
Sore ini, hujan turun cukup deras, membuat kondisi cafe tidak terlalu ramai seperti biasanya. Entah karena para pengunjung yang memilih putar balik karena tidak mau menerobos hujan, atau sesederhana bahwa rejeki Orion memang hanya segini hari ini.
Tepat ketika Kinara selesai mengenakan apron dan berdiri di belakang meja kasir, Andanu terlihat menerobos masuk ke dalam cafe dengan pakaian yang sedikit basah terkena tampias air hujan.
Kalau biasanya Kinara akan mendumal untuk menyambut kedatangan pemuda itu, sore ini dia lebih berbesar hati untuk menyunggingkan senyum yang lebih tulus.
Sebab setelah menghabiskan air mata dan berteriak bersama Sekala semalam, hatinya mulai terasa ringan dan perasaannya benar-benar jauh lebih baik. Jadi, untuk merayakan kepulihan hatinya itu, Kinara akan tersenyum lebih banyak mulai hari ini.
"Tumben lo sambut kedatangan gue dengan senyum sumringah, biasanya ngomel-ngomel mulu macem emak-emak." Cibir Andanu, saat pemuda itu baru saja tiba di hadapannya.
Kinara tidak terpancing, malah semakin melebarkan senyum kala matanya menangkap kehadiran sosok lain yang datang tidak lama setelah Andanu.
Itu adalah Astari. Perempuan itu tersenyum cerah kepadanya sembari menunjukkan satu kantong belanjaan yang dia pegang.
"Mbak Astari udah pulang kerja?" tanyanya, mengabaikan eksistensi Andanu yang kini berkomat-kamit tanpa suara karena omongannya tidak direspon.
"Aku udah nggak kerja," aku Astari, membuat Kinara sedikit terkejut, namun dia tetap berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Resign?" tanyanya kemudian, setelah Astari meletakkan kantong belanjaan yang ternyata isinya adalah beberapa bungkus biskuit Regal dan susu kotak rasa coklat.
Astari mengangguk, senyum cerahnya masih tidak luntur, malah semakin lebar ketika matanya menangkap kehadiran sosok Sekala yang baru saja muncul dari balik pintu ruangan staf.
Kinara yang sadar akan perubahan ekspresi Astari begitu perempuan itu menemukan eksistensi Sekala sontak melemparkan tatapan ke arah Andanu, mengode pemuda itu melalui tatapan matanya sembari mengulum senyum.
Tapi dasarnya Andanu itu agak bodoh, pemuda itu tidak cepat tanggap dan malah menarik lengan Astari lalu membawa kakak perempuannya itu menuju salah satu meja.
"Gue pesan kayak biasanya, lo bikinin, cepetan!" seru pemuda itu sebelum berlalu dari depan counter.
Usaha Kinara untuk tidak mendumal hari ini dipatahkan begitu saja oleh kelakuan Andanu. Tepat ketika bocah kurang ajar itu mendudukkan dirinya di meja paling pojok, Kinara mengoceh panjang lebar meskipun dengan volume suara yang teramat pelan.
Masih sambil mengoceh, Kinara menyiapkan dua cup Caramel Macchiato pesanan Andanu. Sementara Sekala yang berdiri di sampingnya cuma bisa terdiam karena sejujurnya dia tidak mengerti kenapa Kinara ngomel-ngomel cuma karena Andanu bertingkah seperti biasanya.
"Kalau kerja nggak boleh sambil ngedumel, Kin. Harus ikhlas," tegur Sekala ketika Kinara tidak kunjung berhenti mengomel.
Dua cup Caramel Macchiato yang sudah selesai Kinara buat diletakkan dengan gerakan sedikit mengentak ke atas counter, lalu Kinara menoleh ke arah Sekala dengan raut wajah yang cemberut.
__ADS_1
"Saya ngomel-ngomel bukan karena harus menyiapkan pesanan Andanu," ucapnya, membuat satu alis Sekala terangkat.
"Terus?"
"Saya kesal, Mas Kala, soalnya kalian tuh nggak ada yang peka!"
Alis Sekala terangkat makin tinggi, pertanda bahwa kebingungannya masih belum menemukan titik terang.
"Ngomong yang jelas, Kin." Kata Sekala pada akhirnya, ketika dia tidak berhasil menebak sendiri maksud dari perkataan Kinara barusan.
"Tuh, kan, nggak peka!" Kinara malah mengomel lagi, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia meraih dua cup Caramel Macchiato dan segera mengantarkannya ke meja yang ditempati Andanu dan Astari.
"Otak dia gesrek karena kebanyakan teriak sama nangis semalam kali, ya?" tanya Sekala, entah kepada siapa. Barangkali kepada layar komputer yang menyala, atau justru pada coffe maker yang menatapnya tanpa dosa.
