
Sesuai dengan yang sudah dia janjikan, selepas ashar, Kinara betulan datang ke rumah Lestari dengan membawa beberapa bungkus biskuit Regal dan es krim berbagai rasa. Langkahnya terayun lebar, senyumnya terkembang sampai ke telinga.
Sejenak, Kinara berhenti di depan pintu rumah Lestari, mencoba mengintip dari celah jendela kaca yang tidak tertutup gorden sebelum melabuhkan beberapa kali ketukan di pintu tersebut.
Tak lama berselang sejak ketukan terakhir dilabuhkan, pintu kayu berwarna cokelat tua itu terbuka dari dalam, menampik sosok Lestari yang sudah cantik dan wangi bedak bayi. Gadis kecil itu mengenakan dres bunga-bunga warna biru muda selutut, rambutnya diikat dua dan gadis itu tersenyum lebar dengan mata berbinar menyambut kedatangannya.
"Aku pikir kamu ingkar janji." Kata Lestari sembari menarik tangan Kinara dan menuntunnya untuk duduk di kursi teras. "Kamu bawa apa?" tanyanya ketika dia menangkap eksistensi kantung kresek di dalam genggaman Kinara.
"Biskuit Regal sama es krim, buat kamu." Kata Kinara sembari menyerahkan kantung kresek itu kepada Lestari yang berdiri di depannya.
"Wah, terimakasih!" seru Lestari girang. Dia melompat-lompat kecil sebelum mendudukkan dirinya di kursi seberang kemudian membawa kantung kresek itu ke dalam pangkuan.
Saat Kinara berpikir gadis kecil itu akan langsung membuka kantung kresek untuk menjarah seluruh isi di dalamnya, dia malah dibuat terkejut ketika Lestari tidak melakukan apa-apa. Gadis kecil itu cuma membiarkan kantung kresek pemberiannya berada di atas pangkuan sembari beberapa kali ditepuk pelan.
"Kamu nggak mau lihat isinya?" tanya Kinara penasaran.
Lestari menggeleng. "Kan, udah kamu kasih tahu."
Kinara tergelak. Benar juga, dia sudah memberi tahu kepada Lestari apa isi di dalam kantung kresek tersebut. Maka wajar jika Lestari menjawab demikian. Hanya saja, apakah wajar jika gadis itu sama sekali tidak berniat untuk mengeluarkan isi di dalam kantung kresek itu, padahal sudah tahu kalau isinya adalah sesuatu yang dia suka?
Kinara tahu dari Sinta kalau Lestari suka sekali es krim rasa coklat. Maka, di antara banyaknya varian rasa yang dia beli, dia membeli yang rasa coklat sedikit lebih banyak ketimbang varian lainnya dengan tujuan agar Lestari merasa senang. Tapi lihatlah sekarang, gadis itu malah tidak berusaha mengintip ke dalam kantong kresek itu sama sekali.
"Aku bilang isinya biskuit Regal dan es krim." Ulang Kinara.
"Iya, aku tahu." Lestari manggut-manggut, dan itu tampak lucu. "Nggak usah kasih tahu lagi, kamu mubazir suara."
__ADS_1
Lagi-lagi Kinara tergelak. Lestari ini cara bicaranya agak lain kalau dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Dari percakapan pendek yang terjadi antara mereka siang tadi saja, Kinara menemukan kalau Lestari bahkan memiliki jauh lebih banyak kosakata yang mungkin belum akan dimiliki oleh teman sebayanya.
"Kata ibumu, kamu suka es krim rasa coklat."
Lestari mengangguk. "Betul sekali."
"Di dalam situ ada banyak es krim rasa coklat, kamu nggak mau buka?"
"Nanti aja."
"Tunggu apa?" tanya Kinara keheranan. "Nanti kalau kelamaan, es krimnya bisa mencair."
"Tunggu Ibu pulang dari warung. Nggak apa-apa es krimnya mencair, soalnya aku juga nggak punya kulkas." Lestari nyengir di akhir kalimat.
Kinara dibuat kicep karena lagi-lagi Lestari mengatakan sesuatu yang sedih dengan nada ceria dan senyum polos tak berdosa. Oke, masalah tidak punya kulkas memang tidak sesedih itu. Tapi, tetap saja, kenapa Lestari bisa mengatakan ketidakpunyaannya dengan nada seceria itu?
