
Bekerja paruh waktu di Orion ternyata menciptakan dampak yang cukup siginifikan dalam kehidupan perkuliahan Kinara.
Ini hari ke-enam, dan dia sudah berhasil mendapatkan beberapa teman baru berkat pekerjaannya sebagai kasir di Orion, yang mengharuskannya untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Beberapa dari mereka adalah mahasiswa dari jurusan lain, yang kebetulan merupakan pelanggan tetap di Orion dan merasa cocok dengan cara Kinara melayani mereka, sehingga mereka memutuskan untuk berteman.
Hubungannya dengan Andanu juga semakin baik. Pemuda itu kerap kali menghabiskan waktu di Orion, memesan menu yang setiap hari hampir sama, hanya untuk sesekali mengganggunya ketika dia tidak sedang menerima pesanan.
Seiring berjalannya waktu, Kinara juga mulai tahu kalau Andanu ternyata memang tidak sependiam itu. Beberapa kali mereka terlibat perdebatan sengit untuk hal-hal yang remeh, hingga beberapa kali membuat Sekala yang kadang stay di belakang meja kasir bersama dengannya geleng-geleng kepala.
"Teman kamu yang itu nggak datang lagi hari ini?"
Kinara menoleh, menemukan Sekala baru keluar dari ruang staf. Lelaki itu tampak mengedarkan pandangan, menyapu setiap sudut cafe yang lumayan ramai sore ini.
"Andanu?" tanya Kinara memastikan.
Sekala mengangguk. Lelaki itu berjalan mendekat, berhenti di sisi tubuh Kinara sembari masih mengedarkan pandangannya.
"Lagi nggak punya duit, mungkin?" celetuk Kinara asal.
Mendengar itu, Sekala menoleh, menatap Kinara sebentar kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke belakang counter.
"Sepi nggak ada dia," adu Sekala setelah berdiri di samping Kinara.
"Malah bagus dong, Mas. Jadi saya bisa konsentrasi kerja, nggak digangguin terus." Kinara setuju pada statement Sekala soal suasana yang sepi tanpa kehadiran Andanu. Tetapi, dia juga merasa bersyukur karena setidaknya pekerjaannya bisa berjalan lebih cepat karena bocah itu tidak datang untuk mengganggu. Kadang-kadang, tingkah random Andanu juga cukup mengganggu.
"Nah, panjang umur."
Kinara menoleh ke arah Sekala dengan kening yang berkerut. Apanya yang panjang umur?
"Tuh, lihat," Sekala menatap lurus ke arah pintu masuk, Kinara pun mengikuti arah pandang Sekala. Dan, seketika itu juga dia berdecak sebal karena menemukan Andanu muncul dari balik pintu, bersama Astari yang mengekor di belakang tubuhnya.
"Kenapa musti ke sini, sih?" gerutu Kinara, namun dia tetap menyunggingkan senyum ramah khas seorang kasir ketika pemuda itu sampai di depan counter.
"Selamat sore, ada yang bisa dibantu?" sapanya, menggunakan template yang sekarang sudah secara otomatis keluar dari mulutnya setiap kali ada pelanggan.
"Saya butuh pengantin buat saya nikahin minggu depan, Mbak. Ada?" ucap Andanu asal, membuat Kinara seketika memelototinya dan menghilangkan raut ramah dari wajahnya jauh-jauh.
"Kamu mau aku tendang sampai nyangsang ke pohon Flamboyan yang di depan?" sewot Kinara, tetapi Andanu malah terkekeh.
__ADS_1
"Tuh, lihat, Mbak. Mbak sih nggak percaya, Kinara tuh emang aslinya suka marah-marah." Andanu menoleh ke samping, berbicara pada Astari yang sedari tadi cuma diam, menatap lurus ke arah Sekala yang terkekeh menyaksikan perdebatan sengit antara Kinara dan Andanu.
Astari menoleh, tersenyum tipis ke arah Andanu kemudian beralih menatap Kinara dengan masih mempertahankan senyumnya.
"Bagus, dong. Mendingan begini, daripada nangis-nangis kayak waktu itu." Kata Astari, mengingat kembali kondisi Kinara yang menyedihkan saat pertama kali dibawa pulang oleh Andanu.
"Mbak," tegur Kinara. Berharap Astari tidak akan melanjutkan ceritanya, apalagi di depan Sekala.
