
Tidak seperti selayaknya orang pada umumnya yang menjamu tamu di ruang tamu, Tante Lisa menyeret Kinara ke ruang tengah yang sejatinya hanya diperuntukan bagi anggota keluarga saja. Kinara tidak bisa menolak dan hanya sesekali menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaan Dahayu.
Di belakang, Dahayu mengekor dengan wajah yang cemberut. Sejujurnya dia agak tidak suka melihat ibunya memperlakukan Kinara dengan begitu hebohnya. Bukan karena dia cemburu atau bagaimana, dia hanya takut kalau Kinara akan merasa tidak nyaman pada perlakuan ibunya yang berlebihan.
Apalagi Kinara sudah tahu seluk-beluk keluarganya dan permasalahan yang mereka hadapi. Dahayu khawatir lama kelamaan Kinara akan berpikir bahwa keluarganya benar-benar tidak layak. Walaupun sebenarnya Dahayu tahu kalau dengan otak yang setelannya sudah positif seperti Kinara, pemikiran semacam itu sangat kecil kemungkinannya untuk muncul.
"Duduk di sini, Tante ambilin kamu minuman sama camilan." Titah Tante Lisa yang langsung diangguki oleh Kinara. Dia mengambil posisi duduk di sofa panjang yang menghadap ke layar televisi besar, sementara Dahayu baru menyusul setelah ibunya menghilang di balik pintu dapur.
"Emak-emak emang pinter banget kalau cari muka depan orang." Oceh Dahayu dengan suara yang sengaja dibuat lantang. Dia tidak peduli kalau ibunya mendengar, malah bagus, supaya wanita itu tahu kalau dia sudah muak dengan duality yang dimiliki oleh ibunya itu.
Di sampingnya, Kinara hanya diam. Dia bahkan tidak berani menertawakan ocehan Dahayu seperti yang biasa dia lakukan. Sebab kalau urusannya sudah keluarga, sudah tidak ada lagi yang namanya bercanda.
Tak lama kemudian, Tante Lisa muncul dari dapur sambil mendorong meja kecil beroda. Di atas meja kecil itu tertata rapi berbagai toples berisi camilan, teko kaca berisi air putih dan dua buah gelas.
Meja itu kemudian diletakkan di dekat meja kaca yang ada di hadapan Kinara. Satu persatu toples diturunkan dari meja kecil dan dipindahkan ke meja kaca. Dalam sekejap saja, berbagai jamuan itu sudah tersuguh cantik di depan mata Kinara.
"Kamu boleh makan semuanya." Kata Tante Lisa, lagi-lagi dengan senyum yang tak luntur.
"Terimakasih, Tante." Ucap Kinara disertai senyum sopan.
Dahayu masih berkomat-kamit tanpa suara di sebelahnya. Sesekali dia melihat gadis itu melirik sinis ke arah Tante Lisa yang sudah duduk di single sofa di sisi kiri sofa yang dia dan Dahayu duduki.
"Gimana kuliahnya? Aman? Nggak ada kendala, kan?" tanya Tante Lisa.
Umunya, pertanyaan itu akan dilontarkan kepada Dahayu, sebab gadis itu adalah putri semata wayangnya. Tapi pada kenyataannya, pertanyaan itu justru ditujukan kepada Kinara yang notabene adalah orang lain.
"Aman, Tante." Setelah menjawab, Kinara kembali melirik ke arah Dahayu. Kini, gadis itu tampak memicing ke arah sang ibu sambil mengunyah biskuit kacang yang dia comot dari dalam toples yang dia peluk erat-erat.
"Syukur kalau begitu." Ucap Tante Lisa sembari menghela napas lega. Kemudian, wanita itu mengalihkan perhatian kepada putri semata wayangnya yang sedari tadi luput dari pandangan. Denga suara lembut keibuan, ia berkata, "Tolong jagain Dahayu, ya. Tante takutnya dia bikin onar di kampus." Meskipun tatapannya jelas tertuju pada Dahayu, Kinara tahu kalimat itu ditujukan untuknya. Jadi, Kinara menganggukkan kepala.
"Ada juga gue yang jagain dia." Gerutu Dahayu sembari melirik Kinara yang cuma senyum-senyum canggung menanggapi kalimat lain yang keluar dari bibir ibunya.
__ADS_1
Obrolan terus berlanjut antara Kinara dan Tante Lisa. Sementara Dahayu memutuskan untuk menarik diri dan lebih tertarik untuk memakan semua camilan yang tersedia di hadapannya. Biar saja dua manusia itu mengobrol sesuka hati mereka, toh Dahayu tidak akan dilibatkan di dalamnya.
Kemudian, di tengah obrolan yang semakin asik, seorang pria muncul dari arah tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Pria berusia akhir empat puluhan dalam setelan kaus dan celana bahan panjang itu mengarahkan pandangan kepada Dahayu selama beberapa detik, raut wajahnya datar dan sorot matanya terlihat dingin. Kemudian, saat tatapannya beralih ke arah Kinara, senyum terbit menghiasi wajah rupawannya dan sorot matanya mulai berubah menjadi hangat.
"Halo, Nara. Sudah lama kita nggak ketemu." Sapanya setelah berdiri di hadapan tiga orang yang serempak memusatkan perhatian kepadanya itu.
"Halo, Om." Kinara balas menyapa sembari tersenyum.
"Boleh saya gabung?" tanya pria itu, Haris, kepada istrinya, Lisa.
Kinara merasakan kecanggungan yang jelas sekali antara sepasang suami-istri itu. Tetapi dia berusaha menempatkan diri sebagai orang lain yang tidak berhak ikut campur atas apa yang terjadi di dalam keluarga ini. Pokoknya selagi mereka bersikap baik, Kirana juga akan bersikap yang sama.
