
Selama saling mengenal, Kinara belum pernah melihat Sekala begitu rapuh seperti sekarang. Senyum yang biasa lelaki itu umbar untuk semua orang kini hilang entah kemana, meninggalkan jejak-jejak kepedihan yang rupanya selama ini hanya bisa lelaki itu simpan sendirian.
Malam telah naik, bahkan waktu terasa berputar jauh lebih cepat ketimbang sebelumnya. Namun, Kinara sama sekali tidak keberatan ketika Sekala masih berkeras hati untuk tetap tinggal, duduk bersimpuh di samping makam sang ibu kandung sambil berkali-kali menyeka air mata yang jatuh.
Mereka awalnya ke sini untuk meminta restu, setelah sebelumnya berkunjung ke venue tempat akan digelarnya resepsi pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Namun, agenda itu seketika berubah menjadi ajang meluapkan tangis ketika Sekala tidak bisa lagi membendung rasa rindu kepada sang ibunda, dan Kinara tidak punya hak untuk melarangnya.
Kinara tahu, hidup ini menang soal kehilangan. Orang-orang datang silih berganti, seperti yang sudah ia rasakan sampai sekarang. Tapi sekali lagi, ia belum pernah dipisahkan dengan orang-orang terkasih oleh kematian. Jadi ketika sekali lagi ia dihadapkan pada pemandangan seseorang yang menangis tersedu merindukan orang terkasih yang telah lama bersemayam di bawah gundukan tanah, tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk menunjukkan simpati.
Sama seperti ketika ia menemani Atha berziarah ke makan ibunya dulu, Kinara juga membiarkan Sekala bergelung dengan rasa rindu yang mengungkung hatinya. Sesekali ia akan melabuhkan usapan di punggung lelaki itu, untuk kemudian dia biarkan lagi air mata Sekala jatuh tanpa terpikir sedikitpun olehnya untuk menyuruh Sekala berhenti menangis.
"Ibu orang baik," suara Sekala mengudara, melayang-layang bersama embusan angin malam yang anehnya sama sekali tidak mengusik Kinara meskipun kini ia hanya mengenakan kaus lengan pendek dan celana training yang tebalnya tidak seberapa.
"Tapi, seberapa baik pun Ibu kepada saya, beliau tetap nggak bisa menggantikan posisi Bunda."
Saya tahu. Kinara ingin mengatakan itu. Tetapi yang terjadi pada akhirnya justru dia hanya tetap bisu, sembari meraih tangan Sekala untuk dia genggam erat-erat bagai keping terakhir biskuit Regal kesukaan yang ingin ia jaga sepenuh hati.
"Dan itu bikin saya merasa bersalah," lirih Sekala. Tatapan lelaki itu kini tertuju lurus pada nisan bertuliskan nama sang ibunda. "Padahal Ibu udah merelakan banyak hal untuk bisa merawat saya, tapi yang selalu saya lihat setiap kali mata saya bersitatap dengan beliau tetap saja bayangan wajah Bunda. Rasanya ... itu nggak adil buat Ibu."
"Setiap orang punya tempat masing-masing di hidup kita, Mas. Itu yang saya tahu." Kata Kinara setelah terdiam cukup lama hanya jadi pendengar.
Sekala menoleh, tatapan mereka bertemu dan yang bisa Kinara temukan dari manik gelap itu adalah perasaan yang terlalu campur aduk, sehingga sulit untuk dia uraikan satu persatu.
Sekala tampak kacau, itu yang terlihat di mata Kinara. Namun kekacaun itu tidak cukup mampu untuk mengurungkan niat Kinara dari membawa tangan Sekala lebih dalam ke dalam genggamannya. Bukan lagi dengan satu tangan, Kinara menggunakan kedua tangannya untuk merangkum tangan lelaki itu, seolah ingin melindunginya dari hal jahat apapun di dunia yang bisa menyakiti Sekala.
"Saya nggak akan bilang kalau saya tahu apa yang Mas Kala rasakan, karena kenyataannya, saya memang nggak tahu. Saya nggak pernah ada di posisi itu, bohong kalau saya bilang saya bisa memahami perasaan Mas Kala dengan baik."
Kehangatan dari genggaman tangan itu menjalar dengan cepat. Mengempaskan sisa-sisa kecemasan dan kesedihan yang masih berputar-putar di sekitar Sekala, membuat lelaki itu bisa sedikit bernapas lega dan tidak lagi mengurai air mata.