"Tuh, kan. Sama Mbak aja dia udah berani galak," sela Andanu. Lagi-lagi langsung dihadiahi pelototan oleh Kinara.
"Mbak, bisa nggak adiknya ditinggal aja di rumah? Ngeselin soalnya." Adu Kinara, yang hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Astari.
Ketika Andanu ikut-ikutan terkekeh, Kinara kembali melotot ke arahnya.
"Nggak usah ketawa kamu! Cepetan, mau pesan apa?!" sewotnya, menekan layar komputer di depannya dengan gerakan kasar yang lagi-lagi malah membuat Andanu semakin tergelak.
"Mas Sekala kayaknya salah pilih karyawan deh, galak gini mah yang ada pada takut pelanggannya."
"Enak aja! Aku ramah, tahu! Sama kamu doang aku galak! Soalnya kamu ngeselin."
"Najis!"
"Dih, ngegas!"
Perdebatan dua anak manusia itu berlanjut lebih lama, membuat Astari dan Sekala menarik diri, lebih memilih menjadi penonton karena kalau boleh jujur, menyaksikan dua anak bocah ini berdebat cukup menghibur.
Di tengah-tengah keterdiaman mereka berdua dalam menonton perdebatan antara Andanu dan Kinara, Astari kembali mencuri pandang ke arah Sekala. Memang benar, dilihat dari segi manapun, Sekala memanglah orang yang selama ini dia pikirkan ketika Andanu pertama kali bercerita tentang Orion. Orang yang mengingatkannya pada sosok yang masih tidak bisa dia lupakan bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.
...****************...
"Kin,"
Kinara mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ketika suara Sekala menginterupsi. Pemuda itu muncul dari balik pintu masuk, membawa satu tas belanja bertuliskan nama minimarket yang berada tak jauh dari lokasi cafe mereka.
"Mas Kala beli apa?" tanyanya ketika pemuda itu sampai di hadapannya, meletakkan tas belanja tadi di atas meja.
"Roti sama susu, buat kamu." Jelas Sekala, sembari mencari posisi duduk di seberang Kinara.
__ADS_1
Sekarang sudah setengah sebelas malam, cafe sudah tutup dan semua karyawan telah pulang, hanya tinggal Sekala dan Kinara saja yang tinggal.
"Roti sama susu? Buat saya?" tanya Kinara sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, biar kamu tumbuh ke atas, nggak ke samping." Goda Sekala, membuat Kinara menggembungkan pipinya.
Disuguhi pemandangan seperti itu, Sekala justru tergelak. Tanpa sadar, tangannya terulur, menepuk-nepuk pelan kepala Kinara sampai pipi gadis itu perlahan kembali menirus.
"Mas Kala kayaknya jangan bergaul sama Andanu, deh. Jadi ketularan nyebelin soalnya." Kinara mengatakannya sembari memberengut.
Sekala menarik tangannya dari kepala Kinara, lalu menatap gadis itu serius.
"Tahu, nggak, kenapa saya dan Andanu suka godain kamu kayak gini?"
"Karena kalian memang ngeselin!" sewot Kinara.
Sekala kembali terkekeh, tapi tak lama berselang, wajahnya kembali serius.
"Saya dan Andanu suka godain kamu karena reaksi kamu yang lucu." Jujur Sekala.
"Kamu itu ibarat adik kecil yang lagi dalam fase paling menggemaskan, Kin. Bikin saya dan Andanu nggak tahan untuk nggak godain kamu,"
"Ngeselin!" Kinara merajuk, kembali menggembungkan pipinya sambil melipat tangan di depan dada.
"Tuh, kan, gemas." Kata Sekala, sekonyong-konyong mencubit pipi Kinara sehingga membuat sang empunya merintih kesakitan.
"Sakit, Mas Kala!" Kinara menepis tangan Sekala, sekaligus mendaratkan cubitan kecil di lengan pemuda itu sebagai bentuk balas dendam.
"Ini juga sakit!" Sekala meringis, mengusap lengannya yang memerah akibat cubitan Kinara.
"Nah, impas." Kinara cuma melirik sekilas tanda kemerahan di lengan Sekala, kemudian mengempaskan punggungnya dan pura-pura kembali sibuk dengan ponselnya.
Sekala cuma tersenyum, memperhatikan Kinara yang sesekali masih berkomat-kamit tanpa suara.
Gemes. Batinnya.
Bersambung
__ADS_1