After The Rain

After The Rain
Dari Kinara, Untuk Badai yang Membuatnya Dewasa


__ADS_3

Kinara POV


Ketika Papa pertama kali mengabarkan bahwa perusahaannya bangkrut dan kami harus memulai segalanya dari awal, saya merasakan langit di atas kepala saya seakan runtuh. Saya pikir hidup saya tidak akan berjalan baik karena selama hampir dua puluh tahun lamanya, saya hidup dalam kenyamanan berkat gelimang harta yang Papa miliki.


Banyak sekali kekhawatiran yang merundung saya kala itu. Tentang bagaimana saya akan melanjutkan kuliah di saat ekonomi keluarga saya sudah tidak bisa dikatakan cukup. Tentang mimpi sederhana saya untuk liburan akhir tahun bersama dua cinta sejati saya yang saya rela mati demi mereka. Dan masih banyak hal lain yang saya khawatirkan, saya pikirkan setiap malam. 


Lalu saat saya mulai bisa menerima keadaan, dan telah berusaha berdamai dengan apa yang telah Tuhan takdirkan, badai lain datang menghantam.


Kekasih yang begitu saya cintai, orang yang saya beri kasih sayang begitu banyak selain Papa dan Mama, berkhianat. Lebih parahnya lagi, ia berkhianat dengan satu-satunya sahabat yang saya miliki.


Saya marah. Saya kecewa. Saya mengutuk jalan hidup yang Tuhan berikan kepada saya, merasa bahwa saya adalah satu-satunya manusia paling menderita di dunia. 


Kemarahan saya terlalu besar, sampai-sampai saya melupakan begitu banyak hal baik yang telah Tuhan hadirkan sebelum akhirnya merenggut dua orang yang nyatanya mungkin memang tidak pantas untuk terus ada di dalam hidup saya.


Sampai akhirnya, Tuhan menampar saya dengan caranya sendiri. 


Dihadirkannya sosok pengganti, yang bahkan beribu-ribu kali lipat lebih baik ketimbang dua orang yang telah pergi.


Dia adalah Sekala Pranadipa, laki-laki dengan senyum memesona yang kalau dilihat dari luarnya saja, tampak begitu sempurna.


Saya tahu, ketika saya memutuskan untuk masuk ke dalam hidupnya, begitu juga sebaliknya, kami akan saling menemukan luka masing-masing yang disebabkan oleh orang-orang dari masa lalu.


Dan sekali lagi Tuhan menunjukkan betapa berkuasanya Dia dengan tidak menjauhkan kami ketika sisi buruk kami tampak di mata masing-masing. Yang ada, hubungan kami malah dipererat, kepekaan kami terhadap perasaan masing-masing juga semakin dipertajam. Sehingga kami bisa berakhir di pelaminan, menjadi sepasang suami istri bahkan tanpa adanya proses pacaran. 


Lucu. Padahal, sama sekali tidak terbayangkan kalau saya akan berakhir menikah bukan dengan Atha. Apalagi orang itu ternyata adalah seorang laki-laki yang usianya jauh lebih tua, dan pertemuan pertama kami terjadi di tempat yang sama sekali tidak terduga. 


Tapi berkat itu semua, saya menjadi semakin percaya bahwa Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan dua anak manusia yang memang sudah Dia gariskan untuk berjodoh. 


Seakan tidak cukup mengirimkan hanya Sekala yang kini jadi suami saya, Tuhan juga menghadirkan orang-orang baik lainnya kepada saya, membuat saya akhirnya mengerti bahwa Tuhan hanya ingin memberikan yang terbaik untuk setiap umat-Nya. 


Badai yang diberikan kepada saya sangat hebat, menurut saya. Tetapi pelangi yang hadir setelahnya adalah penebusan paling layak yang rasanya tidak akan cukup jika saya hanya mengucap syukur dan mengagung-agungkan nama-Nya. 