Kinara dan Lestari serempak menoleh ke arah sumber suara. Tampak Sinta berjalan ke arah mereka dengan satu kantung plastik kecil warna hitam di tangan kiri dan dompet di tangan kanannya.
"Udah. Tari udah wangi." Jawab Lestari. Dia melompat turun dari kursi, meletakkan kantung kresek yang sedari tadi dia pangku ke atas meja lalu sedikit berlari menghampiri sang ibu.
Dengan tangan kecilnya, Tari merebut kantung plastik dari tangan sang ibu dan menggandeng tangan besar ibunya agar berjalan bersamanya.
"Kamu bawa apa, Ra?" tanya Sinta begitu sampai di teras dan menangkap eksistensi kantung kresek di atas meja.
"Biskuit sama es krim buat Lestari."
__ADS_1
"Aduh, makasih, ya. Tapi lain kali nggak usah repot-repot." Kata Sinta dengan raut sungkan yang kentara. "Kami nggak punya kulkas, jadi agak susah kalau mau menyimpan es krim."
"Maaf, ya, Mbak. Aku nggak tahu." Kini, giliran Kinara yang merasa tidak enak. Dia juga jadi memikirkan nasib es krim di dalam kantung kresek yang saat ini pasti sudah mulai mencair.
Menanggapi permintaan maaf Kinara yang tidak perlu, Sinta tersenyum. Gadis di hadapannya ini sepertinya memang memiliki hati yang terlampau sensitif dan tidak bisa melihat kesusahan orang lain. Berarti, mulai sekarang, dia harus lebih berhati-hati dalam berucap agar tidak membuat gadis ini merasa bersalah atas sesuatu yang tidak dia lakukan.
"Ngapain minta maaf? Kan, kamu nggak tahu kalau kami nggak punya kulkas." Sinta meraih kantung kresek dari atas meja kemudian meraih tangan Kinara dan menuntunnya untuk bangkit dari kursi. "Karena kami ngga punya kulkas, kita habisin es krim ini bareng-bareng, yuk. Supaya nggak mubazir."
Kinara menatap Sinta sebentar, kemudian sedikit menunduk untuk menatap Lestari yang juga sedang menatapnya dengan sepasang mata kecil yang lucu. Lalu, Kinara mengangguk.
Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, tepat ketika sebuah mobil muncul dari arah gang dan melaju menuju rumah Kinara kemudian berhenti tepat di halaman rumahnya.
Dari dalam mobil yang kini sudah terparkir itu muncul dua anak manusia yang saling tatap selama beberapa saat sebelum akhirnya melangkah bersama menuju pintu depan.
Mereka kembali berpandangan setelah berdiri di depan rumah Kinara, sempat berdebat kecil untuk menentukan siapa yang seharusnya mengangkat tangan dan melabuhkan ketukan.
Lalu, karena tidak ada yang mau mengalah, mereka akhirnya menggunakan cara pamungkas. Yaitu, bermain gunting-batu-kertas dengan kesepakatan siapa yang kalah, dia lah yang harus mengetuk pintu di hadapan mereka dan mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada siapa pun yang akan muncul membukakan pintu.
"Gue menang!" seru yang laki-laki, mengepalkan tangan ke udara dengan raut sumringah yang tak bertahan lama sebab gadis di sebelahnya segera mendaratkan sebuah pukulan di bahu yang membuatnya seketika meringis kesakitan.
"Kasar banget lo!" protesnya dengan suara tertahan, tidak ingin menimbulkan keributan.
"Diem!" kata yang perempuan. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat tangannya ke udara. Dalam hati tidak henti-hentinya merapalkan doa, berharap yang akan muncul dari balik pintu bukalah Kinara.
Lalu ketukan mulai dilabuhkan. Jeda dari ketukan yang pertama ke ketukan yang kedua cukup lama, sehingga membuat yang laki-laki geregetan.
__ADS_1
Pada akhirnya, mereka berdua sama-sama melabuhkan ketukan di pintu itu sehingga menimbulkan suara gaduh yang seketika membuat si penghuni rumah berlarian tunggang-langgang untuk membukakan pintu.
Bersambung