
"Dahayu hamil, anak Atha," ucap Kinara beberapa saat setelah tangisnya reda. Dia menarik napas dalam-dalam, memenuhi rongga dadanya dengan oksigen sebagai bekal untuk memerangi sesak yang akan timbul nantinya.
"Mereka bilang nggak sengaja, karena mabuk. Tapi ... apa itu masuk akal?" Kinara tersenyum miris.
Mama masih tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya, dia juga terkejut dan merasa sakit hati atas apa yang putrinya sampaikan. Tidak menyangka bahwa pemuda yang selama ini dipercaya untuk menjaga Kinara, malah menyakiti gadis itu dengan cara paling bajingan di dunia.
"Nara nggak percaya sama alasan nggak sengaja yang mereka bilang, Ma." Kinara mengangkat pandangan, menatap Mama dengan mata yang memerah.
"Mereka udah tahu kalau alkohol itu bisa mengacaukan banyak hal, tapi mereka tetap menenggak minuman haram itu, terlebih di saat mereka sedang ada di kamar hotel berdua. Menurut Nara, mereka udah nggak waras bahkan sebelum alkohol itu mereka tenggak." Kinara nyaris meneteskan air matanya lagi, tapi buru-buru dia tahan kabut bening yang menyelimuti matanya itu agar tidak kembali leleh. Dia tidak boleh terlalu banyak menangis, apalagi kalau alasan menangisnya adalah karena laki-laki bajingan seperti Atha. Rasanya, air mata ini sungguh tidak layak untuk ditumpahkan.
"Nara udah memutuskan untuk menjauh dari Atha dan Dahayu, sejauh-jauhnya, Ma. Nggak apa-apa, kan? Nara nggak akan jadi orang jahat karena menjauhkan diri dari mereka, kan?"
Mama menggeleng, sekuat tenaga menahan tangis yang sudah memenuhi pelupuk matanya. "Kamu nggak jahat, Nara. Mereka yang udah jahat karena mengkhianati kamu. Mereka yang jahat, Sayang." Mama meraih tangan Kinara, mengusap punggung tangannya beberapa kali. "Kamu boleh menjauh dari mereka, nggak apa-apa. Bahkan kalau kamu mau pindah kampus supaya nggak harus ketemu mereka lagi, Mama akan sanggupi."
"Nggak sampai harus pindah kampus, Ma. Sayang uangnya. Lagian ... bukan Nara yang salah, jadi kenapa Nara harus kabur? Nara cuma mau menarik garis batas yang jelas untuk nggak berhubungan lagi dengan mereka berdua."
"Apapun itu, Ra. Apapun itu yang bisa membuat kamu lebih nyaman, Mama akan dukung." Setelahnya, Mama menarik Kinara ke dalam pelukan. "Siapa pun boleh pergi dan berkhianat sama kamu, Sayang. Tapi Mama janji, Mama nggak akan seperti itu. Mama akan selalu di sini, sama kamu, Nak." Kata Mama tulus.
Sekarang, setelah sadar bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang cukup bisa dia percaya untuk menjaga Kinara, Mama akan mulai berdoa lebih giat, supaya Tuhan mau mengijinkannya hidup lebih lama supaya bisa menemani Kinara, setidaknya sampai anak ini menemukan seseorang yang benar-benar bisa bertanggung jawab atas hidup dan hatinya.
...****************...
__ADS_1
Sudah hampir setengah satu dini hari, tetapi Kinara belum juga bisa memejamkan matanya. Lestari, si bocah cerewet yang tadi begitu aktif menghiburnya agar tidak bersedih lagi kini sudah terlelap di atas kasur. Bocah itu sama sekali tidak rewel, tidak banyak menuntut dan langsung tertidur setelah Kinara berinisiatif menyanyikannya sebuah lagu.
Sadar dirinya tetap tidak akan bisa tidur meskipun sudah berusaha, Kinara bangkit dari kasur. Dia berjalan menuju meja belajar, menyalakan lampu belajarnya lalu membuka laptop yang telah dia keluarkan dari dalam tas.