Jadi saya telah bertekad, untuk menjaga apapun yang telah Tuhan berikan kepada saya sampai sekarang dengan baik, dan tidak lagi coba-coba merutuki segala hal yang terjadi sebab Tuhan benci itu. 


Dan soal Atha juga Dahayu, saya sama sekali sudah tidak mendengar kabar mereka sejak terakhir kali Atha datang menghampiri saya di Orion dengan keadaan yang kacau. Saya juga tidak berniat mencari tahu, karena menurut saya, menjauh dan menjalani hidup masing-masing adalah pilihan terbaik untuk kami bertiga.


Sebab saya tidak ingin tertawa, jika seandainya hidup mereka ternyata menderita. Pun tidak ingin merutuk dan kembali berkata bahwa Tuhan tidak adil, jika ternyata hidup mereka berdua jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. 


Sekala juga mengatakan hal yang sama kepada saya. Bahwa menjauh dari hal-hal yang menyakitkan bukan sebuah dosa. Itu juga merupakan bagian dari proses penyembuhan. Dan saya bersyukur saya melakukan itu, karena sekarang saya bisa dengan tegas mengatakan bahwa saya sudah memaafkan mereka.


Dari lubuk hati saya yang terdalam, saya sudah memaafkan semua kesalahan yang telah Atha dan Dahayu lakukan. 


Karena saya ingin menjalani hidup saya dengan tenang, tanpa dendam, tanpa ambisi untuk menghancurkan kehidupan orang lain. 


Saya ingin hidup damai bersama keluarga kecil saya, bersama sepasang anak kembar yang kini masih meringkuk nyaman di dalam perut saya. 


"Makanannya udah siap, Bee." Itu suara Sekala. 


Ah ... suami saya itu memang suka sekali menginterupsi saat saya sedang menulis. Katanya, siapa tahu dengan mendengarkan suaranya bisa membuat inspirasi saya bertambah. Padahal nyatanya, suara itu selalu berhasil membuat saya lupa pada segalanya.


Sebab kini, dialah pusat dunia saya.


Berlebihan? Haha ... saya rasa tidak. Jika kalian bertemu langsung dengannya, saya rasa kalian akan mengerti mengapa saya bisa sejatuh cinta ini kepadanya.


"Bee?!"

__ADS_1


"Iya, Sayang!" saya berseru. 


Laptop yang semula sedang saya gunakan untuk mengetik naskah novel baru, saya tinggalkan begitu saja dengan layar yang masih menyala. Kemudian saya berjalan menghampiri suami tercinta saya yang tampak berkacak pinggang di dekat meja makan. Bibirnya sedikit memberengut, lucu sekali.


"Kamu itu lagi bawa dua nyawa lain di dalam diri kamu, Bee, jadi nggak boleh telat makan." Ia bersungut-sungut. Menghampiri saya lalu langsung membungkuk di hadapan saya untuk melabuhkan kecupan di perut saya yang buncit. 


"Cuma bola-bola ubi aja yang dikasih kiss? Ibunya enggak?" goda saya. 


Biasanya, kalau saya sudah mulai bersikap nakal, Sekala akan memelototi saya kemudian mendaratkan sentilan pelan di dahi saya yang lebar. Saya tahu dia melakukan itu karena salah tingkah, jadi saya sering mengulangi tindakan saya menggoda dia karena menurut saya dia tampak menggemaskan dengan rona kemerahan di pipinya. 


"Makan dulu, nanti baru aku kiss." Tangan saya ditariknya pelan, punggung saya dipegangi dan saya dituntun untuk duduk di kursi yang sebelumnya telah ia persiapkan dengan baik. 


Di hadapan saya, sudah terhidang satu mangkuk sup, nasi dan beberapa lauk-pauk yang lainnya. Tidak lupa juga ia menyediakan air minum dan buah-buahan yang telah dipotong-potong menjadi bagian yang kecil.


