After The Rain

After The Rain
Layla and Her Sad Story


__ADS_3

"Jadi, kamu dari tadi duduk di sini dengan baju yang basah?" tanya Kinara tak habis pikir.


Kinara tidak menyangka kalau bau anyir yang dia endus sedari tadi berasal dari bekas telur yang dilemparkan ke tubuh Layla. Kini, setelah dia perhatikan lagi, memang ada bercak-bercak kekuningan menempel di gamis berwarna abu-abu yang Layla kenakan. Bukan cuma telur saja, Layla ternyata juga disiram air sehingga bau anyir dari telur itu semakin merembet kemana-mana.


Layla menganggukkan kepala. Dia menatap Kinara sendu dengan mata yang memerah dan sembab. Jejak air mata tercetak jelas di pipinya yang putih pucat.


"Siapa pelakunya?" tanya Kinara dengan kekesalan yang kentara. "Kita harus laporin, ini udah termasuk perundungan. Nggak bisa dibiarin gitu aja."


Layla menggeleng kuat-kuat. Sebab tidak ada gunanya melapor. Memangnya, siapa yang akan membela seseorang yang namanya sedang menjadi perbincangan hangat di mana-mana karena kebodohannya sendiri? Yang ada, Layla akan semakin mendapatkan hujatan.


"Tapi kalau dibiarin, mereka bakal semakin menjadi-jadi."


"Aku nggak apa-apa."


Nyeri. Kinara merasakan sudut hatinya yang lain terasa nyeri saat melihat senyum terbit menghiasi wajah cantik Layla yang polos tanpa sentuhan make up. Di saat dunianya hancur luluh lantak berkat ulah orang tak bertanggung jawab yang telah menyebarkan aibnya, Layla masih bisa menyunggingkan senyum itu walau kegetiran jelas terpancar dari kedua bola matanya.


Sepenuhnya sadar bahwa dirinya tidak punya hak untuk memaksakan apa pun terhadap orang lain, Kinara cuma bisa menghela napas. Kalau memang sudah menjadi keputusan Layla untuk tidak melapor, dia sebagai teman bisa apa?


"Terus, soal Pak Andreas-"

__ADS_1


"Itu aku yang posting di base kampus." Sela Layla sebelum Kinara sampai pada ujung kalimatnya. Gadis itu kemudian menunduk, menatapi sepasang sepatu miliknya yang kini warnanya sudah tidak lagi putih bersih. Sama seperti dirinya yang sudah tidak lagi suci berkat kebodohannya karena terlalu memercayai orang lain. "Aku mau dia setidaknya menunjukkan empati terhadap aku, bukan malah menghindar seolah kami nggak pernah ada di satu hubungan yang serius." Sambungnya.


Kemudian, Layla mengangkat pandangan. Di atas mereka, awan berwarna oranye sudah mulai bergerak menjauh, menyisakan warna abu-abu yang sebentar lagi akan sepenuhnya menjadi gelap.


Di sebelahnya, Kinara masih tidak bisa berkata apa-apa. Ketika pertama kali menemukan nama Pak Andreas dibawa-bawa, dia betulan berpikir bahwa itu adalah ulah orang yang tidak suka kepada dosen muda tersebut. Tapi kini, ketika dia mendapati fakta bahwa laki-laki itu memang terlibat, Kinara sepenuhnya kehilangan kepercayaan, bahkan kepada dirinya sendiri.


"Memang bukan Pak Andreas yang menyebarkan video itu, tapi aku merasa dia setidaknya tetap harus menunjukkan keprihatinan atas apa yang menimpa aku." Kata Layla lagi. Suaranya mulai kembali bergetar dan kabut bening mulai berkumpul di pelupuk matanya. "Video itu disimpan di laptop Pak Andreas, Ra. Dan dia kehilangan laptop itu seminggu sebelum semua ini terjadi."


Semakin bertambah hilang kata-kata di kepala Kinara saat mendengar itu. Sungguh dia tidak habis pikir. Mengapa ada orang yang menyimpan video mesum dirinya sendiri? Apa yang berusaha mereka dapatkan dari menonton diri sendiri sedang melakukan kemaksiatan? Kesenangan? Kepuasan? Apa? Kinara benar-benar tidak paham dengan pola pikir mereka, karena selama tiga tahun berpacaran dengan Atha, laki-laki itu bahkan tidak berani mencium bibirnya.