__ADS_1
Bibirnya masih terkatup, tapi telinganya jelas terbuka lebih lebar untuk mendengarkan hal indah apapun yang akan keluar dari bibir Kinara selanjutnya. Sebab dia percaya, gadis cantik calon istrinya itu selalu memiliki stok kosakata yang kadangkala membuatnya lupa, bahwa Kinara hanyalah gadis berusia awal dua puluhan yang masih ranum, terlalu buta untuk tahu bahwa dunia bisa berjalan sekejam apa untuk orang-orang yang tidak beruntung.
"But once again, yang saya tahu, people come and go. Dan ketika tiba waktunya ada yang pergi, yang lain akan datang. Bukan untuk mengisi tempat kosong yang ditinggalkan, melainkan untuk mengisi tempat lain, yang sebelumnya nggak kita sadari kalau ternyata tempat itu memang kosong sejak awal." Bersamaan dengan mengudaranya kalimat itu, satu tangan Kinara pergi meninggalkan genggaman, untuk kemudian dia labuhkan ke pipi Sekala guna mengusap jejak air mata yang tercetak jelas di sana.
"Ibu dan Bunda adalah dua sosok berbeda, yang sama-sama Mas Kala sayang dan punya tempat tersendiri di hati Mas Kala," ucap Kinara. Jejak air mata di pipi Sekala sudah semuanya dia seka, namun kesedihan itu masih terpancar jelas dari kedua manik gelap lelaki itu.
"Sampai kapanpun, Ibu dan Bunda tetap akan berada di tempatnya. Jadi, Mas Kala nggak perlu merasa bersalah. Mas Kala cuma harus meluangkan lebih banyak waktu untuk berkunjung ke tempat Ibu, supaya setiap sisi di dalam diri Mas Kala terbiasa mengenali bahwa tempat Ibu dan tempat Bunda memanglah berbeda." Seulas senyum diukir, begitu cantik, dan Kinara mungkin tidak akan tahu itu.
Hanya Sekala. Hanya Sekala yang bisa melihat betapa cantik senyum itu, dan dia bersumpah tidak akan membiarkan apapun merenggutnya.
"Kalau takut, Mas Kala bisa ajak saya. Kan, setelah menikah nanti, saya akan punya lebih banyak waktu untuk ada di dekat mas Kala." Dan walaupun kalimat itu diakhiri dengan kekehan ringan khas seorang Kinara Adorelia, ketulusan di dalamnya masih tetap terasa. Begitu pekat. Begitu lekat. Sehingga yang bisa Sekala lakukan selanjutnya adalah membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, tanpa aba-aba.
Ini bukan kali pertama Sekala memeluknya sejak resmi melamarnya beberapa minggu yang lalu, tetapi gerakan tiba-tiba itu tetap saja menimbulkan kegaduhan di dadanya, yang disebabkan oleh detak jantung yang tiba-tiba menggila.
"Makasih, ya, Kin." Kata Sekala, dengan dagu yang bersandar di kepala Kinara. Dari postur itu, ia seolah tidak ingin merelakan Kinara lepas dari pelukannya. Yang bisa dibilang tidak seberapa erat karena dia masih ingin memberikan ruang agar Kinara bisa bernapas dengan leluasa.
Katanya, kita harus jadi manusia yang berguna untuk sesama. Lalu banyak orang menjadi pusing memikirkan bagaimana caranya berguna, sampai-sampai lupa kalau hal-hal kecil saja sebenarnya sudah bisa dikatakan sebagai sebuah bantuan.
Seperti sebuah pelukan. Seperti sebaris kalimat penyemangat yang dikatakan kepada mereka yang membutuhkan. Seperti hanya diam, untuk tidak membuat suasana menjadi semakin runyam.
Bersama Sekala, Kinara belajar lebih banyak hal. Sekarang bukan cuma soal mengikhlaskan, tetapi juga soal menjadi berguna, dengan cara paling sederhana.
...****************...
Langkah yang terayun berat pada akhirnya membawa Sagara berhenti hanya beberapa meter dari pusara sang ibu tiri. Di tangannya bersemayam satu buket bunga Lily, warna putih, seputih memori di kepalanya jika itu berkaitan dengan ibunda dari Sekala itu.