Sejak pertama kali memboyong saya ke rumah ini, Sekala sama sekali tidak membiarkan saya mengerjakan pekerjaan rumah. Semuanya dia yang tangani, meskipun nyatanya dia adalah laki-laki sibuk yang tetap harus bergelut di luar rumah demi menafkahi istrinya yang kala itu pengangguran. 


"Kali ini harus habis makannya." Kata Sekala lagi setelah ia duduk di samping saya. 


Saya menatap Sekala cukup lama. Menyelami manik gelapnya dengan saksama ketika kilas balik perjalanan kami kembali terhampar di depan mata. 


Rasanya, waktu cepat sekali berlalu, dan saya agak tidak menyukai itu. Karena, saya ingin menua bersama laki-laki ini untuk waktu yang lama. Jadi kalau bisa, saya hendak mengemis pada Tuhan agar berkenan memperlambat waktu supaya saya bisa menikmati detik demi detik kebersamaan kami. Supaya saya bisa merekam banyak kenangan untuk saya simpan di dalam kepala, untuk waktu yang lama. 


"Aku tahu aku ganteng, Bee. Tapi kamu nggak akan kenyang cuma dengan ngeliatin aku kayak gitu." 


Bahkan, kalimat menyebalkan itu tidak terdengar menyebalkan sama sekali karena Sekala yang mengatakannya. Saya juga tidak punya daya untuk mencibirnya, apalagi menyanggah apapun yang ia katakan sebelumnya. 


Sebab bagi saya, lebih dari tampan, Sekala justru terlihat indah.


"Bee?"


Satu alis yang terangkat itu sudah mewakili kebingungan yang tidak diucapkan oleh Sekala. Dan saya membalasnya dengan sebuah senyum yang serta-merta membuat alisnya naik semakin tinggi.


"Aku nggak tahu gimana jadinya hidup aku kalau menikahnya bukan sama kamu," ucap saya, tulus, dari lubuk hati yang terdalam. "Jadi, makasih, ya."


Oh, lihatlah semu merah yang mulai muncul itu. Ya Tuhan ... kenapa Engkau menciptakan manusia selucu ini di dunia? Dan hanya satu?


"Kamu lagi nulis novel romansa, ya?"


"Hmm?"


"Kok tiba-tiba sweet gini?"


"Nggak boleh?"


"Ya ... aneh aja."


"Nggak suka?"


"Suka!" "Suka, Bee. Tiap hari aja kamu ngomong gini. Eh, jangan tiap hari juga sih, nanti aku salah tingkah terus. Seminggu, ah, sebulan sekali aja udah cukup."


Hahaha Sekala lucu sekali ya Tuhan ... untung dia suami saya. Nggak kebayang kalau dia jadi suaminya orang lain, pasti saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk memupuk rasa iri dengki.


"Oke, mulai sekarang, aku akan lebih banyak menunjukkan cinta buat kamu. Biar kamu nggak merasa jatuh cinta sendirian."


"Aku nggak pernah merasa begitu," usai mengatakan itu, tangan saya diraih dan diusap-usap pelan. Tatapan kami terpaku, saling berkejaran menjelajah lebih jauh ke dalam diri masing-masing.

__ADS_1


"Aku tahu kamu udah cinta mati sama aku, Bee. Soalnya aku udah kasih kamu dua bola-bola ubi yang sebentar lagi akan menetas."


Mendengarnya menyebut kata menetas membuat saya tergelak sejadi-jadinya. Ini adalah salah satu sisi lain Sekala yang barangkali tidak semua orang tahu. Laki-laki ini sebenarnya humoris, hanya saja candaan yang ia lontarkan kadang-kadang levelnya terlalu tinggi sehingga hanya sebagian orang saja yang bisa menangkapnya.


"Iya, makasih ya udah kasih aku bola-bola ubi yang imut ini." Kata saya sembari mengusap perut buncit saya sendiri. 