Setelah mendapat ijin, Haris kemudian mengambil posisi duduk di single sofa yang lain di sisi kanan, yang membuatnya otomatis berdekatan dengan Dahayu. Kini, Kinara dan Dahayu terlihat seperti sepasang saudara yang sedang menunggu penghakiman dari kedua orang tua mereka karena telah berbuat kesalahan.
"Kuliah kamu gimana?"
Kinara dan Dahayu sama-sama menoleh ke arah Haris untuk memeriksa kepada siapa pertanyaan itu ditujukan. Dan ternyata, tatapan pria itu tertuju pada Dahayu dan Kinara mengasumsikan bahwa pertanyaan tersebut memang ditujukan kepada gadis itu.
"Papa nanya sama kamu, Ayu."
Saat namanya disebut dengan nada yang tegas dan terkesan mengintimidasi, barulah Dahayu menoleh lagi dan menyelesaikan kunyahannya sebelum menjawab.
"Biasa aja, nggak ada yang spesial." Jawabnya kemudian meletakkan toples yang isinya sudah hampir tandas lalu menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya. "Tumben Papa mau tahu soal kuliah aku." Lanjutnya.
Seperti yang sudah Kinara ketahui, hubungan Dahayu dengan kedua orang tuanya memang tidak baik. Jadi saat mendengar Dahayu bicara dengan nada ketus seperti itu kepada ayahnya, Kinara sudah tidak terkejut lagi. Bukan berarti dia membenarkan apa yang Dahayu lakukan, dia hanya merasa tidak punya hak untuk mengajari Dahayu ini itu sebab dia tidak pernah benar-benar ada di posisi gadis itu.
"Papa ngeluarin uang yang nggak sedikit untuk membiayai kuliah kamu, jadi Papa setidaknya perlu tahu apakah uang-uang yang Papa keluarkan itu sebanding dengan apa yang kamu kerjakan di kampus."
Sama sekali tidak ada keramahan di dalam nada suara Haris. Hal itu membuat Dahayu mendengus sebal dan melirik Kinara seolah ingin menyampaikan maaf karena telah membawa gadis itu ke dalam situasi tidak mengenakkan seperti sekarang.
"Nara, kalau anak ini berbuat yang aneh-aneh di kampus, bisa tolong kasih tahu Om atau Tante?"
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Kinara ditodong pertanyaan itu. Dia tidak siap, tentu saja. Jadi yang pertama kali Kinara lakukan adalah beradu tatap dengan Dahayu sebelum akhirnya kembeli menatap Haris dan berkata, "Dahayu nggak pernah macam-macam kok, Om. Dia serius belajar karena memang itu jurusan yang dia minati."
Kinara tidak sedang berbohong untuk membela Dahayu. Dia tahu Dahayu memang mencintai bidang yang sama dengan dirinya. Dan dia berharap kedua orang tua Dahayu setidaknya bisa memahami itu.
"Dia memang harusnya bisa menjaga sikap."
Telinga Dahayu benar-benar sudah terasa panas. Dia tidak tahan lagi berada di sini karena atmosfernya sudah tidak bagus.
Maka setelah dia membuang napas kasar, ditariknya Kinara agar bangkit dari duduknya. Yang ditarik tentu saja terkejut, karena gerakannya begitu tiba-tiba dan dia tidak diberi aba-aba.
Melihat Dahayu bertingkah begitu, Lisa dan Haris cuma memandang datar ke arahnya. Seperti sudah hafal pada kelakuan putri mereka yang sebetulnya memang menurun dari mereka.
"Udah malam, Nara harus pulang. Besok kita ada kelas pagi." Kata Dahayu tanpa menatap pada ibu ataupun ayahnya.
Masih tanpa menunggu persetujuan, Dahayu sekonyong-konyong menggeret Kinara untuk meninggalkan ruang tengah. Dia bahkan tidak membiarkan Kinara berpamitan.
Sampai langkah kaki mereka mencapai ruang tamu, Dahayu masih tidak melepaskan genggamannya di tangan Kinara. Kini dia tampak seperti seorang ibu yang menyeret anak gadisnya yang sudah tidak pulang selama berhari-hari.
Lalu saat mereka akhirnya sampai di pintu depan, barulah Dahayu melepaskan Kinara dan mendorong pelan gadis itu menuju mobilnya.
"Sampai rumah nanti lo harus mandi kembang." Kata Dahayu tiba-tiba setelah memaksa Kinara masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa?" tanya Kinara sambi melongokkan kepala dari jendela yang kacanya diturunkan.
"Supaya lo yang tercemar sama atmosfer mengerikan yang ada di rumah ini." Dahayu meringis setelah mengatakan itu. Fakta bahwa suasana di rumahnya tidak baik untuk kesehatan mental siapa pun itu membuatnya merasa miris. Karena dia bahkan terpaksa bertahan di dalam rumah ini karena tidak punya pilihan lain.
Kinara tidak menyahut. Dia tahu Dahayu mulai tidak nyaman. Jadi, Kinara menaikkan kaca mobilnya dan segera menginjak pedal gas setelah berpamitan singkat kepada gadis itu.
Di sepanjang perjalan pulang, Kinara tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Dahayu. Orang-orang mungkin melihat Dahayu sebagai sosok yang judes dan sombong. Tetapi di mata Kinara, segala sikap yang Dahayu tunjukkan itu merupakan caranya untuk mempertahankan diri dari luka batin yang dia derita selama ini.
Kinara sepenuhnya tahu, bahwa sahabat yang terlihat tangguh di luar itu, nyatanya begitu rapuh di dalam dan dia berharap bisa membantu Dahayu merawat kerapuhan itu agar tidak membawa gadis itu ke dalam kehancuran.
__ADS_1
Bersambung