
Berhari-hari setelah mendapatkan jawaban dari Papa, Kinara mulai melihat Sekala dengan cara yang berbeda. Dia mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasan kecil Sekala yang biasanya luput dari perhatiannya.
Seperti Sekala yang selalu meletakkan barang-barang kembali ke tempat semula setelah selesai menggunakannya, misalnya. Berbulan-bulan dia bekerja di sini, tetapi kebiasaan Sekala itu baru dia sadari sekarang.
Bukan cuma jawaban dari Papa saja yang membuat Kinara jadi lebih banyak memperhatikan Sekala, tetapi juga rumor tentang dirinya dan Sekala berpacaran, di mana rumor itu sudah menyebar ke seluruh Orion, bahkan sampai juga ke telinga Andanu dan Astari.
Rumor itu dimulai dari mulut lemes Jeremy, ternyata. Kinara baru tahu itu ketika orang-orang mulai sibuk menanyakan kebenaran tentang rumor tersebut langsung kepada dirinya.
Awalnya, Kinara pikir Jeremy bisa berprasangka seperti itu karena tidak sengaja melihat pertengkarannya dengan Atha berhari-hari sebelumnya, di mana Sekala sempat mengaku sebagai pacarnya demi mengusir Atha dari Orion.
Tetapi, setelah dia pikir-pikir lagi, Jeremy tidak pernah asal bergosip. Lelaki itu hanya akan menyebarkan rumor berdasarkan hal-hal yang memang dia lihat di depan matanya, yang tentu juga akan diamini oleh orang lain.
Maka dari itu, Kinara mulai lebih banyak memperhatikan gerak-gerik Sekala untuk melihat apakah memang ada perlakuan dari lelaki itu terdahap dirinya yang bisa membuat orang-orang berpikir bahwa mereka tengah berkencan.
Dalam usahanya itu, Kinara menempatkan dirinya sebagai orang lain. Melihat setiap perlakuan Sekala terhadapnya melalui kacamata berbeda untuk bisa mendapatkan sudut pandang yang beragam.
Dan, sejauh ini, dia masih tidak menemukan apa-apa.
Menurutnya, apa yang Sekala lakukan kepada dirinya memang sudah sewajarnya dilakukan oleh seseorang yang telah diberikan amanah oleh yang lebih tua—dalam hal ini adalah Papa. Kinara merasa Sekala cuma sedang berusaha mengemban amanah itu dengan baik.
Jadi, kalau di awal rumor itu beredar dia sibuk menyangkal dan memberikan banyak alasan, sekarang dia dan Sekala sepakat untuk bersikap biasa saja. Tidak lagi mereka pusingkan segala ocehan Jeremy, dan hanya mendengarkan saja sampai pemuda itu lelah sendiri.
"Tapi,"
Kinara menoleh tatkala suara Andanu mengudara. Pemuda itu sudah duduk diam di meja paling dekat dengan kasir selama hampir dua jam, dan agaknya masih enggan pergi meskipun Astari sudah lebih dulu cabut dari sana sebelum hujan turun deras seperti sekarang.
__ADS_1
"Lo sendiri ada perasaan nggak sama Mas Sekala?" tanya pemuda itu, sembari menyuapkan sepotong Red Velvet ke dalam mulut.
"Didera patah hati hebat setelah perjalanan panjang selama tiga tahun, memangnya bisa bikin seseorang langsung buka hati untuk yang lain?" pertanyaan balik itu Kinara lontarkan tanpa tahu bahwa Sekala baru saja kembali dari kamar mandi, sedang berjalan kembali ke dalam counter—dan ucapannya barusan membuat langkah Sekala terhenti di dekat pintu.
"Aku emang udah muak banget sama Atha, tapi nggak bisa bohong, Nu, bekas-bekas perasaan untuk dia masih ada. Dan lagi, sakitnya masih tersisa banyak, butuh waktu yang nggak sebentar untuk bikin luka itu sembuh sepenuhnya." Kinara melanjutkan, masih tidak tahu kalau Sekala mendengar semuanya.
Sedangkan Andanu yang melihat kehadiran Sekala cuma bisa terdiam, tidak tahu harus bereaksi apa ketika Kinara masih terus melanjutkan kalimatnya.
"Lagipula, sekalipun aku punya perasaan ke Mas Kala, aku tetap nggak akan maju."
"Kenapa?" Andanu bertanya, setelah melirik ke arah Sekala yang masih bertahan di posisinya.