"Makasih juga, karena kamu mau bawa bola-bola ubi ini di perut kamu. Pasti berat, ya?"


"Nggak berat, kok. Mereka anak baik, persis ayahnya, jadi aku sama sekali nggak kesulitan."


"Bee,"


"Hmmm?"


"You know right, how much I love you?"


"Iya," ucap saya.


Lalu kata sudah terasa tidak berguna lagi ketika wajah Sekala tiba-tiba sudah ada di depan saya, dan tanpa aba-aba, bibir saya diraupnya pelan-pelan.


Saya memejamkan mata, lalu mengalungkan lengan saya di lehernya ketika bibir tebal Sekala sudah mulai bergerak di bibir saya.


Sekala orang yang lembut, bahkan dalam caranya berciuman sekalipun. Ia tidak pernah memaksakan apapun terhadap saya. Bahkan, saya masih ingat betapa ia begitu sabar menunggu sampai saya siap untuk disentuh, yang akhirnya hal itu baru terjadi di minggu ke-dua sejak pernikahan kami.


Apa lagi yang mau saya keluhkan kepada Tuhan, kalau karunia yang Dia berikan sudah sehebat ini?


Badai yang menghantam saya di hari-hari lalu rasanya juga sudah tidak menyakitkan lagi. Karena sekarang saya punya penawarnya. Saya punya Sekala, yang akan dengan senang hati menjadi obat untuk segala sakit yang saya derita.


"I love you so much, aku mungkin bakal hancur kalau harus kehilangan kamu." Bisik Sekala usai melepaskan tautan kami.


"And so do I," saya balas berbisik. Kemudian, saya hadiahkan kecupan di hidung mancungnya yang serupa perosotan.


Ia terkekeh. Mungkin mulai bertanya-tanya karena saya begitu sering mendaratkan kecupan di hidungnya, alih-alih bagian tubuhnya yang lain.


Ketika bibir-bibir kami mulai menyatu lagi, saya tahu makanan yang tersaji di atas meja harus menunggu sedikit lebih lama untuk akhirnya bisa saya dan Sekala jamah.


Dan ketika tubuh saya yang bobotnya sudah bertambah banyak diangkat oleh Sekala, dan lelaki itu mulai membawa saya menuju kamar, saya tahu makan malam kami kali ini mungkin akan sedikit lewat dari waktu yang seharusnya.


Sebelum saya sepenuhnya kehilangan kendali atas diri saya sendiri, karena Sekala mulai menyentuh lebih banyak bagian tubuh saya yang lain, saya hanya ingin mengatakan kepada kalian satu hal.


Bahwa setiap manusia yang hidup di dunia ini, memiliki badainya masing-masing. Di mana kita tidak akan pernah tahu seberapa dahsyat badai orang lain karena kita tidak benar-benar ada di posisinya.


Tetapi, apapun bentuknya dan seberapa dahsyat pun itu, badai tetaplah badai. Ia akan menerpa, menyapu, meluluhlantakkan apa yang ia lalui tanpa ampun.


Dan kita juga perlu ingat bahwa badai tidak akan berlangsung selamanya. Ketika ia berhenti, Tuhan telah menjanjikan pelangi. Maka bersabarlah. Hadapi badai itu dengan hati yang lapang, dan doa yang tidak putus. Percayalah, bahwa Tuhan telah mempersiapkan jalan hidup terbaik untuk setiap umat-Nya.


Untuk kalian yang sedang berjuang melawan badai, semoga badai itu lekas berlalu dan kalian bisa segera bertemu dengan pelangi yang Tuhan janjikan.


Sekian dari saya, Kinara Adorelia, untuk kalian, juga untuk badai yang membuat saya menjadi dewasa.


......-Selesai-......


Udah, Wak. Ceritanya udah habis. Tetap semangat ya, Wak. Jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia!


salam, Rain.

__ADS_1


__ADS_2