"Aku memang bodoh. Seharusnya aku menolak sewaktu Pak Andreas minta adegan itu untuk direkam." Satu tetes air mata berhasil lolos membasahi pipi Layla, disusul air mata lain yang semakin lama semakin deras berjatuhan. "Kenyamanan yang Pak Andreas berikan ke aku udah bikin otak aku nggak berfungsi, Ra. Aku menyesal."


"Cuma karena aku merindukan kasih sayang seorang ayah, aku rela memberikan apa pun yang Pak Andreas minta karena dia bisa memberikan apa yang aku butuhkan. Aku sampai lupa kalau selama aku hidup, Mama udah memberikan yang terbaik untuk aku. Mama udah berusaha jadi ibu sekaligus ayah buat aku supaya aku nggak tumbuh menjadi anak yang kesepian, tapi aku malah menghancurkan semuanya. Aku bodoh, Ra. Bodoh."


...****************...


Dahayu mendumal sembari terus mengentak-entakkan kaki di aspal. Dia kesal karena sampai langit sudah berubah gelap, Kinara masih belum juga menampakkan diri. Kampus bahkan sudah sepi dan sejauh mata memandang, yang Dahayu temui hanyalah kekosongan.


"Ni anak mati apa gimana? Bilangnya sebentar tapi sampai sekarang belum nongol juga!" gerutu Dahayu.

__ADS_1


Dahayu hendak mengayunkan kakinya untuk pergi meninggalkan area parkiran dan menghampiri Kinara di gedung fakultas kedokteran. Barangkali saja anak itu lupa jalan pulang, kan? Mungkin saking banyaknya buku yang dia baca, anak itu jadi tersesat di dunia yang dia buat sendiri di dalam kepala.


Tetapi baru saja dia membalikkan badan, Dahayu memicingkan matanya saat mendapati sosok Kinara berjalan dari kejauhan. Gadis itu tidak sendiri, ada sosok gadis lain yang berjalan beriringan dengannya. Setelah diamati lebih teliti, Dahayu menemukan gadis di samping Kinara itu adalah Layla.


"Wah, doyan banget nyari penyakit emang teman gue yang satu itu." Gumamnya sembari geleng-geleng kepala. Padahal mereka semua tahu kalau nama Layla sedang jadi perbincangan hangat di mana-mana, tapi bocah polos nan lugu bernama Kinara Adorelia itu malah berjalan beriringan dengan Layla seolah mereka adalah teman lama yang akan menerjang badai bersama-sama.


Omelan demi omelan masih Dahayu layangkan, walaupun yang bisa mendengar omelan itu hanya dirinya sendiri dan juga pohon-pohon di sekitarnya yang bergoyang tertiup angin. Bibir Dahayu baru bisa terkatup saat sosok Kinara dan Layla sampai di hadapannya.


Tidak seperti tadi ketika ia memicing tidak suka pada kehadiran Layla dari kejauhan, kini Dahayu menyunggingkan senyum canggung sebab tidak ingin terlihat jahat. Lagipula, dia sebenarnya juga bersimpati kepada Layla. Hanya saja dia tidak sevokal itu untuk menunjukkan simpatinya.


"Ay, kita anterin Layla pulang dulu, ya."


Itu bukan pertanyaan. Demi Tuhan Dahayu yakin itu bukan kalimat pertanyaan. Jadi daripada dia membuang tenaga untuk mendebat Kinara, Dahayu segera membukakan pintu bagian penumpang di belakang agar Kinara dan Layla bisa masuk.


Dua gadis itu masuk secara bergantian. Kemudian Dahayu menutup pintu pelan-pelan. Sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membanting pintu mobil. Pertama, karena ini bukan mobilnya. Kedua, dia lagi-lagi tidak ingin terlihat jahat di depan Layla.


Dahayu kemudian berjalan menuju sisi pengemudi. Dia duduk dan segera mengenakan seatbelt. Lalu dia melirik Kinara dan Layla melalui kaca spion depan untuk memastikan apakah dua orang itu sudah duduk dengan aman atau belum.


Setelah memastikan mereka semua duduk dengan aman dan nyaman, Dahayu mulai menyalakan mesin. Sebelum pedal gas diinjak, Dahayu tidak henti-hentinya meyakinkan diri sendiri untuk menahan amarahnya terhadap Kinara.

__ADS_1


Untuk saat ini, biar saja dia menahan diri. Karena nanti setelah mereka pulang dari mengantarkan Layla, Dahayu akan memarahi Kinara habis-habisan!


Bersambung


__ADS_2