Selagi menunggu laptop menyala, Kinara membuka laci nakas, hanya untuk menemukan ponsel miliknya teronggok tak berdaya, masih dalam keadaan mati. Awalnya, Kinara ingin membiarkan ponsel itu mati lebih lama, tetapi setelah dipikir-pikir lagi, dia juga membutuhkan benda itu untuk mendapat informasi seputar hal-hal yang terjadi di kampusnya. Untuk mendapatkan pemberitahuan di grup chat kelas tentang perubahan jadwal, misalnya.
Maka, Kinara meraih ponsel dari sana lalu mencolokkan charger untuk mengisi daya karena dia tidak yakin ponselnya masih memiliki daya yang cukup untuk bekerja.
Kinara meletakkan ponsel ke atas meja, kemudian fokus pada layar laptop yang sudah menyala, menampilkan wallpaper berupa pemandangan langit berwarna violet yang cantik.
Tujuan Kinara menyalakan laptop adalah untuk membuka akun Instagram miliknya. Dia berniat untuk mencari beberapa hal menarik, sekadar menghibur diri sendiri agar tidak berlarut-larut di dalam kesedihan.
Kinara langsung menekan tombol hati, kemudian meninggalkan komentar di unggahan itu sebelum berselancar menelusuri unggahan dari akun-akun lain yang dia ikuti.
Beautiful, as always. Komentarnya, menyusul beberapa komentar lain yang kurang lebih juga berisi hal yang sama.
Kinara menggulir layar, menekan hati lagi untuk setiap unggahan yang dia temui. Sampai akhirnya, dia menemukan postingan dari akun milik Dahayu, yang akhirnya membuatnya terpaku untuk waktu yang cukup lama.
Unggahan itu dibuat beberapa hari yang lalu, menampilkan sosok dirinya dan Dahayu yang tersenyum cerah ke arah Kamera. Foto itu diambil di taman depan kampus, beberapa menit sebelum mereka pulang.
Kinara menghela napas pelan. Kemudian, sama seperti unggahan dari akun-akun lain yang dia ikuti, Kinara juga menekan tombol lagi. Bedanya, setelah menekan tombol hati, Kinara langsung meng-klik profil Dahayu dan langsung menekan tombol unfollow. Bukan cuma unfollow, Kinara juga memutuskan untuk memblokir akun Dahayu, agar mereka tidak lagi saling terhubung di sana.
__ADS_1
Setelah itu, Kinara pergi ke kolom pencarian, mengetikkan user name milik Atha kemudian segera melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan terhadap user name Dahayu.
Berhasil. Kinara sudah berhasil memutus satu akses dengan dua orang itu. Selebihnya, akan dia lakukan pelan-pelan.
Untuk beberapa lama, Kinara kembali merenung. Kalau dipikir-pikir lagi, hidup yang dia jalani sekarang ini persis seperti roller coaster, naik-turun tidak keruan. Baru saja dia berhasil bangkit dari keterpurukan akibat bangkrutnya Papa, sekarang dia juga harus kembali berusaha menarik dirinya bangkit dari pengkhianatan yang begitu menyakitkan.
"Tuhan ... jalan hidup Nara bangsat, ya." Untuk pertama kalinya, Kinara mengeluh tentang jalan hidupnya.
"Kalau sampai nggak happy ending, kebangetan sih. Jadi, tolong bikin happy ending, ya, Tuhan. Pleaseee..."
Usai melambungkan doa itu, Kinara terkekeh geli. Bisa-bisanya dia mengatur bagaimana Tuhan akan menuliskan jalan hidupnya.
"Kalau Tuhan bisa ngomong langsung, mungkin Dia bakal mencak-mencak dan ngatain kamu nggak tahu diri." Monolognya, sebelum pikirannya kembali penuh dengan hal-hal yang terjadi ke dalam hidupnya dalam kurun waktu beberapa bulan ini.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain, ada seorang pemuda yang tengah menatap layar ponselnya dengan senyum yang terkembang sempurna.
Beautiful, as always.
Begitulah komentar yang baru saja dia terima dari akun yang sudah selama berhari-hari di tunggu notifikasinya. Entah kenapa, tetapi sejak awal mereka saling berinteraksi di sosial media ini, dia sudah merasa tertarik pada pemilik akun bernama @cloudsyou itu. Seolah mereka telah lama terhubung, dan semesta sedang mengatur rencana untuk mempertemukan mereka di dunia nyata, dalam waktu dekat.
Bersambung
__ADS_1