Sebab, ketika ayahnya mengaku telah menikah lagi, semuanya sudah berlalu. Sosok perempuan yang Sekala panggil Bunda itu sudah tidak ada lagi di dunia, dan Sagara tidak pernah punya kesempatan untuk berkenalan. Untuk sekadar mengumpat karena perempuan itu telah hadir di tengah Ayah dan Ibu, atau berterima kasih karena setidaknya telah sudi meninggalkan Sekala di dunia untuk diurus oleh Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Kalau ditanya soal perasaan pada ibunda Sekala, Sagara akan menjawab tidak tahu. Karena satu-satunya orang yang menerima begitu banyak luapan rasa marah dan kecewa darinya adalah Ayah. Sebab ia percaya, semuanya tidak akan dimulai jika Ayah tidak membukakan jalan.
Dulu, saat usianya baru memasuki awal dua puluhan, Sagara suka diam-diam pergi ke makam ibunda Sekala, untuk meninggalkan satu buket bunga Lily di atas makam kemudian kabur setelah duduk diam selama berjam-jam tanpa mengatakan apa-apa. Ia melakukan itu sebagai bentuk rasa bersalah, setiap kali dia gagal menjaga Sekala, ataupun ketika dia kelepasan dan berbuat kasar pada anak itu.
Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk membuat Sagara mengesampingkan egonya dan mulai berani menunjukkan kasih sayangnya kepada Sekala secara terang-terangan. Karena meskipun hubungan mereka sudah tidak lagi renggang, ia masih enggan untuk bermanis madu pada anak itu.
Jadi, ketika kini matanya menangkap keberadaan Sekala bersama calon istrinya di depan sana, Sagara memutuskan untuk menyembunyikan diri di balik pohon Kamboja besar yang tumbuh subur di area masuk pemakaman.
Jarak yang terhampar tidak terlalu jauh, sehingga Sagara bisa mendengar tangis pilu Sekala yang meraung-raung meratapi kepergian sang ibu. Atau barangkali, anak itu sedang meratapi nasib sialnya yang harus ditinggal mati, dan ditinggalkan untuk tumbuh besar bersama seorang kakak tidak becus seperti dirinya.
Sesak merambati dada Sagara begitu cepat ketika bukan lagi isak tangis yang ia dengar, melainkan kalimat-kalimat yang sejujurnya sudah tidak mengejutkan lagi untuk dia dapati keluar dari bibir Sekala.
Sesuatu tentang bagaimana anak itu selalu merasa bersalah, atas banyak hal.
Padahal, semesta juga tahu bahwa Sekala tidak salah apa-apa. Setiap kelahiran dan kematian yang terjadi di dunia, sudah pasti atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Dan jika ada di antara manusia yang berani menyalahkan kelahiran seseorang yang lainnya, maka itu sama artinya dengan mereka menyalahkan kehendak Tuhan. Itu dosa, menurut sepengetahuan Sagara.
Sagara hanya manusia biasa, jadi dia tidak punya keberanian yang cukup banyak untuk menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Tetapi egonya sebagai manusia telah mendorong Sagara melakukan hal-hal yang pada akhirnya membuatnya seolah menyalahkan kelahiran Sekala, dan ia menyesalinya.
Namun, lubang yang Sagara gali sudah terlampau dalam, ia terperosok cukup jauh dan jalan keluarnya terlalu sulit untuk digapai. Maka yang bisa Sagara lakukan sekarang hanya menikmati penyesalannya, meresapinya sedikit demi sedikit sampai mungkin nanti penyesalan itu yang akan mengantarkannya kembali pulang ke pangkuan Tuhan.
Dia telah kehilangan banyak hal dalam upaya mengenyahkan kebencian yang entah kepada siapa harusnya dilayangkan. Astari dan Sekala hanya sebagian kecil, dan ia sudah tidak punya apa-apa lagi di dalam hidupnya selain Ibu.
"Maafin Mas, Dik." Lirihnya. Kemudian, buket bunga dia letakkan di atas tanah, tepat ketika satu kelopak bunga Kamboja berwarna kekuningan jatuh ke atas buket yang ia tinggalkan.
Bersamaan dengan tubuhnya yang berbalik lalu kakinya mengayun pelan, gerimis turun tipis-tipis, membantunya meluruhkan sisa kemarahan dan kekecewaan yang ada, melenyapkannya untuk kemudian ia anggap tidak pernah ada.
Bersambung
__ADS_1