
Matahari sudah sudah hampir sepenuhnya tenggelam ketika obrolan antara Kinara, Atha dan Dahayu akhirnya selesai. Tiga anak manusia itu akhirnya sepakat untuk menghentikan obrolan sampai di sini, karena mereka harus pulang dan membiarkan sang empunya rumah untuk beristirahat.
“Sehabis isya aku jemput kamu.” Kata Atha yang masih enggan melepaskan genggaman tangannya dengan Kinara bahkan sampai kini dia sudah berada di samping mobilnya.
Dahayu sudah berdiri di sisi mobil yang lain, sudah siap membuka pintu dan duduk anteng di kursi penumpang. Namun kegiatannya terpaksa ditunda sedikit lebih lama karena masih harus menyaksikan kebucinan seorang Atharya Danapati kepada satu-satunya gadis pujaan hati, Kinara Adorelia.
“Iya. Udah sana masuk, kasihan Dahayu udah nungguin dari tadi.” Kata Kinara sembari melirik ke arah Dahayu dan terkekeh pelan saat menemukan gadis itu sedang memutar bola mata jengan sembari berkomat-kamit tanpa suara.
Atha ikut-ikutan melirik Dahayu dan malah tersenyum mengejek. “Makanya punya pacar, biar nggak julid mulu kalau ngeliat temannya pacaran.”
Dikatai begitu, Dahayu naik pitam. Dia langsung melempari Atha tatapan mematikan yang seolah bisa mencabik-cabik tubuh pemuda itu dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil yang tak berarti. Sedangkan Atha cuma menanggapinya dengan senyum meledek yang luar biasa kurang ajar.
“Udah, jangan berantem terus.” Lerai Kinara. Lalu, dia bergerak pelan melepaskan genggaman tangan Atha, yang sontak membuat pemuda itu cemberut. “Kamu harus pulang, nggak bisa gandingan terus sama aku.” Kinara berusaha memberi pengertian.
“Cium dulu,” Atha menunjuk pipinya sendiri, sedikit menyodorkan wajah ke arah Kinara berharap akan mendapatkan sebuah kecupan hangat di sana.
Tapi alih-alih kecupan hangat seperti yang sudah dia idam-idamkan, Atha malah mendapati pipinya ditepuk-tepuk pelan oleh Kinara. Dia memberengut, menatap Kinara dengan sepasang mata yang dibuat memelas, hanya untuk mendapati gadis itu tersenyum tipis dan kembali menepuk pipinya sebelum mundur dua langkah.
“Udah, sana pulang.” Kata Kinara dengan suara yang teramat lembut, nyaris seperti lullaby yang sering dia dengar sewaktu kecil dulu, sebelum ibunya meninggal dunia saat usianya baru menginjak tiga belas tahun.
Karena matahari sudah semakin turun dan di sisi seberang Dahayu mulai menggerutu dengan terang-terangan, akhirnya Atha pun mengikuti keinginan Kinara agar dirinya segera pulang. Toh, beberapa jam lagi, dia akan bertemu dengan gadis itu lagi.
“Ya udah, aku pulang. Kamu masuk, mandi, sholat terus siap-siap buat ketemu sama aku lagi.” Kata Atha untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam mobil.
Atha sempat melambaikan tangan kepada Kinara sebelum mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran rumah Kinara. Sedangkan Dahayu terlihat sudah tidak minat untuk bergabung ke dalam prosesi perpisahan yang menurutnya alay itu dan lebih memilih untuk menyandarkan kepala di kursi dan memejamkan mata.
Beberapa menit sejak mobil meninggalkan pelataran rumah Kinara dan kini telah berbaur dengan kendaran lain di jalan raya, Atha baru membuka suara setelah membiarkan hening berkuasa lumayan lama.
“Pastikan itu nggak terjadi, Ay. Gue nggak mau nyakitin Kinara.” Katanya dengan tatapan yang lurus ke depan.
Dahayu yang sejak tadi masih memejamkan mata pun mengembuskan napas keras-keras sebagai respon pertama atas ucapan Atha barusan.
__ADS_1
“Gue juga nggak mau bikin Kinara sakit. Jangan ngomong seolah-olah ini semua mau gue.” Kata Dahayu. Lalu dia memiringkan badan menghadap ke jendela mobil. Matanya terbuka perlahan dan dia mulai fokus menatapi jalanan dengan perasaan yang tidak keruan.
...----------------...
Dahayu tidak mengatakan apa-apa ketika dia keluar dari mobil Atha. Dia tidak mengucapkan terima kasih ataupun salam perpisahan kepada lelaki itu. Dia biarkan lelaki itu mengemudikan mobilnya menjauh dari area perumahannya dan menghilang dalam sekejap tertelan belokan.
Langkah kakinya terasa berat bahkan ketika dia baru sampai di depan gerbang. Dengan sisa tenaga yang masih dia miliki, Dahayu menggeret gerbang besi yang tinggi menjulang itu agar dirinya bisa masuk.
Ketika gerbang berhasil terbuka, satpam yang berjaga berlari tergopoh-gopoh menghampirinya, berbasa-basi menanyakan mengapa dia tidak berteriak untuk dibukakan gerbang dan seperti biasa, Dahayu hanya mengabaikan pertanyaan tak bermutu itu dan tetap meneruskan langkahnya.
