After The Rain

After The Rain
Cuz Tears Don't Suit You


__ADS_3

Hari ini, Kinara punya empat kelas seperti kemarin. Dia masih mendapati dirinya menjadi bahan gosip, bedanya, dia sudah benar-benar tidak peduli. Kinara bahkan tidak lagi merasa kesal ataupun bertanya-tanya mengapa dirinya yang dihujat padahal Dahayu dan Atha yang berselingkuh. Sebab, Kinara akhirnya sadar bahwa sebaik apapun dia bersikap, orang-orang akan tetap punya alasan untuk berbicara hal buruk kepadanya.


Sama seperti kemarin, hari ini Kinara juga tidak menemukan Dahayu menghadiri kelas. Dan, sejujurnya dia sama sekali tidak peduli. Kinara adalah tipikal orang yang bisa begitu sayang dan peduli pada orang-orang di sekitar, tetapi sekalinya dia memutuskan untuk menarik diri, maka Kinara akan benar-benar memutus akses dan tidak lagi menyisakan kepedulian untuk mereka. Mungkin, kepeduliannya baru akan kembali jika mereka sekarat di depan matanya.


Jahat? Menurut Kinara tidak. Dia hanya sedang berusaha melindungi dirinya sendiri agar tidak semakin tersakiti. Semacam coping mechanism untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang lebih buruk.


"Baju kakak kamu masih ada di rumah aku," Kinara berkata kepada Andanu yang duduk di sebelah kirinya, tanpa menolehkan kepala. Entah kenapa, pemuda itu memilih duduk di sebelahnya, padahal masih banyak bangku kosong di kelas saat ini.


"Kata Mbak Astari, pakai aja. Nggak usah dibalikin." Andanu menyahut, sama-sama tidak menoleh ke arah Kinara dan sibuk memperhatikan layar proyektor.


"Makasih, kalau gitu."


Andanu tidak menyahut. Dia cuma melirik sekilas ke arah Kinara untuk sekadar memeriksa ekspresi wajah gadis itu.


Dan ... berani sumpah! Andanu merinding saat menemukan Kinara menatap datar ke layar proyektor di depan. Ekspresi wajah gadis itu juga sama sekali tidak terbaca, berbeda sekali dengan sosok yang biasa dia lihat.


Apakah patah hati memang bisa merubah seseorang sampai sedrastis itu?


"Si Andanu ngapain mepetin Kinara? Naksir?"


"Wah, jangan-jangan dia emang udah ngincer Kinara dari lama, tuh."


"Atau jangan-jangan, emang mereka sebenernya udah deket pas Kinara masih pacaran sama Atha?"


"Maksudnya, mereka juga selingkuh gitu?"


"Kalau begitu sih, bisa jadi Atha sama Kinara putus memang karena Kinara yang nggak beres."


"Andanu juga gatel amat sih, kayak nggak ada cewek lain aja."


Kinara berusaha keras untuk menahan emosinya saat bisik-bisik tak menyenangkan itu mengudara. Tetapi, kesabarannya akhirnya sampai di ambang batas ketika orang-orang itu terus-menerus menyeret nama Andanu di dalam gunjingan mereka.

__ADS_1


Kinara tidak suka ada orang lain yang dilibatkan dalam masalahnya, dia tidak suka dibuat merasa bersalah. Jadi, mau tidak mau, dia harus segera membungkam mulut mereka sebelum apa yang keluar semakin membuat kesabarannya habis.


Dengan tenang, Kinara membalikkan badan. Dia menatap orang-orang yang tadi bergunjing di belakangnya satu persatu, kemudian dengan gerakan pelan, dia mengeluarkan beberapa bungkus permen dari dalam tas lalu menyendorkannya kepada empat mahasiswi tersebut.


"Makan dulu nih permennya, mulut kalian bau, ganggu banget." Katanya dengan suara dan ekspresi wajah datar. Kemudian, karena empat mahasiswi itu tak kunjung mengambil permen yang dia sodorkan, Kinara bangkit dari kursinya dan secara impulsif mendatangi meja empat mahasiswi itu, hanya untuk meletakkan permen-permen miliknya ke atas meja dengan gerakan sedikit menggebrak.


Lalu, Kinara mencondongkan tubuhnya ke arah mereka, kembali menatap mereka satu persatu.