"Karena aku nggak mau bawa siapapun masuk ke dalam rumah yang sedang berantakan." Ada jeda selama beberapa detik, yang Kinara gunakan untuk menarik napas dalam-dalam. "Sekarang ini, aku lagi berusaha membereskan rumah itu. Jadi, siapapun nggak akan aku ijinkan masuk sebelum semuanya beres. Sebelum aku benar-benar sembuh." Pungkasnya.
Berbanding terbalik dengan Sekala yang lega, Andanu justru merasa teriris. Sebab dia semakin sadar, bahwa kesempatannya untuk bisa mengungkapkan perasaan kepada Kinara kini semakin menipis. Mungkin, dia harus mempertimbangkan untuk menyudahi perasaan ini sebelum tumbuh semakin besar dan menyiksa.
...****************...
Hujan yang turun sejak sore hari ternyata masih bertahan sampai ketika Orion hampir tutup. Hal itu membuat Andanu juga ikut bertahan di kursinya, menghabiskan lebih banyak uang untuk berkali-kali mengisi ulang minuman dan camilan.
Dan sebagai seorang teman yang baik, Kinara berinisiatif mentraktir pemuda itu dua cup minuman dan beberapa potong kue. Lagipula, dia merasa Andanu banyak membantunya di sini selama seharian. Karena berkat kehadiran pemuda itu, Jeremy jadi jarang meledeknya setiap kali pemuda itu muncul dari dapur membawakan pesanan milik pelanggan.
"Kamu mau pulang bareng aku aja?" tawar Kinara sembari membereskan area dekat coffe maker yang berantakan.
"Nggak usah, gue kan bawa motor." Tolak Andanu. Lalu kembali menyeruput es kopi yang beberapa menit lalu diantarkan oleh Sekala. Lelaki itu bahkan ikut duduk di sebelahnya setelah meletakkan cup es kopi di atas meja, dan mereka berakhir mengobrol banyak sembari memperhatikan Kinara melayani pelanggan.
__ADS_1
"Motor kamu biar dibawa pulang aja sama Dimas dan Jeremy, kos mereka dekat kok dari sini." Sekala ikutan buka suara.
Merasa terbantu, Kinara manggut-manggut. "Besok sepulang kelas baru kamu ambil motornya," ucap Kinara sembari menatap Andanu lekat-lekat demi meyakinkan pemuda itu untuk mau diajak pulang bersama.
Hujan turun cukup deras di luar, jadi Kinara tidak tega kalau harus membiarkan Andanu menempuh perjalanan pulang yang lumayan jauh dengan menggunakan motor—apalagi pemuda itu mengaku tidak membawa jas hujan di dalam jok motornya.
"Udah, sama Kin aja pulangnya. Saya biasa kawal dia dari belakang, jadi nanti kita pulang bertiga."
Andanu terdiam cukup lama dengan tatapan yang terpaku pada Sekala. Jujur saja, dia heran. Padahal sudah jelas kalau Sekala menyukai Kinara, tetapi kenapa lelaki itu justru terlihat biasa saja, dan bahkan tidak keberatan melihat gadis yang disukai pulang dengan laki-laki lain? Apa ini karena perkataan Kinara beberapa jam yang lalu, sehingga Sekala jadi merasa minder dan tidak berani menunjukkan perasaan sukanya?
Tapi ... tidak. Bukan perasaan minder seperti itu yang Andanu lihat dari sorot mata Sekala. Lelaki itu terlihat sangat tulus ketika memintanya pulang bersama Kinara. Sama sekali tidak terlihat ada kepura-puraan dan keterpaksaan.
Ha ... apa ini? Baru kali ini Andanu bertemu dengan laki-laki seperti Sekala. Dan, sebab inilah dia merasa kalah. Dilihat dari segi manapun, Andanu merasa Sekala memang pilihan yang terbaik untuk Kinara.
"Nu?"
Andanu menoleh lagi kepada Kinara. Gadis itu sudah menatapnya, menanti jawaban.
Andanu menghela napas panjang. Dia tahu, penolakannya hanya akan berakhir tidak berarti karena saat ini posisinya adalah satu lawan dua. Dia jelas tidak bisa menentang keinginan Sekala dan Kinara.
"Ya udah, iya. Gue bareng sama lo." Andanu pasrah.
Senyum Kinara terbit begitu lebar, membuat Sekala yang melihatnya juga ikut-ikutan melebarkan senyum tanpa sadar. Sedangkan Andanu kembali mengembuskan napas pelan karena merasa telah terjebak di antara dua anak manusia yang isi kepala dan hatinya terlalu sulit untuk dia baca.
Bersambung
__ADS_1