Dahayu memicingkan mata saat menemukan eksistensi mobil ayahnya terparkir di halaman. Sepenuhnya merasa heran karena tidak biasanya pria paruh baya itu sudi menghabiskan banyak waktu di rumah.
Tetapi karena Dahayu sudah tidak punya tenaga untuk menduga-duga apa yang membuat ayahnya itu tinggal lebih lama di rumah (dan dia juga sebenarnya tidak terlalu peduli) maka Dahayu terus melanjutkan langkahnya.
Pintu besar di hadapannya di dorong pelan, hanya untuk membuat Dahayu meringis saat yang pertama kali dia temukan adalah keadaan ruang tamu yang berantakan. Bantal-bantal yang biasanya berjajar rapi di atas sofa kini sudah berserakan di lantai. Vas bunga, beberapa pigura foto dan koleksi guci keramik milik ibunya sudah berubah menjadi kepingan-kepingan kecil yang berhamburan memenuhi lantai. Ada bercak darah yang tercecer di beberapa spot di lantai, pertanda bahwa keributan kali ini agaknya berlangsung lebih brutal ketimbang biasanya.
Belum juga Dahayu selesai mengatur kondisi hatinya yang remuk redam karena disuguhi pemandangan memilukan seperti ini, dia kembali dibuat tersentak saat terdengar suara benda pecah dari lantai atas.
Sampai di lantai dua, Dahayu langsung bergegas menuju kamar orang tuanya. Pintu kamar sedikit terbuka, Dahayu memelankan langkah dan mulai mengintip keadaan di dalam kamar itu.
Dan sumpah demi Tuhan, Dahayu merasakan seluruh tubuhnya lemas ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, saat ini ayahnya sedang menodongkan pistol tepat ke depan wajah sang ibu.
Sementara ibunya cuma diam dan menatap ayahnya dengan tatapan datar, seolah pistol yang tepat berada di depan wajahnya itu bukan merupakan sebuah ancaman. Atau barangkali, ibunya itu memang sudah menantikan momen ini sejak lama. Momen di mana nyawanya diambil langsung oleh sang suami yang tidak pernah lagi memberinya kasih sayang.
“Sudah berapa kali saya bilang, saya nggak peduli kamu mau selingkuh sama siapa, asal jangan ketahuan!” pekik Haris sembari mendorong kepala Lisa menggunakan moncong Glock Meyer 22 yang dia pegang.
“Selingkuh dengan mahasiswa yang kuliah di kampus Dahayu? Kamu goblok! Sengaja mau bikin saya malu, hah?! Sengaja, biar semua kolega saya tahu kalau perempuan yang saya nikahi ini nggak lebih dari sekadar perempuan ****** yang kesepian?! Iya?!” bentak Haris. Emosinya sudah tidak terbendung lagi.
“Dari dulu sampai sekarang, kamu masih saja bajingan, Lisa. Kamu dan orang tua kamu sama-sama bajingan!” Haris sudah tidak bisa membendung emosinya lagi, dia menarik pelatuk dan siap untuk meloloskan peluru dari dalam pistol untuk menembus kepala Lisa.
Tetapi, tepat sebelum dia melepaskan jarinya dari sana, perhatian Haris tercuri karena sebuah teriakan yang berasal dari pintu.
__ADS_1
“Papa!” Dahayu berlari menghampiri ayahnya. Nekat, dia merebut pistol dari tangan sang ayah hingga peluru yang siap ditembakkan dari sana melesat dan langsung bersarang ke tembok kamar.
“Apa-apaan kamu?! Kamu mau mati, hah?!” pekik Haris. Meleset sedikit saja, bukan tembok yang akan hancur, tetapi kepala Dahayu.
“Bagus kalau aku memang bisa mati sekarang.” Kata Dahayu dengan entengnya.
“Ngomong apa kamu?!”
“Ay, pergi.” Sela Lisa sembari menarik lengan Dahayu agar gadis itu segera pergi dari sana.
“Nggak.” Dahayu menggeleng keras. “Kalau ada yang harus mati malam ini, entah itu Papa atau Mama, aku harus ikut.”
“Sinting!” teriak Haris. Pistol masih ada di tangannya, tetapi sekarang dia sudah tidak tertarik untuk meledakkan satu pun peluru dari sana.
“Papa pikir, aku sinting karena siapa?”
Haris tidak menjawab. Lelaki itu hanya mendengus kasar kemudian segera pergi dari sana sebelum emosinya kembali naik dan dia benar-benar akan membuat salah satu di antara mereka bertiga mati.
Dahayu Cuma bisa menatapi punggung sang ayah sampai tidak nampak lagi. Sebelum akhirnya dia menghela napas lega karena setidaknya, tidak ada yang harus mati malam ini.
“Kamu seharusnya nggak ikut campur, ini masalah Papa dan Mama.” Ucap Lisa.
Dahayu menoleh dan menatap datar sang ibu. “Sejak Mama memutuskan untuk melahirkan aku ke dunia, Mama udah membuat aku ikut terseret ke dalam
masalah kalian yang rumit. Jadi, udah telat untuk minta aku nggak ikut campur sekarang.”
Setelah mengatakan itu, Dahayu melenggang pergi begitu saja.
Meninggalkan Lisa yang bahkan sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air mata.
Bersambung
__ADS_1