"Kalau mau bergosip, jangan lupa sikat gigi dulu, Sayang. Biar napasnya nggak bau dan mengganggu orang-orang di sekitar." Kata Kinara, diakhiri dengan senyum mengejek yang berhasil membuat empat gadis di depannya itu terdiam.


"Kinara! Sedang apa kamu?!" teriak dosen pengajar dari depan kelas.


Dengan tenang, Kinara membalikkan badan, menyunggingkan senyum manis kepada sang dosen kemudian berkata pelan, "Lagi kasih mereka permen, Pak. Soalnya mulut mereka bau, kasihan teman-teman yang lain jadi terganggu."


Mendengar perkataan Kinara barusan, seisi kelas tiba-tiba saja menjadi riuh. Mereka menyoraki empat gadis yang sedari tadi memang menyumbang polusi suara paling banyak dan sebenarnya mengganggu, tetapi tidak ada yang berani menegur. Diam-diam teman sekelas Kinara berterima kasih, karena berkat keberaniannya, empat gadis itu jadi terdiam.


"Diam kalian semua!" bentak dosen pengajar ketika keriuhan tidak kunjung mereda.


"Baik, Pak." Kinara melenggang menuju kursinya, lalu segera duduk dan kembali mengikuti jalannya pelajaran.


Empat gadis di belakangnya sudah sepenuhnya dibuat bungkam, sedangkan Andanu yang duduk di sebelahnya cuma bisa melongo selama beberapa saat, sebelum akhirnya memberinya dua jempol sebagai pujian.


"Lo keren,"


Kinara cuma tersenyum, diam-diam menghela napas lega karena sejujurnya, dia sudah takut kalau dirinya akan dikeluarkan dari kelas karena telah menimbulkan keributan.


...****************...


Setengah lima sore, kelas terakhir selesai dengan tenang dan khidmat karena empat gadis biang kerok yang sudah berhasil dia buat bungkam di kelas pertama tadi sama sekali tidak berani lagi mengeluarkan suara di kelas-kelas berikutnya.


Kinara bergegas membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar dari kelas, tepat ketika ponsel di saku calana bergetar dan dia terpaksa berhenti di tengah-tengah pintu.

__ADS_1


"Minggir, jangan di pintu," Sebelum sempat mengeluarkan ponsel dari saku celana, Kinara merasakan lengannya ditarik, dan tanpa menoleh sekalipun, dia tahu bahwa pelakunya adalah Andanu.


"Sorry," ucap Kinara, berpikir bahwa Andanu menariknya karena pemuda itu mau lewat dan dia telah menghalangi jalan.


Tetapi, setelah dia mengucapkan kata maaf, Andanu tidak kunjung beranjak dan malah berdiri mematung di depannya sembari menatapnya lekat.


"Kenapa?" tanya Kinara heran, dia jadi semakin tidak punya kesempatan untuk memeriksa pesan yang masuk ke dalam ponselnya karena harus lebih dulu meladeni Andanu.


"Lo keren," ucap Andanu.


Kinara memutar bola mata malas. "Tadi kamu udah bilang gitu di kelas pertama."


"Gue bakal ulang-ulang terus, soalnya lo memang keren banget."


"Makasih, I'll take that as a compliment."


"Itu memang pujian," Andanu menegakkan badan, tiba-tiba menyakui kedua tangannya dan tersenyum.


Untuk beberapa alasan, senyum Andanu terlihat istimewa karena Kinara jarang sekali melihat pemuda itu tersenyum. Mungkin karena Andanu memang bukan tipikal orang yang suka tersenyum, atau dasarnya Kinara saja yang tidak pernah memperhatikan pemuda itu.


"Gue harap, lo akan terus jadi keren kayak sekarang."


"Kenapa?" tanya Kinara heran.


"Cuz tears don't suit you. Lo terlihat berkali-kali lipat lebih menarik dengan sisi kuat lo yang sekarang. So, I hope you'll get stronger from now on."


"And you should smile more from now on, Andanu." Balas Kinara. "Karena senyum kamu manis, sayang kalau cuma kamu simpan untuk dirimu sendiri." Diakhiri sebuah senyum yang tanpa Kinara tahu, sudah berhasil membuat Andanu merasakan gelenyar aneh di dadanya.


Dengan tidak bertanggung jawab, Kinara melenggang pergi setelah mengatakan hal itu. Membiarkan Andanu berdiri kaku menghadapi perasaan aneh yang baru pertama kali mendatanginya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2