...****************...
"Kin," panggil Sekala ketika dia dan Kinara sedang membersihkan counter untuk persiapan menutup cafe.
Kinara yang sedang mengelap area di sekitar coffee maker pun menoleh, hanya untuk dibuat mendengus karena Sekala tidak kunjung buka suara setelahnya.
"Yang kamu bilang tadi ... yang soal saya nggak peka, itu maksudnya apa?"
Kinara menghela napas panjang. Lap yang ada di tangan dia campakkan begitu saja di atas counter, lalu dia berjalan mendekat ke arah Sekala yang berdiri di belakang meja kasir.
"Mas Kala beneran nggak paham?" tanyanya, dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan mata yang menatap lekat ke manik Sekala.
Sekala, dengan polos dan begitu jujurnya, menggelengkan kepala. Membuat Kinara berdecak, walaupun pada akhirnya tetap bersedia menjelaskan.
"Gini, Mas Kala," mulainya. Sebelum melanjutkan, dia menarik kursi dari pojok counter, menyeretnya ke belakang meja kasir dan menyuruh Sekala untuk duduk. Dia sendiri memutuskan untuk menarik kursi lain dari salah satu meja customer, dan mereka pun duduk berhadap-hadapan.
"Mas Kala tahu nggak kenapa Mbak Astari sering banget ikut Andanu datang ke sini?" tanyanya, sebagai pancingan.
"Ya karena dia suka sama suasana di sini? Saya lihat dia sering bawa laptop, mungkin di sini enak untuk dipakai kerja?" lagi-lagi Sekala menjawab dengan alasan paling masuk akal sedunia.
Kinara berdecak lagi. Dia sampai heran, apa jangan-jangan manusia bernama Sekala Pranadipa ini tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta? Kenapa begitu sulit menangkap sinyal-sinyal yang diberikan oleh Astari, padahal perempuan itu sudah secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya?
__ADS_1
"Mas Kala udah pernah pacaran belum?" tanya Kinara pada akhirnya. Bukannya dia mau mencampuri urusan pribadi bos-nya itu, dia cuma perlu tahu agar dia bisa menentukan harus mulai menjelaskan kepada Sekala dari mana.
Dan, ketika Sekala menggelengkan kepala dengan tampang polos tak berdosa, Kinara tiba-tiba saja menepuk jidatnya sendiri.
"Pantesan," ucapnya, dengan suara yang teramat pelan.
"Kenapa, sih, Kin? Jangan bikin saya bingung." Sela Sekala, yang mulai geregetan karena merasa Kinara terlalu berbelit-belit.
Kinara menatap Sekala lagi, mengembuskan napas keras-keras sebelum kembali membuka mulutnya.
"Mas Kala nggak merasa, kalau Mbak Astari itu tertarik sama Mas Kala?" tanyanya, yang lagi-lagi cuma ditanggapi Sekala dengan gelengan kepala.
"Sama sekali nggak merasa?" ulangnya.
"Nggak, Kin. Saya nggak merasa. Lagian, berdasarkan apa kamu bisa bilang begitu?"
"Ya berdasarkan apa yang saya lihat setiap hari lah, Mas Kala!" Kinara geregetan. Kalau Sekala bukan bos-nya, Kinara mungkin sudah memukul kepala lelaki itu sejak tadi saking gemasnya.
"Cara Mbak Astari mandang Mas Kala itu beda, senyumnya juga beda," Kinara masih berusaha menjelaskan.
"Beda dari mana? Biasa aja, tuh."
"Beda, Mas Kala! Tatapan Mbak Astari itu menunjukkan kalau dia lagi terkagum-kagum sama Mas Kala. Masak gitu aja nggak ngerti sih, Mas?"
"Kamu salah tangkap, Kin."
"Saya nggak salah tangkap, memang Mas Kala aja yang nggak peka!" Kinara mulai ngegas. Padahal dia aslinya kalem, tapi entah kenapa kalau dengan Andanu dan Sekala, tingkat kesabarannya benar-benar seperti digerus habis.
"Kin,"
"Ih, gemes banget. Rasanya pengin aku kurung kalian berdua di dalam satu ruangan, biar kalian bisa ngobrol dan Mas Kala bisa lihat gimana bedanya tatapan Mbak Astari ke Mas Kala." Kinara frustrasi sendiri, sampai mengepalkan kedua tangannya di depan wajah dan menunjukkan raut gemas.
"Udah, nggak usah ngawur. Sana, beresin counter, kita harus tutup cepat-cepat." Sekala bangkit, kemudian menarik lengan Kinara dan mendorong pelan punggung gadis itu agar segera menyelesaikan pekerjaannya daripada terus mengatakan omong kosong.
Astari menyukainya? Itu teori dari mana? Ada-ada saja!
__ADS_1
Bersambung