan." Perintahnya kepada Andanu.
Yang diperintah tidak menjawab, tetapi langsung bangkit dari sofa dan berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
"Saya pamit, ya, Mbak. Sekali lagi terima kasih." Kata Kinara untuk terakhir kalinya sebelum menyusul Andanu yang sudah menunggu di ambang pintu.
"Hati-hati di jalan. Kalau kamu butuh bantuan, nggak usah sungkan untuk cari Andanu. Kalian kan teman satu jurusan, jadi nggak ada salahnya untuk saling membantu." Kata Astari sembari mengusap lengan Kinara pelan.
Kinara cuma tersenyum, kemudian betulan melangkah menyusul Andanu dan mereka pun berjalan beriringan keluar dari rumah, menuju tempat di mana biasanya ada taksi yang lewat.
Malam-malam begini, biasanya agak susah untuk mencari taksi. Tetapi malam ini, sepertinya Kinara sedang beruntung karena belum genap lima menit dia menunggu, sebuah taksi berwarna biru muncul dan Andanu segera menyetop taksi tersebut untuknya.
"Tolong antar anak ini sampai di rumah dengan selamat." Kata Andanu sembari mengulurkan uang pecahan seratus ribu sebanyak dua lembar kepada sopir taksi berseragam yang usianya baru sekitar tiga puluhan.
Si sopir mengangguk sembari tersenyum. Uang yang Andanu sodorkan segera diambil dan disimpan. "Tenang aja, Mas. Pacarnya aman sama saya." Kata si sopir dengan senyum yang seolah memiliki arti lain.
__ADS_1
Alih-alih menanggapi omongan si sopir, Andanu malah mengeluarkan ponsel dari saku celana dan langsung memotret wajah si sopir taksi. Tak sampai di situ, dia juga bergerak ke depan mobil dan memotret plat nomor mobil tersebut kemudian kembali ke sisi samping lalu membukakan pintu untuk Kinara.
"Kamu ngapain foto-foto?" tanya Kinara bingung.
"For safety reason. Kalau lo tiba-tiba diculik, paling nggak gue tahu siapa pelakunya dan berapa plat nomornya." Andanu berusaha menjawab sesingkat mungkin.
Si sopir yang mendengar ucapan Andanu cuma geleng-geleng kepala lalu tersenyum maklum. Jaman sekarang kejatahan memang semakin banyak dan modusnya kian beragam, wajar saja kalau pemuda itu bersikap waspada.
Kemudian, tidak ada lagi percakapan. Andanu segeda menutup pintu setelah Kinara duduk dan si sopir langsung menginjak pedal gas, membawa taksi itu melaju menembus kegelapan malam.
Di beberapa menit pertama sejak taksi mulai melintas di jalan raya, Kinara cuma diam. Dia menyandarkan kepala di jendela sembari menatapi apa saja yang dia temui selama perjalanan.
Tapi sialnya, semua hal yang dia temui itu justru mengingatkannya kepada Atha berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang sebelumnya.
Lampu-lampu jalan yang seolah sedang melambaikan tangan ke arahnya itu mengingatkannya pada momen ketika dia dan Atha harus ngebut di atas motor yang Atha kendarai supaya mereka tidak telat pulang dan melanggar jam malam yang sudah Papa terapkan.
Taman kecil yang mereka lewati setelah lima belas menit menyusuri jalanan mengingatkannya pada kebiasannya dan Atha untuk duduk berdua di tengah-tengah taman ketika sore hari menjelang, hanya untuk menggoda anak kecil yang sedang tidak dalam pengawasan orang tuanya. Dan ketika anak-anak itu menangis, Atha akan menyogok mereka dengan membalikan es krim rasa coklat.
Gedung-gedung tinggi yang mereka lalui setelahnya mengingatkan Kinara pada omong kosong yang selalu Atha katakan kepada dirinya, bahwa pemuda itu akan membelikan satu gedung tinggi khusus untuk merayakan kelulusan mereka nanti. Meksipun tahu hal itu mustahil sebab Atha bilang akan membelinya dengan uang hasil kerjanya sendiri, Kinara tetap mengiyakan bualan Atha tersebut dan mereka akan berakhir tertawa bersama.
Karena semua hal yang dia temui di sepanjang perjalanan hanya terus mengingatkannya kepada Atha, Kinara pun memutuskan untuk mengalihkan pandangan. Kini dia menunduk, dan tidak lama setelah itu, air matanya kembali menetes, dengan cepat menganak sungai di pipinya yang terasa dingin. Bahunya bergetar hebat, napasnya lagi-lagi terasa sesak dan dia harus berusaha keras menahan isakan agar sopir taksi yang sedang mengemudikan kendaraan tidak terganggu fokusnya.
Padahal diam-diam, sopir itu memang sudah memperhatikan setiap gerak-gerik Kinara. Pria itu diam-diam ikut meringis karena teringat pada anak perempuannya di rumah yang baru berusia empat tahun.
Bersambung
__ADS_1